Agi

Oleh: Firman Arif

JAKARTA – Lari adalah gaya hidup masa kini. Masyarakat perkotaan sudah terjangkit wabahnya sejak beberapa tahun lalu. Bukan hanya di dalam negeri, pergi menyeberang negara pun rela dilakukan demi ikut kompetisi lari di negeri orang. Cerita tentang ini sudah banyak ditulis. Namun cerita tentang Fandi “Agi” Ahmad adalah pengecualian.

Agi
Foto ; Dok Pribadi/Fandhi Ahmad

Nama lengkapnya Fandi Ahmad, akrabnya dipanggil Agi. Ia telah menyelesaikan lari sejauh 170 km dengan trek bervariasi dalam jajaran trek Tour du Mont-Blanc. Tidak hanya satu negara, 3 negara ia lewati sekaligus selama lari itu. Total ia lari selama 40 jam 45 menit 40 detik hingga mencapai garis finish. Hingga sekarang, hanya 2 orang Indonesia yang mampu menyelesaikan lomba ini. Agi satu-satunya orang Indonesia yang finish dari 2 peserta asal Indonesia yang ambil bagian tahun lalu. Bukan hanya itu, catatan waktu Agi lebih baik 5 jam dari pendahulunya asal Indonesia, Hendra Wijaya yang finish di tahun berbeda. Agi lebih cepat.

Ultra Trail du Mont-Blanc (selanjutnya disebut UTMB) bukan sembarang lomba. Tidak sembarang orang bisa ikut. Setiap peserta yang ikut harus memiliki poin sejumlah 8 untuk bisa ambil bagian. Federasi Ultra Trail Internasional yang menentukan poin dalam setiap perlombaan. Umumnya, setiap lomba memiliki poin 2, tergantung tingkat kesulitannya. Artinya, setiap orang yang ingin ikut UTMB harus menyelesaikan lomba ultra yang lebih dari 50 km minimal sebanyak 4 kali atau bisa kurang jika lombanya lebih susah. Poin 8 juga tidak boleh didapat dalam waktu yang lama, maksimal hanya berlaku 2 tahun. Oleh karenanya, lomba Ultra Trail ini seperti Olimpiade dalam ajang lomba Ultra Trail. Tingkat kesulitan dan kebanggaannya ada di puncak tertinggi pencapaian seorang pelari Ultra.

Agi bukan lahir dan besar dengan impian menjadi seorang pelari. Sejak kecil ia lebih akrab dengan olahraga lain. Ketika SMA ia adalah atlet panjat dinding. Setelah masuk Universitas, ia juga menekuni panjat tebing dan naik gunung di organisasi yang ia ikuti. Saat itu, lari hanya sebagai olahraga untuk menjaga kebugaran. Atau mentok sebagai ajang persiapan ketika hendak naik gunung. Olahraga ini memang murah meriah, hanya perlu modal sepatu dan baju dry-fit langsung bisa dilakukan. Belum lagi tempat Agi menimba ilmu, Universitas Indonesia yang berada di Depok dikenal dengan lingkungannya yang hijau. Berlari adalah aktivitas menyenangkan dan menyehatkan di kampusnya.

Karirnya sebagai pemanjat kalah moncer dengan mereka yang sedari kecil sudah merayapi dinding-dinding buatan. Akhirnya setelah selang beberapa waktu, ia iseng mencoba ikut lomba lari di kampusnya dulu. Saat itu tahun 2013. Tanpa disangka bahkan oleh Agi sendiri, ia naik podium. Dalam hati ia bergumam “ternyata lomba lari lebih gampang juaranya daripada lomba panjat”. Tapi saat itu ia belum terpikir untuk secara serius berlari untuk perlombaan.

Agi
Foto : Dok Pribadi / Fandhi Ahmad

Di tahun berikutnya, teman-teman dari Komunitas Lari Depok, Derby Runner, tanpa sepengetahuan Agi mendaftarkannya ke kejuaraan Mount Rinjani Ultra. Di kejuaraan ini ia dapat finish dan memperoleh poin 2. Maka selanjutnya mulai terpikir serius mengikuti lomba lari ultra. Akhirnya di lomba Ultra Gunung Semeru ia dapat poin sejumlah 2 juga. Demi menggenapi poinnya menjadi 8, ia kemudian menjadi yang tercepat di Gede Pangrango 100 Ultra (GP 100). Lomba ini dikenal paling sulit di antara lomba ultra lain di Indonesia. tidak heran poin 4 pantas diberikan. Bukan hanya pelari dalam negeri yang mengakuinya, pelari kenyang pengalaman dari berbagai negara juga mengakuinya.

Dengan modal perlombaan menantang di negerinya dan poin yang sudah genap, ia memberanikan diri berniat mengikuti lomba Ultra paling prestisius di dunia. Semua kolega dan kerabat bahu membahu membantu Agi mewujudkan keinginannya itu. Agi sudah bukan lagi membawa nama pribadi, ia juga membawa nama negara di sana. Di 2015, hanya dua pelari Indonesia yang mendapat tiket lomba. Selanjutnya kita sudah tahu apa yang terjadi. Agi berhasil mengibarkan Merah Putih untuk kedua kalinya di negeri Liberté, Egalité, Fraternité itu.

Berlari Ultra Marathon (lari sejauh lebih dari 50 km) bagi Agi sudah bukan lagi melawan pelari lain yang juga berlomba. Melainkan melawan setiap keinginan diri sendiri untuk berhenti dan menyerah. Berlari di tengah hutan dalam gelap dan sendirian bukan hal yang mudah. Mental harus terasah dengan hal-hal seperti itu. Langkah maju berarti terus berpacu dengan waktu yang terus berjalan dan terbatas adanya, sementara berhenti berarti memotong dan menunggu waktu habis tiba. Tidak semua orang dapat melewati tekanan macam itu. Orang-orang macam Agi adalah manusia-manusia tangguh yang penuh pengecualian.

Similar Posts