JAKARTA – Wibowo Bowo, pria tubuh tegap besar berusia lewat dewasa. Mengenakan kaos kebanggaan rugby Selandia Baru, All Black. Hitam dengan daun pakis perak. Wajahnya gelap, akrab dengan matahari dan tidak terlihat usianya yang hampir golden age. Dari luar ruang suaranya sudah terdengar hangat dan akrab.

everest base camp
Wibowo Bowo (paling kanan) bersama tim redaksi OCI.Kanan ke kiri, Adiseno, Ade Rahmat dan Ari Nugroho di Rempoa, Jakarta. (dok. Wibowo Bowo)

Wibowo Bowo menghubungi redaksi Outdoor Cafe Indonesia (OCI) menanyakan Elbrus. Ia pun bersedia datang ke redaksi untuk tatap muka. Jelas bukan generasi milenium yang lebih akrab ketemu layar dan mengunduh informasi dari perangkat genggam.

“Saya mau jalan sendiri,” gelegar Wibowo. Ia menjelaskan bahwa setelah pensiun dari bank pemerintah, ia sempat mencoba wirausaha. Saat usianya 57tahun ia diajak mendaki Gunung Gede. Sejak itu ia jatuh cinta pada mendaki. Ia pun mencoba seven summits Indonesia. “Saya tinggal Carstensz, mas,” ujarnya.

Ia belum ke Carstensz karena mahalnya pendakian itu. Lebih mahal dari perjalanan ke Everest Base Camp, yang dilakukannya dua tahun lalu. Sekarang pun ia sudah memegang tiket dan visa Rusia. Lebih murah ke Elbrus gunung tertinggi Eropa daripada ke gunung tertinggi negaranya.

“Saya seminggu lebih dulu dari teman-teman,” cerita Wibowo. Setelah pendakiannya ke Elbrus ia akan kembali ke Moscow untuk janjian dengan teman-teman mengikuti rute kereta ke Irkuts Siberia. Ia pun akan berlanjut ke Monggolia dan ke Beijing. “Nanti teman-teman bubar di Beijing,” ujarnya dan, “saya kalau masih cukup uang akan ke Xian, Kunming, dan terus ke Hanoi.”

Tur kereta seperti ini sudah dilakukannya sebelum ia jatuh cinta pada pendakian. Saat masih aktif, ia keliling 15 negara Eropa pada 1997. “Pulangnya saya jual mobil mas untuk nutup kartu kredit,” maklum pengeluaran yang hemat di Eropa saat balik melonjak tujuh kali lipat karena “krismon”.

Saat ia trekking ke Everest Base Camp, pulang pun tidak langsung. Ia turun ke India dan menikmati kereta api di negara tertua yang memiliki jalur kereta. Begitulah semangat petualangan tersalur selama berkarir di bank merebak setelah pensiun. “Saya cuma bawa dua pakaian saja, nanti sewa di sana, dan kalau naiknya saya ngintil orang lain saja,” begitu ungkap Wibowo tentang rencana pendakian seorang dirinya. Semoga sukses pak Wibowo. Salam hormat. (adiseno)

Foto utama: Wibowo Bowo pensiunan yang jadi petualang Solo, bukan karena asalnya dari Solo Surakarta, tetapi karena akan mendaki puncak tertinggi Eropa tanpa teman. Hanya mengikuti orang lain saja. Wibowo di Everest Base Camp. (dok. Wibowo Bowo)

Similar Posts