berlari di tambora

Oleh: Hayatdin

DOMPU – Pada pagi buta sekitar jam 03.00 WIT saya sudah siap-siap di garis start untuk mengikuti Tambora Challenge. Dengan jumlah peserta lebih dari 30 orang, para pelari melesat dengan kencang setelah di beri komando aba-aba hitungan mundur.

Kondisi jalanan berbatu dan hanya diterangani lampu di kepala (headlamp). Kami berlari dari titik nol di Doro Ncanga ke pos minum (water station) ke 1 sejauh 6 kilometer. Padang rumput yang luas walaupun belum terlihat jelas di karenakan matahari masih belum muncul sudah terasa ditambah lagi dengan suara-suara sapi khas Sumbawa yang diternak liar.

Selepas pos air 1 para pelari satu persatu mulai banyak yang berjalan. Medan yang menanjak lah yang membuat pelari mengatur nafas dan ritme lari agar bisa bertahan sampai di pos air 2.  Jarak yang jauh antara pos air 1 ke pos air 2 tentu menguras tenaga dan jalan nya walaupun lebar di penuhi semak belukar setinggi orang dewasa. Semak belukar dan berduri itu mengganggu kecepatan berlari maupun berjalan ditambah perdu dan ilalang itu tajam dan gatal.

Rute Berduri

Di pos air 2 matahari sudah muncul memerah sebagian dengan cepat menunaikan sholat subuh dan minum air isotonik serta pisang. Dahaga sedikit hilang dan badan kembali terasa segar namun sepatu yang sudah penuh pasir terpaksa dibuka dan dibersihkan.  Tanpa banyak-banyak istirahat saya lanjut berlari.

Ujian mulai muncul di rute ini seolah-olah tidak sampai-sampai seorang pelari mengeluh di belakang saya “kok jauh amat ya pos air 3″. Saya pun menoleh dan tersenyum sambil tetap konsentrasi karena kepala sudah terasa berat karena berada di ketinggian. Sebagaimana kondisi jalan dari pos air 1 ke pos air 2, jalanan ke pos air 3 pun di penuhi semak belukar dan tanaman perdu yang berduri sehingga tangan tidak hentinya menggaruk dan mencabut duri yang menempel di jersey.

Memasuki pos air 3, saya melahap air mineral sebanyak dua botol. Perasaan lega dan segar menyergap seluruh tubuh yang sudah penuh dengan keringat. Udara terik di pagi itu memang membuat tubuh saat berlari terbakar dan mengeluarkan keringat yang deras serta membuat kaos menjadi basah kunyup. Namun, setelah menghabiskan dua botol minuman sangat terasa perbedaannya. Apel dan jeruk saya sikat, masukan nutrisi pertama di pagi itu dan sambil terus berjalan karena berlari sudah tidak mungkin.

Sampai Di Puncak

Berlari di Tambora
Hayatdin di bibir caldera Tambora (koleksi Hayatdin)

Hujan menyambut saya di puncak Tambora dengan terus berjaga dan berjalan saya mengitari kaldera Tambora. Gunung Tambora menyisakan kubahan besar kaldera seluas kurang lebih 100 hektar. Letusannya dua abad yang lalu membuat sebagian bumi ini gelap gulita.Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut. Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh.

Kembali turun setelah hujan tidak kunjung reda saya pun menyusuri tapak jalan berbatu seperti saat naik. Dan walaupun sudah tidak kuat untuk belari lagi waktu yang saya tempuh lebih dari cut out time (batas waktu yang ditentukan) habis. Tidak merasa kecewa yang tepenting saya sudah mencapai puncak Tambora setinggi 2850 meter dpl.

Dan yang terpenting saya menyaksikan Allah Maha Besar. Kasih sayang Nya melebihi semua, setiap letusan gunung terjadi dalam selang berabad-abad lamanya. Dan hanya dapat di hitung dengan jari tangan. Namun coba lihat dampak setelah itu tanah dan perternakan semakin subur dan makmur. Nah nikmat yang bagaimana lagi yang kamu dustakan. (*)

Foto Utama: Para pelari di bibir fajar mengejar puncak Tambora dan menghindari cut of time. (Dok. Hayatdin)

Similar Posts