pembinaan mental pencinta alam

Oleh: Adiseno

JAKARTA – Tiga siswa didik pencinta alam tewas. Bukan yang pertama ketika Mapala Universitas Islam Indonesia, dibekukan akibat kefatalan mendidik. Sebelumnya Sabhawana SMA 3 Jakarta juga menelan akibat teledor dalam pembinaan. Terpidana dan tersangka tindak kekerasan penyebab kejadian tragis yang sulit dimaafkan.

Keduanya karena para pelatih, senior di organisasi, melampaui batas. Padahal pencinta alam adalah mereka yang mampu mengetahui batas diri untuk bisa bermain ke alam yang punya mau sendiri. Alam kadang ramah, kerap kali kejam. Hidup diantara kedua ekstrim itu membutuhkan kemampuan fisik, keterampilan teknis, kemampuan mental/kemanusiaan, dan  pemahaman fenomena alam. Begitu pandangan Colin Mortlock, pakar pendidikan petualangan.

Setiap pendidikan pencinta alam akan mencakup pelatihan keempat unsur itu.  Jika melatih fisik mudah mengukur dengan menggunakan metoda sport science. Ukuran kemampuan fisik peserta, dan berikan program latihan yang sesuai. Alat ukur, apa dan bagaimana yang diukur, pilihan program banyak sekali literatur dan pakarnya. Di setiap daerah yang punya pelatih olahraga, yang punya fakultas ilmu olahraga punya sumberdaya ini.

Keterampilan teknis pun mirip dengan kemampuan fisik. Literatur keterampilan hidup di alam terbuka, mendaki gunung, panjat tebing, arung jeram, dan penelusuran gua ada di mana-mana. Induk organisasi nasional pun sudah ada, standar kepelatihan juga tersedia.

Pemahaman fenomena alam, kapan hujan badai, seberapa besar kemungkinan longsor, sudah ada ilmu pengetahuannya. Mengenai cuaca ada badan negara yang bisa membantu pelatih pencinta alam, yakni Badan Meteorlogi dan Geofisika – BMG.

Ketiga unsur itu tidak sulit mendapatkan ukurannya, mencari program pelatihan dan memahami hasil yang dicapai para siswa didik. Mudah menetapkan program tanpa unsur hukuman, apalagi kekerasan. Kemampuan siswa menyerap adalah reward dan ketidakmampuannya punishment.

Unsur kemampuan mental bisa diukur, tetapi sulit dipastikan. Dalam terjemahan istilah Mortlock, pembinaan mental ini disebut unsur kemanusiaan. Artinya membentuk manusia yang sesuai dengan kiprahnya di alam terbuka. Membentuk manusia ini dalam organisasi Pencinta Alam akan diimbuhi jiwa korsa organisasi. Kesepakatan dalam organisasi yang membentuk budaya organisasi merupakan perjalanan panjang. Jalan pintasnya dalam bentuk kode perilaku anggota yang didasari jiwa korsa.

Pada dua organisasi tertua pencinta alam, di mana kebetulan saya menjadi bagiannya, Mapala UI dan Wanadri, pembentukan budaya organisasi masih berlanjut. Sudah lebih setengah abad kedua organisasi ini.

Yang satu berdialog mengenai apa peran non mahasiswa dalam organisasinya. Beberapa kali AD/ART diusulkan dan sudah diubah, jawaban belum tuntas. Dari satu angkatan muda memanggil seniornya dengan nama, padahal beda usia bisa sampai lima sepuluh tahun, sampai sekarang para junior mengimbuhkan abang kepada seniornya yang lebih tua usianya dari orang tua mereka. Budaya egaliter masih dibentuk. Tentu jadi sulit bagi pelatih “membina mental” untuk mendapatkan manusia organisasi yang akan setara walau usia mereka sejarak anak-bapak.

Di lainnya, setiap awal penyelenggaraan pendidikan dasar. Para pelatih dan anggota organisasi membahas apakah perlu hukuman tempeleng. Sebagian berargumen metode itu sudah ditinggalkan di militer yang menjadi acuan awal organisasi. Lainnya menjamin bahwa disiplin dan semangat pantang menyerah bisa terbentuk dari sengatan pembinaan ini. Training for trainers diadakan dan lembaga pengawas, “Tatib” dibentuk.

Dan dialog masih akan berlanjut. Kedua organisasi akan berevolusi dan sejarah yang akan mencatat.

Sejarah sudah mencatat kekeliruan yang kriminal. Kita pun jadi bertanya bagaimana agar tidak terjadi?

Petualangan itu menguji batas kemampuan tanpa celaka. Mengukur kemampuan, mengukur alam, dan bertindak. Para pelatih, jika tidak bisa mengukur kemampuan maka dia belum terbentuk menjadi pencinta alam. Masih harus membina diri dalam fisik, teknik, mental dan pengenalan alam. Sampai kita tahu batas membina untuk peningkatan siswa,bukan untuk meruntuhkan mereka, jangan masuk ke “alam pelatihan.”

Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that. Begitu Martin Luther King dikutip oleh Todung Mulya Lubis dalam pidatonya menyambut Yap Thiam Hien Award, penghargaan kemanusiaan, Rabu (25/1) lalu. Mungkin patut diingat bagi para pelatih sebelum menampar siswanya.

Foto utama: (sumber: Fanpage Facebook Pendidikan Dasar Wanadri) 

Similar Posts