JAKARTA – Datangnya Bulan Ramadhan seringkali diiringi dengan berubahnya segala macam pola hidup keseharian. Mulai dari istirahat tidur hingga makan. Bagi yang suka olahraga, tidak jarang puasa adalah saat harus berhenti sejenak dari aktivitas latihan. Ketakutan akan rasa haus dan lemas saat olahraga menjadi alasan utama. Apalagi jika sampai mengganggu puasa.

Tapi, sebenarnya berolahraga kala puasa tidak perlu khawatir berlebihan dengan mengetahui beberapa hal mengenai fungsi tubuh ditambah kecerdikan kita untuk mengatur segala kebutuhan sehingga antara puasa dan olahraga dapat berjalan beriringan. Dengan kata lain, dengan mengetahui fungsi tubuh, kita dapat tetap berolahraga di tengah aktivitas ibadah puasa.

berolahraga kala puasa

Lemak Sebagai Sumber Energi

Pada aktivitas berolahraga, awalnya tubuh menggunakan glikogen (cadangan gula darah yang disimpan di hati) sebagai sumber energi. Namun ketika berpuasa, fungsi glikogen akan berubah menjadi penopang aktivitas selama tubuh tidak mendapatkan asupan makanan. Atas dasar inilah seorang yang sedang berpuasa beralasan bahwa berolahraga kala puasa akan menguras tenaga yang sangat besar dan itu berarti menguras persediaan energi yang dihasilkan oleh glikogen. Sehingga, tubuh akan lemas jika berolahraga.

Pada kenyataannya, ketika glikogen sudah terpakai untuk aktivitas seharian penuh, tubuh memiliki mekanisme untuk menghasilkan energi dari sumber lain, yakni lemak tubuh. Energi yang dihasilkan dari pembakaran lemak ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan energi yang dihasilkan dari pembakaran glikogen. Kelemahan dari pembakaran energy melalui lemak tubuh adalah proses pembakarannya memerlukan oksigen, maka hal itu berarti bahwa aktivitas olahraga yang dilakukan harus berada di dalam zona aerobic (tidak melebihi 80% nadi maksimal). Sehingga biasanya aktivitas olahraga seperti lari harus dilakukan dengan agak melambatkan aktivitasnya. Tujuannya adalah agar kebutuhan oksigen untuk pembakaran lemak tubuh tetap dapat terpenuhi sehingga energy dapat dihasilkan.

Trik ini juga sering dipakai oleh atlet profesional untuk melatih tubuh menghasilkan energi secara efektif ketika glikogen di dalam tubuh sudah terpakai. Sehingga, kinerjanya tetap dapat stabil saat beraktivitas berat dalam waktu yang lama.

Mengubah Jam Berlatih

Selain mengetahui fungsi tubuh dan sumber energi yang didapat, kecerdikan memilih jam latihan juga menjadi hal penting. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengukur seberapa lama kita akan berlatih kemudian dicocokkan dengan jam berbuka puasa. Jika jarak berlatih terlalu jauh, maka dikhawatirkan kita harus menunggu terlalu lama untuk mengganti cairan tubuh yang hilang selama latihan.

Sehingga, estimasi waktu yang tepat akan membantu kita tetap memperoleh energi setelah latihan. Terutama dari jam berbuka puasa. Jika kita selesai berlatih dan kemudian sebentar kemudian jam berbuka puasa sudah tiba, maka tubuh dapat mengganti energi yang keluar dengan cepat. Sehingga, kita tidak akan mengalami kekurangan energi terlalu besar yang mengakibatkan kepayahan.

***

Intinya, ibadah tetap merupakan sebuah kewajiban yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Tapi itu tidak berarti harus mengganggu aktivitas dan produktivitas keseharian yang juga sama pentingnya untuk menjalani kehidupan yang terus bergerak penuh dinamika. Butuh kecerdikan dan niat yang sungguh-sungguh untuk dapat menjalankannya berbarengan dengan aktivitas lain. Ibadah puasa bukan halangan untuk tetap berolahraga kala puasa. Karena di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. (firman arif)

Similar Posts