junko tabei mencapai carstensz pyramid

JAKARTA – Nama Junko Tabei juga harus dikenang sebagai salah satu legenda di dalam dunia pendakian. Bukan hanya keberhasilan Sir Edmun Hillary dan Tenzing Norgay yang harus selalu diingat sebagai orang pertama yang mencapai Puncak Everest (8.848 mdpl), tapi juga Tabei sebagai perempuan pertama yang berhasil tiba di sana. Keberhasilan Tabei adalah simbol bahwa alam tidak mengenal batas gender, perempuan tidak melulu harus berurusan dengan urusan lokal. Sesuatu yang berulang kali ditegaskan Tabei saat ditanya mengapa ia mendaki Everest.

Kenangan tentang Tabei tidak hanya milik dunia dengan keberhasilannya mencapai Everest. Kenangan itu juga ada di Indonesia, bersama para pendaki Indonesia juga tentunya. Keberadaan Carstensz Pyramid adalah daya tarik tersendiri bagi kalangan pendaki dunia terlebih pada era 80-an, Renhold Messner mengeluarkan daftar baru untuk tujuh puncak tertinggi di tujuh benua. Bagi Messner, Carstensz Pyramid adalah puncak ke-7 yang lebih tepat karena berada di lempeng yang berbeda dengan enam lainnya. Daftar ini banyak menjadi acuan pendaki dunia, termasuk Junko Tabei.

Mengenal Lewat Buku HPU

Agus Taman adalah satu dari dua orang pemandu yang berhasil mengantar Junko Tabei menapak di puncak Carstensz Pyramid. Jauh sebelum Agus menerima tawaran untuk mengantar Junko Tabei ke Carstensz Pyramid, ia sudah mengenal Junko Tabei. Kata Agus, nama Junko Tabei dulu tercantum di dalam Buku Himpunan Pengetahuan Umum (HPU) sebagai perempuan pertama yang berhasil menapaki puncak Everest. Agus membaca buku itu ketika masih SD. Kenangan itu yang melekat padanya selama bertahun sebelum nanti saat ia kuliah bergabung dengan klub mendaki gunung Mapala UI.

Junko tabei mencapai carstensz pyramid

Keberhasilan Junko Tabei memang patut dihargai lebih karena keberhasilannya berarti pendobrakan terhadap stigma bahwa perempuan hanya boleh mengerjakan hal-hal yang bersifat domestik. Tidak heran jika akhirnya namanya pun masuk dalam Buku Himpunan Pengetahuan Umum sebagai salah satu nama yang harus dikenal karena telah melakukan sesuatu yang tidak banyak orang lakukan.

Ketika bertahun-tahun kemudian Agus dan teman-teman di Mapala UI yang sudah berulang kali mencapai Carstensz Pyramid, mereka akhirnya memberanikan diri membentuk sebuah badan yang khusus untuk memandu para pendaki yang ingin mencapai Puncak Carstensz Pyramid, Trekmate namanya. Pasar utamanya tentu pendaki dunia yang mulai tertular keinginan Seven Summits, termasuk Junko Tabei. Maka ketika tawaran itu tiba, Agus segera saja mengiyakan karena ia kenal sosok yang ingin mencapai Carstensz Pyramid itu. Sang Perempuan Legenda.

Mendaki Bersama dalam Percobaan Kedua Tabei

Sebelum tawaran memandu Junko Tabei diberikan kepada Agus dan Ripto Mulyono, sebenarnya Tabei sudah mencoba mendaki Carstensz Pyramid pada akhir 1980-an. Kala itu ia juga memakai jasa Trekmate, bersama seorang kawan yang juga asal Jepang. Tapi kala itu Tabei gagal mencapai puncak. Akhirnya ia berniat melakukan percobaan kedua di 1992, kali ini bersama Agus dan Ripto yang sudah “mengenal” jalur pemanjatan Carstensz Pyramid karena beberapa kali ke sana.

Jalur yang dipilih adalah melewati Tembagapura yang lebih pendek. Dalam kenangan Agus, kala itu mereka langsung melakukan pendakian hingga ke Lembah Kuning di kaki tebing Carstensz Pyramid, tidak bermalam di Basecamp Lembah Danau-Danau sebagaimana lazimnya. Baru keesokan harinya mereka mendaki tebing batu cadas Carstensz Pyramid setinggi 650 meter. Agus dan Ripto bergantian memasang tali untuk pengaman. Saat itu belum ada tali tetap di tebing maupun di celah besar saat di sudah di punggungan. Sehingga tali harus dipasang sendiri. Setelah tiba di punggungan, mereka berjalan ke kiri untuk menuju puncak. Turun ke sisi selatan mencari tempat yang lebih aman untuk berjalan, lalu kemudian naik lagi hingga tiba di puncak. Naik turun inilah yang harus dilakukan saat itu hingga akhirnya tiba di puncak pada pukul 11.00 WITA.

Kenangan mendaki bersama Junko Tabei saat ke Carstensz Pyramid yang paling diingat Agus justru pada saat turun dari puncak. Saat mendaki Carstensz Pyramid, usia Tabei sudah memasuki 52 tahun. Faktor usia inilah yang kemudian mempengaruhi performanya. Saat turun dari puncak, Tabei, Agus, dan Ripto harus berulang kali rappelling dan jumaring untuk turun dari punggungan puncak Carstensz. Tenaga Tabei terkuras, pegerakan mereka melambat. Sementara cuaca di kawasan Pegunungan Sudirman itu dikenal mudah sekali berubah. Maka saat cuaca sudah mulai memburuk, ketiganya memutuskan untuk berlindung di “kandang babi” sisi selatan punggungan puncak Cartensz.

Agus terkekeh saat menceritakan dirinya saat itu harus berlindung di sana dengan peralatan dan makanan seadanya. Saat itu, ketiganya bahkan harus berbagi kantong tidur untuk menjaga diri dari kedinginan karena hanya ada satu kantong tidur yang dibawa untuk keadaan darurat. Mereka tidur dalam satu kantong tidur bertiga. Satu kantong tidur dimasuki tiga orang, bagian kaki yang utama. Baru pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan ke Lembah Kuning dan langsung kembali menuju Tembagapura.

Bertahun kemudian Junko Tabei kembali ke Indonesia untuk mendaki Gunung Semeru (3.676 mdpl) di Lumajang Jawa Timur. Kali ini tidak bersama Agus. Ia sudah bekerja waktu itu. Hanya yang diingat Agus setelah pendakian ke Carstensz Pyramid itu, Junko beberapa kali mengirimkan foto ketika ia di Everest beserta tanda tangannya, foto saat mereka di Puncak Carstensz Pyramid, dan juga bingkisan berupa peralatan pendakian gunung.

Sabtu (22/10) lalu, Junko Tabei meninggalkan kita semua dalam usia 77 tahun. Sosok yang dikenal Agus sangat perhatian, rendah hati, dan keibuan ini akan terus dikenang karena prestasinya di dunia pendakian. Ia akan menyusul nama lain sebagai legenda bagi penggemar dunia petualangan khususnya di kalangan pendaki gunung. Selamat jalan, Junko Tabei. (firman arif)

Similar Posts