ogun kanker nasofaring

Oleh: Firman Arif

Ogun sebagai pendaki gunung sudah banyak yang tahu. Pendakian Kanchejunga, Tim Everest Indonesia 1997, dan sederet cerita pendakian lain adalah penyebabnya. Sebuah fakta sejarah yang tak dapat disangkal. Sedang Ogun sebagai seorang penderita kanker tak banyak yang tahu, sampai ia bercerita tentang penyakit itu sembari membagi mimpi untuk pergi ke Everest, sekali lagi. Tentang rencana pendakian ke Everest, bukan tak banyak yang tahu, tapi tak banyak yang percaya. Dengan keadaan sekarang apakah itu mungkin? Mirip seperti mitos yang hanya berkembang dari cerita ke cerita. Tanpa tahu kebenarannya.

Berkebalikan dengan rencananya yang dianggap seperti mitos bagi sebagian orang saat pertama ia bercerita, Ogun adalah sesosok mitos yang hadir di dunia nyata. Ia hadir dari mitos ke dunia nyata justru setelah divonis kanker nasofaring stadium IV oleh dokter. Ogun dengan kanker nasofaringnya, serta statusnya sebagai pendaki gunung, ditambah rencananya untuk terus mendaki selepas divonis (bahkan berencana ke Everest) benar-benar sudah menyerupai sesosok mitos itu. Ogun seperti Sisyphus.

Sisyphus, Ogun, dan Manusia Absurd

ogun kanker nasofaring
Ilustrasi kisah Sisyphus. (sumber: britannica.com)

Sisyphus adalah seorang raja yang dihukum oleh Dewa untuk mendorong bongkahan batu besar ke atas bukit berulang kali. Pengulangan itu karena saat tiba di puncak, batu yang sudah didorong ke atas harus ia biarkan menggelinding hingga kaki bukit lalu harus kembali didorong hingga ke atas, begitu seterusnya hukuman Sisyphus tak pernah ada yang tahu kapan akan selesai. Albert Camus, penulis Prancis keturunan Aljazair, menafsir ulang cerita mitologi karya Homer ini dengan sudut pandang yang baru. Penerima Nobel Sastra 1957 itu menganggap bahwa Sisyphus adalah representasi manusia absurd yang sesungguhnya. Tak ada tujuan, tak ada masa depan. Yang ada hanya ia yang seorang diri mendorong batu ke atas bukit berulang kali. Sesuatu yang sia-sia.

Kisah Sisyphus adalah representasi hidup manusia yang menjalankan kehidupan dari hari ke hari. Bangun tidur, pergi bekerja, pulang ke rumah, lalu tidur kembali untuk bangun di pagi hari dan melakukan hal yang sama berulang kali. Di dalam hidup seperti ini, tak ada tujuan, tak ada harapan. Hidup seperti sebuah batu besar yang harus didorong oleh Sisyphus ke atas bukit. Batu itu merupakan sebuah hukuman, pemberian dari Dewa. Pun dengan hidup, diberikan, tanpa bisa dipilih.

Ogun sebagai pendaki gunung pasti paham tentang itu. Ia sudah berulang kali naik gunung memanggul ransel besar, tiba di puncak, lalu turun lagi ke bawah. Terkesan seperti tak ada tujuan, dan harapan. Hanya melakukan sesuatu yang sama berulang kali. Mengerjakan sesuatu yang sia-sia. Karena alasan inilah kadang beberapa orang enggan naik gunung.

Seperti halnya dengan batu Sisyphus dan hidup manusia, beban ransel adalah teman niscaya yang harus dibawa naik lalu turun lagi, berulang kali. Saat Ogun divonis kanker nasofaring, ia ketambahan satu pemberian lagi untuk menemaninya menaiki bukit dan turun lagi ke bawah dan seterusnya. Ogun benar-benar seperti sosok Sisyphus yang mewujud dalam dunia nyata, tak hanya mitos.

Ogun Memberontak Seperti Sisyphus

Lalu jika hidup memang tentang kesia-siaan belaka, mengapa manusia tidak mengakhiri saja hidupnya dengan bunuh diri? Jika Sisyphus melakukan sesuatu yang sia-sia, mengapa ia tidak berhenti saja mendorong batu ke atas bukit dan berkata tidak atas hukuman itu? Kalimat pembuka dalam buku The Myth of Sisyphus itu benar-benar digunakan oleh Albert Camus sebagai sebuah skeptisisme metodis untuk menarik simpul persoalan lebih dalam.

Sisyphus memang terus mendorong batu ke atas bukit tanpa henti, tapi dengan perbedaan. Albert Camus mengatakan bahwa Sisyphus mendorong batu itu dengan penuh kesadaran. Sisyphus menyadari kesia-siaan yang ia tanggung, beratnya batu yang ia dorong, tak berkesudahannya sebuah hukuman. Tapi di balik itu, Sisyphus sudah melakukan sesuatu yang besar. Ia telah merebut hukuman dari Dewa untuk menjadikannya sebagai milik sendiri. Batu yang selama ini hanya dianggap sebagai pemberian, ia jadikan itu sebagai miliknya sendiri, tidak lagi sebagai hukuman. Ia menyadari semuanya. Dan kesadaran Sisyphus adalah sebuah pemberontakan akan kesia-siaan. Ia memberontak tentang kesia-siaan justru dengan menyelami secara sadar kesia-siaan itu. Tak pernah berusaha untuk keluar darinya.

Sosok Sisyphus nampaknya meresap betul dalam diri Ogun. Bahkan ketika dalam empat kesempatan berbeda ia menjadi pembicara di atas panggung dan diberikan waktu untuk bercerita tentang kanker nasofaringnya, ia selalu mengatakan bahwa ia sedang ‘dianugerahi’ oleh hal tersebut. Pemilihan kata yang konsisten ini menunjukkan bahwa Ogun sadar secara penuh tentang apa yang diucapkan. Ia mengungkapkan apa yang memang dirasakan. Pada titik ini, Ogun sudah seperti Sisyphus yang merebut batu hukuman dari Dewa. Ogun telah merebut ‘penyakit’ yang diberikan kepadanya menjadi sesuatu yang menjadi miliknya sendiri, dengan penuh kesadaran.

Ogun memberontak dengan kesadaran penuhnya menjadikan kanker nasofaring itu sebagai miliknya sendiri. Dan sosok Sisyphus dalam dunia nyata dalam diri Ogun itu semakin kentara kala ia memutuskan untuk terus mendaki gunung. Everest sebagai gunung tertinggi di dunia adalah impian terbesarnya. Dan akan dimulai dengan beberapa gunung sebelum ia pergi mendaki ke puncak pijakan manusia di bumi itu.

Seperti kutipan Albert Camus yang tak ditemui sumbernya namun sangat dikenal, “Don’t walk behind me; I may not lead. Don’t walk in front of me; I may not follow. Just walk beside me and be my friend,” Ogun akan bersahabat baik dengan kawan barunya itu. Ia akan terus mendaki bersama kanker nasofaring di tubuh, seperti Sisyphus dan batunya.

Foto utama: Muhammad Gunawan/ Ogun. (sumber: Instagram @ogun_climb_fightingcancer)

Similar Posts