Rahman Mukhlis, Sekertaris Jendral Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI). Dalam serial tulisan yang diunggah Outdoor Cafe Indonesia Rahman Mukhlis membahas keprihatiannya atas berbagai kejadian di lingkungan Organisasi Pencinta Alam (PA) yang mengakibatkan jatuh korban dan pembekuan beberapa organisasi.Berikuti ini tulsan terakhir yang ketiga.

Empat Kompetensi Mapala

Kini saya menjalani profesi sebagai pemandu wisata gunung, instruktur dan konsultan kegiatan petualangan. Profesi yang dibilang baru dan jarang. Profesi yang sejak saya kecil sampai kuliah tidak terpikirkan,

Kompetensi dan pengalaman saya berorganisasi di mapala sangat mendukung profesi saya. Ada empat hal yang mendukung, pertama belajar mengembangkan karakter positif, lalu mengembangkan hubungan interpersonal dan tanggung jawab sosial, selanjutnya persiapan karier dan pengembangan profesi, dan yang terakhir mendapatkan kompetensi khusus.

  1. Belajar mengembangkan karakter positif dalam diri melalui mapala

Hal yang paling mendasar yang mempengaruhi kualitas hidup adalah karakter. Karakter merupakan identitas yang tampak dari sikap dan perilaku sehari-hari. Karakter terbentuk dan dibangun melalui kehidupan keluarga, lingkungan rumah, sekolah, organisasi serta pengalaman hidupnya.

Mapala dalam pengembangan sumber daya manusianya menekankan pendidikan karakter. Seorang mapala harus berkarakter kuat dan positif. Tujuan utama diklatsar (pendidikan latihan dasar) adalah membentuk karakter anggotanya sesuai wawasan kebangsaan, kode etik pecinta alam, ranah kegiatan dan budaya khas organisasi.

Saya merasakan sekali belajar mandiri, berani, disiplin, sigap, tangguh, semangat, percaya diri, rajin, ulet, tanggung jawab, jujur, empati dan pantang menyerah.

Kami dilatih untuk mandiri dalam setiap aktivitas, seperti masak dan membuat tempat perlindungan/bivak untuk tidur. Belajar disiplin mengikuti setiap aturan yang telah ditentukan. Belajar percaya diri dan berani menghadapi setiap tantangan dan masalah yang ditemui. Belajar untuk selalu bersemangat, rajin, ulet dan pantang menyerah dalam menjalankan tugas-tugas. 

  1. Belajar mengembangkan hubungan interpersonal dan tanggung jawab sosial melalui mapala

Mapala berasal dari latar belakang yang berbeda. Mulai dari bebeda jurusan kuliah, fakultas, karakter, suku, agama dan ras. Semua terikat dalam satu ikatan persaudaraan yang kokoh sesuai dengan azas kode etik pecinta alam.

Terasa sekali bagaimana di mapala kita harus belajar mengembangkan hubungan antar anggota dengan baik, dari segi perkataan dan sikap dalam berinteraksi. Saya merasakan harus belajar berkomunikasi yang baik antara sesama teman sebaya, senior maupun junior. Terjalin komunikasi yang efektif, akrab namun dengan tetap memperhatikan etika sesuai dengan statusnya masing-masing.

Selain itu, selama aktif di mapala berhubungan dengan banyak pihak mulai dari para pimpinan Universitas, lembaga Pemerintah, Swasta sampai masyarakat desa di kaki-kaki gunung.

Saya juga belajar untuk memahami karakter orang, belajar berempati terhadap sesama, belajar membangun persaudaraan satu sama lain, saling membantu tanpa memandang latar belakang. Saling bekerja sama dengan baik.

Pengalaman di mapala juga membangun kepedulian terhadap alam, lingkungan dan sesama manusia, Aktif dalam kegiatan tanggap bencana, mapala merupakan bagian terdepan yang siap turun langsung ke lapangan, sebagai wujud pengamalan tri dharma perguruan tinggi yang ketiga yaitu pengabdian masyarakat.

