great himalayan race

Tidak ada yang baru dalam mendaki gunung. Begitu kira-kira kalimat pengantar di awal buku ini. Namun cerita-cerita dari tiap pendakian, tidak peduli berapa sering dan banyak orang melakukannya, selalu berbeda. Inilah yang coba ditawarkan dalam The Mammoth Book of Adventures On The Edge.

Ada 32 cerita yang ditulis oleh 32 orang berbeda. Penulisnya adalah para pelaku atau saksi mata peristiwa-peristiwa penting dalam dunia pendakian. Termasuk diantaranya kisah first ascent Matterhorn (4.477meter) pada 1865 dan Everest pada 1953 yang masing-masing ditulis Edward Whymper dan Tenzing Norgay. Atau Conrad Anker yang menuturkan pengalamannya menemukan jasad George Mallory sampai musibah pendakian Everest 1996 yang ditulis Anatoli Boukreev, salah seorang pemandu yang selamat dari musibah.

The Mammoth Book of Adventures On The Edge menjadi semacam ringkasan mini sejarah petualangan, terutama pendakian gunung. Kisah sukses, survival, dan yang paling penting keinginan untuk terus mengeksplorasi kemampuan diri terangkum di dalamnya. Ada perbandingan yang bisa diambil pembaca. Ceritanya dimulai dari akhir 1800-an, masa dimana teknologi maupun peralatan pendakian belum semumpuni saat ini. Hingga yang terakhir ditulis pada 2003, saat Aron Ralston yang kisahnya menginspirasi film 127 Hours, menggunakan ‘teknologi’ yang dibawanya untuk mendokumentasikan dirinya yang bertahan hidup.

Membaca buku setebal 494 halaman ini tidak membosankan. Satu cerita paling banyak hanya menghabiskan 15halaman. Di cerita selanjutnya, pembaca bisa menemukan kisah pendakian dan cara bertutur yang berbeda. The Mammoth Book of Adventures On The Edge juga terasa personal karena ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Pembaca diajak memahami peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu bukan sekedar dalam urutan waktu, tapi berdasarkan apa yang dirasakan penulis pada saat mengalaminya. Yang terasa kurang dari buku ini hanya ketidakmunculan dokumentasi berupa foto-foto perjalanan. (uli)

buku mountaineering

 

Similar Posts