pendakian gunung raung

Gunung Bersih Di Pulau Jawa

BANYUWANGI – Perjalanan kami dimulai dari Kalibaru, Kota Banyuwangi, menuju desa terakhir di Wonorejo, Kalibaru Wetan. Desa yang diapit oleh perkebunan tebu dan kopi seolah tersembunyi dari dunia luar. Kami menginap semalam di rumah almarhum Pak Soeto. Rumah singgah para pendaki ini di penuhi foto-foto kenangan dari yang sudah pernah menjejaki puncak Raung. Bu Soeto adalah penerus Pak Soeto almarhum. Ia ramah menyambut siapa saja yang datang sekalipun tengah malam.

Menuju pos satu, kami ggunakan ojek menyusuri perkebunan kopi teringat Desa Karangan kaki Gunung Latimojong. Kopi, ya kopi yang ditingkat petani hanya dihargai 25 ribu per kilo gramnya membuat hati ini menyesak. Petani apapun selalu tidak pernah merasakan manis jerih payahnya.

Di pos satu menuju pos dua, perjalanan melandai. Sesekali tanjakan menyapa dengan pohon-pohon rindang yang melindungi kami dari teriknya sinar matahari siang itu. Kabut putih menyapu perjalanan kami mengusap lelah dan tetesan keringat dari dahi. Menjelang pos tiga, semak dan perdu merebak duri-durinya menusuk kulit melalui kaus yang kami pakai.

pendakian gunung raung
Bulan purnama di pos tujuh (dok. Hayatdin)

Di pos empat kami membuka tenda, memasak, dan menjerang air panas untuk membuat kopi yang sore itu terasa nikmat  Sambil menyuruput kopi kami bercengkrama. Pagi setelah membakar roti, perjalanan kami lanjutkan ke pos lima, pos enam,  dan pos tujuh. Sepanjang perjalanan ini jalur melandai dan menanjak.

Jalur ini terlihat masih jarang di pijak pendaki karena hampir tidak ada sampah plastik kemasan air mineral seperti dijumpai di jalur-jalur pendakian seperti gunung Gede Pangrango atau Semeru. Gunung Raung relatif bersih  dan masih asri. Sesekali kami menjumpai anggrek yang sedang berbunga berwarna ungu menempel di pohon cemara tua berumur puluhan tahun. (hayatdin)

Foto utama: Sunset di pos 7 Gunung Raung, ketinggian 2876 mdpl. (dok. Hayatdin)

Similar Posts