Mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Kehutanan Universitas Gajahmada atau yang akrab disapa Mapala Silvagama menjawab kurangnya dokumentasi perjalanan dalam sebuah buku. Selama ini, khazanah buku petualangan yang ditulis langsung oleh pejalan di Indonesia memang terbilang kurang. Maka kehadiran buku ini menjadi salah satu harta yang memperkaya khazanah buku petualangan di Indonesia. Terlebih, buku ini bercerita tentang Taman Nasional, salah satu tempat konservasi yang masih jarang dikenal seluk beluknya.

mapala silvagamaDitulis oleh anggota ekspedisi yang terlibat, buku ini terbagi ke dalam empat bab sesuai dengan Taman Nasional yang dikunjungi. Taman Nasional tersebut antara lain Aketajawe-Lolobata, Bantimurung Bulusaraung, Wasur, dan Lore Lindu. Masing-masing bab berisi satu taman nasional secara khusus. Setiap babnya bercerita mengenai apa saja yang ada di taman nasional tersebut, apa yang khas, apa yang populer, hingga yang tak pernah diketahui oleh pelancong awam. Seperti cerita mereka saat masuk ke dalam Leang Pute sedalam 270 meter di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang terkenal dengan kawasan karst-nya.

Gaya penulisan buku tak dapat dilepaskan dari latar belakang anggota ekspedisi sebagai seorang mahasiswa. Buku ini ditulis menggunakan laras ilmiah populer. Unsur pengetahuan dan fakta diceritakan ulang menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, sekalipun tetap disertakan bahasa baku di dalam ilmu pengetahuan, seperti bahasa latin untuk penulisan jenis-jenis flora dan fauna. Informasi umum mengenai taman nasional yang diceritakan juga tak luput ditulis, juga informasi mengenai masyarakat sekitar taman nasionalnya.

Buku setebal 234 halaman ini sangat layak dibaca untuk mengenal taman nasional sebagai salah satu daerah konservasi yang memiliki kekayaan dan keunikan lingkungannya. Selain untuk mengenal lebih dekat dan memahami apa yang ada di sana, buku ini adalah salah satu alasan untuk tetap mempertahankan lingkungan dengan segala kekayaannya. Buku yang sudah memasuki cetakan kedua ini juga menjadi salah satu penunjuang program besar Mapala Silvagama yang berniat menelusuri 52 Taman Nasional yang ada di Indonesia. Kini mereka baru menyelesaikan 13 taman nasional dari keseluruhan.

Terlepas dari isi yang sangat layak dibaca, juga foto yang tampil apik, serta kualitas cetakan yang bagus, hanya ada satu kekurangan pada buku ini. Pemilihan susunan paragrafnya dipilih rata kiri, sehingga bagian kanannya tidak rata seperti sisi sebelah kiri. (fir)

Foto utama: Para Petarung Sasak, TN Nasional Gunung Rinjani. (sumber: mapalasilvagama.or.id)

Similar Posts