rudy badil

JAKARTA – Seorang lelaki duduk mengamati hujan yang jatuh semakin deras di lembah sore itu. Matanya mengamati titik air yang jatuh di sela atap sebuah rumah panggung. Di sana, ada puluhan orang lainnya yang tak ingin kebasahan karena hujan. Mereka seperti terperangkap dalam jebakan hujan. Sambil menatap, lelaki itu memegangi tongkat di tangan kanan dan di tangan kiri memegang sebuah tas kecil yang dipangkunya. Lelaki itu adalah Rudy David Badil.

Sekilas pemandangan itu tak jauh dari kebanyakan orang seusianya. Rambutnya sudah memutih dan keriput di kulitnya tak dapat ditutupi. Maklum, usianya sudah 70 tahun. Tapi, dibalik rambutnya yang memutih itu, tersimpan ingatan dan cerita yang nilainya tak banyak dipunyai orang lain, bahkan yang seusianya.

rudy badil
Rudy Badil (kiri bawah) bersama para anggota Warkop Prambors lainnya.

Rudy Badil dikenal sebagai salah seorang pendiri grup Warung Kopi Prambors yang nantinya akan beken dengan nama Warkop DKI. Kepiawaiannya dalam mengolah lawakan sejak zaman mahasiswa sudah tidak diragukan. Badil juga dikenal sebagai salah seorang wartawan yang piawai menulis soal-soal manusia dengan segala sisinya menggunakan bahasa yang enak dibaca. Profesi wartawan ia jalani selama lebih dari 30tahun. Pembaca setia koran Kompas pasti tahu soal kemampuan Badil mengolah kata-kata.

Badil seolah tak meninggalkan sejengkal masa mudanya untuk sesuatu pun. Ia juga seorang yang suka bertualang. Badil tergabung dalam klub mendaki gunung Mapala UI dengan nomor anggota M-033-UI. Ia adalah saksi hidup serangkaian peristiwa petualangan yang dikenang hingga kini. Ikut mendaki bersama rombongan Semeru 1969 yang turut membawa Soe Hok-Gie, hingga menjadi orang yang membawa peti jenazah Norman Edwin dan Didiek Samsu dari Argentina hingga ke Indonesia.

Kegemaran-kegemaran Badil terhadap banyak hal itulah yang membawanya jalan-jalan ke seluruh porvinsi di Indonesia dan belahan dunia. Dasar pendidikan yang Antropologi menjadikan perjalanannya adalah penelitian sekaligus cerita menarik. Seperti peristiwa membohongi petugas bandara di Papua saat akan ke Asmat hingga harus mengajari orang pedalaman Papua untuk menggunakan kursi. “Mereka kaget harus berdoa pakai kursi, karena biasanya duduk di lantai. Kursi itu ‘kan budaya feodal,” katanya menjelaskan dengan naluri Antropolog-nya.

Sore itu, Badil bercerita banyak. Di rumah Panggung itulah sejumlah buku terkenal ditulisnya. Sebut misalnya ‘Soe Hok-Gie…Sekali Lagi’, atau Buku ‘Warkop Main-main Jadi Bukan Main’ yang hingga kini dicetak ulang sebanyak empat kali karena laris dicari pembeli. Badil juga menuturkan sejumlah perjalanan. Semeru 1969, Penelitian Salju di Papua 1972, hingga Ekspedisi Kapuas Mahakam 1994. “Gue waktu itu habisin dana 350 juta. Bawa dua menteri yang mau-maunya gue ajakin masuk-masuk di Kalimantan. Gue juga bawa Warkop buat penghibur,” tutur Badil dengan ceplas-ceplos gaya khasnya. “Jadi yang disambut pas sampai di kampung bukan tim ekspedisi, tapi Warkop,” kenangnya dengan penuh semangat.

rudy badil
Rudy Badil menjadi editor buku kumpulan karya Norman Edwin, yang juga menjadi anggota organisasi pencinta alam Mapala UI.

Cerita pengalaman Badil di sejumlah peristiwa penting sore itu mengalir deras seperti hujan yang masih jatuh mengisi lembah. Peran-perannya tak banyak diketahui khalayak. Sebab ia lebih suka bekerja dibalik layar membangun panggung bagi teman-temannya. Atau bekerja dibalik mesin tik menyusun kata untuk merangkaikan cerita yang dapat diingat walau usia sudah menua. Rudy Badil seperti agen rahasia, berperan penting namun tak pernah terdengar telinga.

Hujan masih mengurung mereka di bawah atap rumah panggung. Badil terus bercerita, dan saya sekali lagi menyempatkan diri menyeruput kopi tanpa perlu di warung dengan gelak tawa. Seperti Badil dan rombongannya di muka corong radio malam jum’at puluhan tahun silam. (firman arif)

Foto utama: Rudy Badil (tengah) saat memberikan pelatihan jurnalisme di kawasan Taman Safari, Bogor, Jawa Barat.

Similar Posts