Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin -Soe Hoek Gie

Jakarta  – Desember 48 tahun yang lalu, seorang pemuda penoreh sejarah menghembuskan nafas terakhir di dekap oleh dinginnya udara dingin gunung Semeru, tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Soe Hoek Gie, nama yang tak asing didengar dalam kalangan komunitas (yang katanya) pecinta alam.

Namanya tenar bukan hanya karena tulisan-tulisannya, Gie juga pelopor komunitas pecinta alam pertama di Indonesia, Mapala UI. Terlahir dengan nama Mapala Prajnaparamita, di Bukit Ciampea, Bogor, pada 12 Desember 1964, Mapala merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa di bawah naungan Universitas Indonesia.

Dalam tulisannya di Bara Eka (13 Maret 1966), Soe Hok Gie menjelaskan bahwa tujuan pembuatan organisasi ini adalah untuk membangun kembali idealisme di kalangan mahasiswa. Gie percaya bahwa patriotisme tidak lahir hanya berdasarkan slogan belaka. Baginya, untuk menjadi patriot yang baik, seseorang harus mengenal rakyat dan tanah air Indonesia secara menyeluruh.

Setelahnya, perkembangan kelompok pecinta alam mulai pesat. Menjalani hobi menjadi rutinitas dan kebutuhan yang seolah jadi candu bagi para pegiat alam. Tak hanya mendaki gunung, pecinta alam mulai dikaitkan dengan segala kegiatan yang menantang adrenalin dengan alam sebagai fasilitator utama.

Ada irisan tipis antara pecinta alam dengan pegiat alam. Pecinta alam merujuk pada sebuah kegiatan atau rasa cinta dengan alam sebagai objeknya. Sedangkan pegiat alam seputar kegiatan yang menjadikan alam sebagai objek untuk menuntaskan misi ataupun pemuas hasrat belaka. Pegiat alam belum tentu seorang pecinta alam, pun sebaliknya, mencintai alam tak melulu harus dibuktikan dengan bergiat di alam.

Pecinta alam seolah merupakan label untuk mereka yang melakukan pendakian gunung, pemanjat tebing, penelusur gua, maupun pengarung sungai.  Padahal, kegiatan yang tanpa didasari oleh rasa cinta dan ingin menjaga, rasanya label tersebut kurang pantas disandang. Seseorang yang hanya bergiat atas dasar pemuas hasrat tanpa ada rasa ingin melindungi, adalah sebatas pegiat kegiatan di alam, bukan pecinta alam.

Entah sebagai pegiat ataupun pecinta, rasa tanggungjawab untuk tetap menjaga dan melindungi sudah seharusnya terpatri dalam diri pemuda Indonesia.

Gie adalah pemuda cerdas yang kritis dan berani menyuarakan kebenaran. Barangkali seharusnya begitulah jiwa-jiwa yang dimiliki pemuda yang mengaku pecinta, ataupun pegiat alam. Seperti yang pernah Gie katakan: Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah.  (sho)

 

Similar Posts