Rahman Mukhlis saat ini bertugas sebagai Sekertaris Jendral Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI). Dalam serial tulisan yang diunggah Outdoor Cafe Indonesia Rahman Mukhlis membahas keprihatiannya atas berbagai kejadian di lingkungan Organisasi Pencinta Alam (PA) yang mengakibatkan jatuh korban dan pembekuan beberapa organisasi.Berikuti ini tulsan kedua dari tiga tulisan.

Dari Pramuka Ke Pencinta Alam

Melalui kegiatan akademik, mahasiswa belajar untuk menjadi seorang profesional yang menguasai suatu keahlian/bidang/jurusan. Melalui kegiatan non akademik, mahasiswa belajar mengembangkan potensi diri sesuai minat dan bakatnya.

Wadah vital sebagai sarana belajar mahasiswa adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), sebagaimana tertuang dalam UU Republik Indonesia NO.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. UKM adalah wadah aktivitas luar kelas untuk mengembangkan minat, bakat dan keahlian tertentu.

Setiap kampus memiliki UKM yang berbeda. Secara umum terbagi menjadi tiga yaitu UKM bidang olahraga, UKM bidang kesenian dan UKM kegiatan khusus di mana kepencintaalaman atau mapala masuk didalamnya.

Saya pun memilih yang sesuai dengan minat dan bakat saya yaitu UKM bidang mapala  sebagai bagian dari proses hidup saya untuk masa depan..

Ketertarikan saya bukanlah datang begitu saja, tetapi atas proses-proses hidup sebelumnya semasa sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).

Semua berawal dari SMP dimana saya memilih ekstrakurikuler Pramuka. Itulah cikal bakal saya menyenangi kegiatan berorganisasi atau “pergerakan” kegiatan luar ruangan (outdoor activity) dan kegiatan petualangan di alam (adventure).

Melalui Pramuka saya mulai kenal mendaki gunung, walaupun saat itu belum betul-betul mendaki, karena baru sebatas camping di area bumi perkemahan atau di kaki-kaki gunung. Pengalaman pertama berkegiatan di alam itulah yang membuat saya akhirnya jatuh hati terhadap kegiatan petualangan.

Joko Widodo mendapat lencana Melati dalam perayaan ke-53 Hari Pramuka di Cibubur, Kamis (14/8/2014). Jokowi mengaku sudah sejak bangku sekolah dasar ikut Pramuka dan yang paling ia senang mencari jejak, demikian dilaporkan Sabrian Asril dari Kompas .com. (Kompas.com/SABRINA ASRIL)

Ketika Pramuka yang sangat berkesan adalah saat lomba-lomba kepramukaan, Saat itu saya meraih berbagai prestasi baik perorangan ataupun kelompok yang rasanya menyenangkan sekali.

Namun, saat itu saya belum menyadari tentang pentingnya berorganisasi, saya hanya berpikir tentang kesenangan mengikuti kegiatan saja,

Saat itu orientasi saya masih fokus di akademik dan hampir setiap semester saya masih bisa meraih peringkat tiga  besar di kelas. Di benak saya saat itu saya tetap memiliki cita-cita sebagai akademisi/ilmuwan/insiyur untuk masa depan.

Pendakian Pertama

Pilihan jalur akademisi/ilmiah sebagai cita-cita semua berubah sejak Kelas 1 SMA semester 2. Sesaat setelah saya mendaki gunung yang pertama kalinya dan resmi dilantik anggota ekstrakurikuler pecinta alam, saya seperti menemukan jiwa saya dan jalan hidup saya.

Pengalaman semasa mengikuti pendidikan dan latihan dasar pecinta alam SMA banyak berpengaruhi, Pemikiran saya menjadi lebih terbuka dan luas. membentuk karakter dan kepribadian saya. Menjalani petualangan bukan lagi sekedar hobi, kesenangan belaka, tetapi benar-benar sesuatu yang sudah sangat menjiwai dalam diri saya.

Sejak itu saya lebih banyak meluangkan waktu di kegiatan pecinta alam dibandingkan akademik. Alhasil, akademik saya pun menurun.

Saya tidak kecewa, karena di pecinta alam saya banyak mendapatkan yang baru, menantang dan menenangkan jiwa. Jika banyak yang bilang masa-masa SMA adalah masa paling indah, maka saya sepakat dengan kalimat itu. Saya menemukan jalan hidup saya melalui pecinta alam.

Waktu terus berjalan. Saya memasuki dunia perkuliahan. Saya masuk pilihan kedua jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Sebenarnya impian awal saya ketika Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN), jadi pilihan pertama saya jurusan Geografi Universitas Indonesia. Namun kenyataan tidak saya sesali.

Di pikiran saya walaupun saya tidak bisa belajar maksimal di jurusan impian, namun saya  tetap punya banyak kesempatan belajar lain di UKM yang ada di UNJ. Tekad saya pun semakin bulat untuk masuk mapala. Akhirnya ketemulah saya dengan satu-satunya mapala yang ada di UNJ yaitu Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) Eka Citra UNJ.Segera saya memulai proses menjadi anggota mulai dari Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar).

Mahasiswa merupakan “agent of change,.kaum intelektual muda sebagai generasi penerus bangsa dan calon-calon pemimpin.“

Pilihan kembali melanjutkan kegiatan pecinta alam bukanlah tanpa tantangan, Bahkan dari keluarga sendiri. Orang tua saya awalnya melarang. Pertimbangkan mereka akan menggangu akademik, menghabiskan banyak biaya, waktu, dan beresiko tinggi. Ditambah lagi dengan berbagai sentiment-sentimen negatif yang khas melekat di kalangan anak pecinta alam atau mapala.

Pelan-pelan saya coba meyakinkan mereka, bahwa kegiatan mapala sangat bermanfaat dan positif, “Saya siap bertanggung jawab atas segala resiko yang mungkin terjadi pada diri saya. “

Setelah enam bulan mengikuti Diklatsar, saya pun resmi dilantik. Selama enam tahun menempuh perkuliahan hidup saya lebih banyak dihabiskan aktivitas kegiatan mapala dibandingkan akademik. Walaupun begitu. saya tetap tanggung jawab akademik dengan berhasil menjadi sarjana.

Pelan tapi pasti kepercayaan orang tua pun semakin besar dan menjadi bangga atas pilihan hidup yang saya jalani. Beberapa pengalaman dan prestasi di mapala saya ceritakan sehingga mereka benar-benar memahami. Berbagai perubahan hidup positif selama belajar di mapala juga saya terapkan di rumah. Keluarga pun bisa merasakan manfaat dan melihat perubahan diri saya.

Tidak hanya sampai disitu, kepercayaan dan kebanggaan orang tua pun semakin terlihat saat ini. Disaat saya kini dapat menjalani profesi berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan selama mengikuti pecinta alam dari sispala sampai dengan menjadi mapala. Saya berprofesi pemandu gunung. (*)

Foto Utama:

Arung jeram telah berkembang dari kegiatan petualangan dan penjelajahan menjadi wisata petualangan yang bahkan memungkinkan anak-anak dapat menikmatinya. Perubahan ini karena para aktivis pencinta alam mengembangkan kegiatan mereka menjadi massal. (dok. Arus Liar)

Similar Posts