alat panjat

Oleh : Firman Arif

Jatuh hingga bergelantung di tali adalah hal biasa dalam panjat tebing. Bukan hal yang aneh, apabila sewaktu memanjat di cacat batuan vertikal tiba-tiba gravitasi menghendaki berat tubuh pemanjat mendekat ke tanah. Sekalipun jatuh, kegiatan ini dapat diketegorikan aman karena selalu terhubung dengan tali yang dilabuh setiap beberapa meter. Jadi, dapat dikatakan keamanan itu berdasar pada berlapis jumlah pengaman yang dipakai.

PADALARANG – Hari itu masih pagi, Padalarang tidak terlalu terik, Ade dan tiga temannya sudah bersiap dengan segala perlengkapan. Semangat tinggi mendorong mereka cepat-cepat memanjat sekalipun waktu tidur hanya satu jam dan perut belum lagi kemasukan makanan. Ade berpasangan dengan Johanes, pemuda batak bertubuh gempal yang juga memiliki semangat tinggi. Perlahan mereka merayap tebing bertinggi 125 meter itu. Mereka didampingi oleh Ridwan yang lebih senior.

Ade akan mengalami hal berbeda saat nanti ia jatuh. Ia adalah mahasiswa Teknik semester 4. Dalam kegiatan panjat tebing dapat dikatakan masih hijau, baru beberapa bulan setelah lulus pendidikan dasar klub kegiatan luar ruang, ia kemudian menyenangi panjat tebing. Darah muda memang darah yang berapi-api. Sejak awal semester ini,

Tebing Citatah 125 di Padalarang. Tebing di tepi jalan antara Cianjur dan Bandung ini telah mendidik pemanjat tebing Indonesia hingga mendunia. (infobdg.com)
Tebing Citatah 125 di Padalarang. Tebing di tepi jalan antara Cianjur dan Bandung ini telah mendidik pemanjat tebing Indonesia hingga mendunia. (infobdg.com)

Ade dan teman-temannya selalu berlatih ke tebing dua minggu sekali. Tebing Ciampea adalah yang paling baru sebelum terakhir Tebing Citatah kemarin. Bermodal latihan jogging rutin serta panjat di dinding buatan, ia pede memanjat di tebing batuan kapur.

Matahari sudah condong ke Barat. Mereka belum lagi selesai di titik pemberhentian kedua, sekitar 60 meter, setengah dari total tinggi tebing. Memang dasar musim hujan, sudah menjadi jadwal rutin bahwa langit akan mendung lalu akan menurunkan rintik hujan bertubi-tubi. Sementara Ade, Johanes dan teman lainnya masih merayap perlahan di tebing.

Tantangan bertambah. Hingga hujan reda dan jingga matahari mulai bertaburan, Johanes baru selesai merintis jalur hingga puncak tebing. Tenaganya sudah banyak terkuras setelah jatuh dan bergelantungan di tali sampai dua kali.

Tiba giliran Ade membersihkan pengaman tebing yang dipasang oleh Johanes. Ade juga sudah terkuras banyak sekali tenaganya. Ia juga sempat jatuh bergelantung. Sementara sinar matahari sudah meninggalkan Padalarang berganti sinar-sinar lampu. Perlahan Ade naik merayap dan membersihkan. Tenaga yang berkurang memberi sinyal kepada otak untuk mencari jalan lebih cepat. Maka kemudian Ade menggunakan ascender untuk naik tanpa perlu panjat tebing. “Menghemat waktu dan tenaga,” pikirnya.

Hingga pengaman terakhir, Ade kesulitan melepas pengaman karena terbeban oleh berat tubuhnya pada ascender yang ia pakai. Kerja otak ternyata menurun seiring dengan tenaga yang juga berkurang. Ade kemudian memindahkan pengaman pada sabuk kekangnya, seluruhnya. Termasuk yang terhubung pada ascender.

Tanpa sadar, ia refleks mengambil runner—pengaman sementara untuk meletakkan tali guna menambah ketinggian—yang ada pada tempat alat di sabuk kekang. Setelah beban bertumpu pada tempat alat di sabuk kekang itu, Beban tanpa labuh (anchor) Ade terhempas ke bawah hingga ujung tali tempatnya terhubung dengan Johanes. Dapat ditebak, beberapa bagian tubuhnya bergesekan dengan batuan tebing, ia lecet-lecet. Tangannya yang berusaha memegang tali juga tidak luput dari luka.

Menghapus ‘Seandainya.’

Hari itu berakhir dengan penyelamatan Ade dan makan serta minum sebanyaknya di saung termpat beristirahat. Hari itu juga menjadi pelajaran bagi pemuda-pemuda ini bahwa semangat saja belum cukup. Pengetahuan dan mental juga berperan penting. Apalagi untuk panjat tebing yang tidak menyediakan jalan keluar kecuali naik atau turun.

Pengetahuan mendasar seperti mengenal alat beserta fungsinya adalah hal penting. Seandainya Ade paham bahwa fungsi benda melengkung setengah lingkaran yang terdapat pada sabuk kekang di tubuhnya hanya untuk letak peralatan, ia tidak mungkin akan meletakkan beban tubuhnya di sana. Seandainya pula Ade dan teman-temannya paham bahwa kemahiran merapihkan tali-tali di pemberhentian adalah hal penting, maka tidak mungkin mereka memanjat lama sekali.

Kata ‘seandainya’ hari ini adalah pelajaran bagi mereka untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Terlambat tidak akan ditemukan bagi orang-orang yang mau belajar. Modal semangat harus pula diiringi dengan keinginan untuk belajar dalam diri setiap orang yang hendak menginginkan sesuatu yang lebih. Ade, Johanes dan teman lain harus terus memanjat sambil belajar hingga tidak ada lagi ‘seandainya’ dalam obrolan santai mereka di tepi tebing.

Ket. ilustrasi / foto muka  :
Penyangkut alat tersedia di harness panjat tebing. Fitur ini hanya untuk menggantung alat pengaman panjat yang kerap dipakai untuk labuh dengan dipindahkan ke titik labuh dan ke pengaman tubuh. (climbing.about.com)

Similar Posts