Jakarta – Peraturan baru dari pemerintah Nepal mengenai larangan pendakian tanpa pemandu dan larangan pendakian bagi penyandang cacat dianggap angin lalu oleh Adrian Ballinger, pemandu Everest berpengalaman tanpa oxygen.

Ballinger menduga peraturan pelarangan tersebut dikarenakan kematian Ueli Steck, seorang pendaki Swiss yang tewas terjatuh tahun lalu. Ballinger menambahkan, sejauh ini tak ada yang mengajukan izin pendakian solo.

Ballinger biasa mengoperasikan ekspedisinya dari Nepal, tapi tiga tahun terakhir ia mendaki dari sisi China. Ia menganggap manajemen China lebih baik daripada Nepal. Menurutnya pada semua “tujuh puncak” tertinggi di setiap benua, masing-masing pemerintah hanya mempekerjakan penjaga kawasan alam Sejauh ini, Nepal belum memiliki satu pejabat pemerintah di atas kemah induk pendakian. “Jadi tidak ada peraturan yang harus kami ikuti”, lanjutnya.

Ballinger menganggap sisi gunung di China memiliki manajemen yang lebih baik. Penambahan camp serta penempatan tali dilakukan oleh pendaki yang dikirim langsung oleh pemerintah. Perusahaan Ballinger, Alpenglow Expeditions, mewajibkan peserta pendakian untuk mendaki lima puncak 6.000 meter dan satu puncak 8.000 meter sebelum mencoba Everest.

Ballinger menentang peraturan baru di Nepal. Baginya, Everest berhak dikunjungi oleh pendaki solo maupun penyandang cacat. Sebagai gantinya, pemerintah harus menerapkan standar pendakian pada calon pendaki puncak Everest yang akan membuat panduan lebih aman. (sho/berbagai sumber)

foto utama : Adrian Ballinger, pemandu pendakian di Gunung Everest tanpa oxygen. (sumber : Adrianballinger.com)

Similar Posts