Rahman Mukhlis (kiri) dan Sofyan Fesa ketika memandu ke Kilimanjaro gunung tertinggi benua Afrika. (dok. Rahman Mukhlis)
  1. Belajar persiapan karier dan pengembangan profesi dari pengalaman di mapala

Proses pengembangan kapasitas diri melalui bekal kompetensi dan pengalaman berorganisasi di mapala bermanfaat dalam membangun persiapan karier dan pengembangan profesi. Implementasi dari pelatihan kepemimpinan, membangun dan membiasakan etos kerja, kemampuan manajemen dan belajar bekerja sama dalam tim.

Setelah pendidikan, pembelajaran yang terjadi berikutnya adalah belajar menjadi panitia kegiatan dan pengurus organisasi. Disinilah proses pembelajaran yang dinamikanya sebagai bagian persiapan karier di masa depan.

Saya mengalami bagaimana saya bisa belajar menjadi pemimpin lewat tugas dan tanggung jawab yang diberikan saat di mapala. Saya belajar bagaimana jika punya ide atau diberikan tugas kemudian laksanakan ide dan tugas tersebut dengan sungguh-sungguh serta pertanggungjawabkan agar baik dan sukses. Dari pengalaman tersebut saya belajar bagaimana untuk komitmen dan tanggung jawab secara professional.

Saya belajar di kepengurusan dalam menjalankan tugas harus visioner, sungguh-sungguh, mengusahakan dengan kerja keras, pantang menyerah menghadapi permasalahan kegiatan, ulet, kreatif dan selalu optimis dalam mencapai tujuan.

Saya rasakan khususnya saat tiga kali menjadi pimpinan kegiatan ekspedisi besar tingkat nasional dan internasional,

  1. Belajar kompetensi khusus dari kegiatan mapala

Saya adalah bagian dari orang-orang yang menekuni profesi berdasarkan hobi dan passion-nya. Sejak masa SMA saya memulai hobi mendaki gunung, yang kemudian berkembang menjadi passion dalam diri saya  Saya mendapatkan kompetensi profesi saya ini bukanlah melalui kegiatan akademik di dalam ruang kelas, tetapi saya peroleh melalui kegiatan saya di mapala.

Di mapala saya terdapat empat bidang kompetensi yaitu mendaki gunung, panjat tebing, arung jeram dan susur goa. Saya memilih divisi mendaki gunung sebagai fokus pengembangan diri saya. Seiring dengan perkembangan zaman kegiatan mapala dari empat bidang tersebut kini sudah bukan menjadi petualang minat khusus yang hanya diminati dan digeluti oleh kalangan mapala atau pecinta alam saja, tetapi sudah mulai memasyarakat digeluti oleh berbagai kalangan dan usia. Sebagai wisata..

Ini mendorong pula terciptanya pengembangan bisnis dan profesi yang berbasis kompetensi contohnya, pemandu wisata gunung.

Jika profesi itu sejalan dengan kegiatan mapala, itu akan lebih terasa manfaatnya karena secara kompetensi teknis telah dipelajari, secara sikap, mental dan etos kerja juga telah dilatih.

Namun, jika profesi yang dijalani tidak sejalan dengan mapala, itupun juga tidak menjadi masalah. Bekal pendidikan karakter di mapala, sikap, mental, etos kerja, kemampuan interpersonal,kemampuan kepemimpinan dan kemampuan sosial itu sangat menunjang profesi apa pun.

 

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi inspirasi seperti apa pengalaman  di mapala yang membuat saya begitu merasakan manfaat besarnya dalam hidup. Semoga juga dapat memotivasi rekan-rekan mapala yang sedang aktif saat ini dan bagi masyarakat luas dapat membuka pikiran lebih objektif lagi dalam memandang keberadaan sebuah entitas “Mahasiswa Pecinta Alam”. (RM)

Foto Utama

Pemandu gunung seperti pada pendakian Gunung Merbabu berperan selain menunjukan jalan bagi pendaki juga memberikan informasi mengenai tempat tempat berkemah dan perencanaan pendakian guna ketersediaan air minum. (dok, Fit@Fifty/Nizar Suhendra)

Similar Posts