Baik dalam perjalanan ke daerah terpencil, maupun jalan di setapak yang sudah umum, kejadian darurat dapat terjadi. Suasana secepat kilat berubah menjadi asing. Ini mengakibatkan tekanan emosi dan psikologis, yang disebut kejut psikogenik – psychogenic shock. Memahami ini dapat mengurangi dampak.

Reaksi Berbeda Pada Situasi Genting

Setiap orang berbeda reaksinya pada situasi genting. Namun bisa diharapkan reaksi emosional yang sama pada korban yang mengalaminya. Juga pada mereka yang telah melalui situasi genting. Kita dapat mengalami lebih dari satu selama dan sesudah menghadapi situasi genting atau trauma.

Sikap Tanggap Diri Dalam Situasi Gawat

Tanggapan psikologis kita terhadap situasi gawat darurat sangat penting. Data statistik menunjukan 95persen mereka yang tewas dengan trauma psikologis terjadi dalam tiga hari. Kehilangan keinginan hidup – atau mengalami gangguan psikologis yang menghalangi diri menyesuaikan dengan kondisi fisik – ini yang harus diperhatikan. Jika gagal dan patah semangat, kesempatan menanggulangi masalah menjadi kecil.

Perkembangan Psikologis

Sangat bermanfaat untuk mengamati reaksi masing-masing saat situasi gawat darurat. Ini agar kita siap mental untuk menghadapinya. Kita juga akan mengurangi dampak jika yang terparah terjadi di daerah terpencil. Reaksi psikologi normal saat keadaan gawat terjadi dalam empat tahap: Tahap Pra-Dampak; Tahap Dampak; Tahap Penolakan/pegas –recoil; Tahap Paska Trauma. Bukan seperti apa yang dipercaya umum, individu biasanya tidak menjadi panik. Namun jika ada yang panik maka ini bisa menular.

  • Tahap Pra Dampak
    Terbagi dalam dua:
    > Ancaman: Bahaya ada walau nyata bagi yang mengenali. Mereka yang tidak menerima akan bereaksi menyangkal dan tidak aktif.
    > Peringatan: Ancaman bahaya sudah jelas bagi semua peserta, tanggapan kini

 

Tahap Dampak
Saat ini nyawa terancam. Secara statistik masing bersikap salah satu:
> 10-20% tenang dan waspada.
>  Sampai 75% terpana, bingung dan tidak bisa rasional
> 10-20% bersikap ekstrim seperti menjerit

 

  • Tahap Pegas
    Ini kelanjutan dari tahap dampak. Contoh korban kapal tenggelam berada dalam perahu karet. Bisa berlangsung tiga hari walau biasanya tiga jam saja. Ciri reaksi yang terjadi adalah perlahan balik ke kemampuan nalar, kesadaran dan ekspresi emosi

 

Tahap Paska Trauma
Jika tahap pegas tidak berlangsung baik maka perorangan dapat menjadi terganggu secara psikis. Dampak kejadian mulai jelas dan berbagai emosi timbul: bersalah; depresi; cemas; tanpa tujuan dan merasa sedih luar biasa – ini bisa timbul. Biasa disebut Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

 

 

Reaksi Saat Gawat Darurat :

Panik Hiperaktif Bersalah
Panik datang dari rasa takut atas apa yang akan terjadi bukannya dari yang sudah terjadi. Ini biasa muncul saat orang terjebak atau jika ada batas waktu untuk lolos dari situasi Korban yang hiperaktif mudah sekali terganggu perhatiannya. Biasanya banyak bicara dan penuh ide serta sering tidak memberikan usul yang bermanfaat. Korban bisa seperti ini setelah mengalami depresi Sebagian penyitas merasa bersalah karena berhasil selamat. Juga karena merasa tidak cukup membantu lainnya – bahkan ada yang menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpa.
Depresi Marah Bunuh Diri
Orang yang mengalami depresi biasanya duduk saja diantara kekacauan dan reruntuhan hanya memandang kosong dan tidak menjawab pertanyaan. Mereka tidak menyadari sekelilingnya dan tidak bisa menolong diri sendiri. Mereka beresiko tambah celaka. Kemarahan sikap kasar dan bermusuhan adalah reaksi umum saat trauma. Mereka tidak rasional dan bahkan bersikap demikian terhadap regu penyelamat atau petugas medis yang berusaha membantu mereka. Korban bencana diketahui ada yang membunuh diri segera setelah mereka diselamatkan, bahkan dalam beberapa kasus dilakukan saat mereka sudah berada di rumah sakit. Korban harus diawasi dengan cermat.

(Colin Towell The Survival Handbook/DK Press – ads)

Similar Posts