Oleh : Adi Seno

JAKARTA – Hanya di cerita fiksi atau film ada pilot terbang perdana solo. Tapi ini benar-benar terjadi. Bukan seperti di film di mana jagoannya terpaksa mengemudikan pesawat karena darurat. Edgar Ekaputra memilih terbang perdana secara solo. Ia menggunakan pesawat Trike Aquilla barunya.  “Setelah di udara, baru mikir, ‘ini mendaratnya gimana?’,” tukasnya dengan senyum-senyum.

paralayang
Edgar Ekaputra, lebih setengah abad usia, lebih tiga dekade olahraga dirgantara. (adiseno)

Edgar yang sejak 1978 sudah menjadi atlit  gantole, mematikan mesin 600cc. Gantole bermesin ternyata melayang laju seperti gantole biasa. Atlit yang dalam buku peserta Kejurnas Gantole 1978 dinarasikan sebagai paling berani diantara ‘Pasukan Berani Mati’ DKI, juga dituliskan kerap crash landing dan dengkulnya sering terbentur. Namun solo terbang perdananya berakhir mulus.

Sampai sekarang,belasan tahun kemudian, Edgar Ekaputra yang sudah lewat setengah abad usianya, masih terbang dengan Trike. Ia berbasis di Lido, Sukabumi. Airstrip kecil dengan panjang 800meter. 200meter kurang dari persyaratan Departemen Perhubungan untuk bisa dibakukan.

Kisah seperti ini tentu mengesankan Edgar seperti seorang yang  “lepas kendali.” “Loose canon,” kalau istilah Amerika yang Edgar dalam pembicaraannya  kerap beralih ganti Inggris -Indonesia. Salah.

“Hidup saya ada lima,”jelas Edgar. Pertama dunia keuangan atau korporasi, kemudian dunia olahraga, ketiga akademi, keempat keluarga, dan yang terakhir spiritual. Dalam dunia pertamanya Edgar adalah mantan Direktur BUMN. Dalam akademi, Edgar Ekaputra mengajar S2 di Universitas Indonesia tiga kali seminggu. Dalam keluarga, putra tunggalnya Imo, in syaa Allah akan lulus dari University of British Columbia, mengambil Finance seperti ayahnya. Sedangkan dalam spiritual Edgar fasih mengenai tasawuf menjelaskan mulai dari  syariah, thariqah, haqiqah hingga  marifat.

Keempat sisi hidup Edgar tidak menunjukan sikap dadakan seperti cerita awal terbang solonya. Bukan seorang tanpa rencana bisa memimpin Danareksa. Ia kini partner senior pada perusahaan kelas dunia, Ernst & Young. Edgar menjelaskan bahwa dunia akademi yang ditekuni adalah amal atas apa yang dicapainya. Ia tegas mengakui pengalaman di finance dan korporasi membuatnya bisa membagi mana teori dan mana praktik dalam dunia nyata.

Atau  mungkin dalam dunia olahraga Edgar menanggalkan semuanya untuk jadi lepas? Salah juga.

“Yang paling sulit dalam semua pengalaman saya adalah membangun trust,” ujarnya. Beberapa aspek trust, seperti kepercayaan dari keluarga, teman, dari korporasi, dari lingkungan, dari masyarakat, dijabarkan dengan fasih, menunjukkan kepiawaiannya menjadi dosen.  Bagi Edgar trust juga pada diri sendiri. Yakni membangun kepercayaan diri – confidence.

Ini mungkin yang bisa menjelaskan diri seorang Edgar Ekaputra . “Saya selalu memilih tantangan seperti pendaki ke Everest,” ungkapnya. Jika kita menjajal yang tersulit maka ketika gagal pun pencapaian kita akan lebih dari orang lain, karena tidak banyak yang berani mencoba. Dan jika berhasil, kita jadi tahu batas diri sendiri.

Ia mengenang saat ditawari posisi tinggi di bank asing, Edgar malah menawarkan untuk membangun divisi baru seorang diri.  Hasilnya tujuh tahun kemudian ia ditawari posisi di salah satu pimpinan BUMN. Hanya sehari waktu yang dikasih untuk menentukan. Hari itu pun ia pamit dari bank asing tempatnya dan memulai karir di lembaga milik pemerintah sampai berhasil menjadi orang nomor persatu di sana.

paralayang
Terbang menyambangi puncak Gunung Salak, hanya hitungan puluhan menit sudah bisa mencapai ketinggian gunung. (adiseno)

Ketika saya diajak joy flight dengan iming-iming menengok puncak Gunung Salak, passion saya dalam hidup, ternyata itu salah satu cara membangun trust dari Edgar. Saat pesawat menukik ke atas, saya jejak kaki sekuat mungkin di tangkai pijakan. Lama-lama pegal dan mengeras otot betis saya. Otak pun menyuruh saya lebih tenang, walau duduk  tanpa alas di bawah, hanya udara, sawah dan perumahan penduduk berkelebat. Rasa takut  perlahan mengelupas. Apalagi ketika Edgar memutarkan lagu lewat Ipod nya. Mengalun Chrisye dan lantunan Lionel Richie membuat rasa percaya saya terbangun.

Ketika hendak mendarat, PK S 077 menukik tajam. Sekelebat ujung landasan rumput dibawah, pohon cemara masih di bagian pucuk yang terlihat. “Kita satu run lagi ya,”ujar Edgar melalui radio langsung ke telinga saya. Landasan yang 800meter dan kebutuhan mendarat hanya 100meter sebetulnya cukup untuk Trike mendarat dari tengah landasan. “Ntar kita kejauhan ke hanggarnya,” tutur Edgar membuat tenang. Kami pun berputar satu kali lagi dan mulus mendarat.

Similar Posts