jalur pendakian ilegal

JAKARTA – Kabar duka tentang meninggalnya seorang pendaki di Gunung Pangrango menghiasi pemberitaan di antara riuhnya kembang api tahun baru. Bukan apa-apa, ingatan orang tentang meninggalnya seorang pendaki di Gunung Mas juga belum hilang dari ingatan, ditambah pendaki hilang yang beberapa hari sebelumnya juga menghiasi pemberitaan. Terlebih, Gunung Pangrango adalah Gunung yang relatif nyaman karena jarang penuh sesak.

Sehari sebelum kejadian tersebut, saya dan beberapa orang teman juga mendaki ke Pangrango. Sama seperti korban tersebut, kami juga lewat jalur ilegal (menurut petugas, korban mendaki seorang diri lewat jalur ilegal). Sampai pada bagian ini, saya ingin menggarisbawahi beberapa hal. Pertama, jangan buru-buru memberi penilaian terhadap tindakan ini. Kedua, coba untuk pahami lebih dulu sebelum memberi penilaian.

Yang saya tahu, di dalam disiplin kriminologi, sebuah tindakan kriminal dikategorikan setidaknya ke dalam dua hal. Pertama, tindakan kejatahan. Kedua, tindakan pelanggaran hukum. Ada sebuah tindakan yang termuat ke dalam keduanya. Tapi, ada pula tindakan yang termuat dalam salah satu kategori saja. Dalam soal mendaki gunung lewat jalur ilegal, jelas itu melanggar hukum, tapi bukan sebuah kejahatan.

Tak ada pembenaran atas hal itu. Sebuah tindakan melanggar hukum tetaplah sebuah pelanggaran. Tetapi, ada sejumlah alasan yang perlu dipahami. Saat ini, mendaki sudah menjadi tren di kalangan genersi muda yang katanya generasi Milenial. Sejalan dengan itu, rupanya hobi keluar masuk hutan masih menjadi kegiatan yang disamakan dengan kegiatan di kota. Dalam soal buang sampah tentu dapat jelas dilihat persamaannya. Padahal, keduanya jelas berbeda. Gunung tidak sama dengan kota. Tidak ada yang memiliki kewajiban untuk membersihkan sampah selain kita sendiri.

keselamatan pendakian
Sejumlah jalur pendakian menuju Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Dari 15 yang tercatat, hanya 3 (Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana) yang ditetapkan sebagai jalur resmi pendakian oleh TNGGP (dok. Mapala UI).

Kembali kepada soal jalur ilegal, saya sadar itu adalah sebuah tindakan pelanggaran. Saya pun tahu ada sanksi atas hal itu. Saya menghargai pihak pengelola yang membuka beberapa jalur pendakian untuk memudahkan monitor atas berbagai kemungkinan. Saya pun sadar akan segala resiko yang akan terjadi jika saya melewati jalur ilegal. Termasuk kemungkinan tersesat dan mengalami kecelakaan yang pada akhirnya harus masuk ke dalam keadaan darurat.

Saya sadar akan semua itu. Bahkan, bagi saya, saat hendak mendaki gunung, saya selalu menanamkan pikiran dalam diri saya bahwa gunung adalah tempat yang berbahaya. Oleh karena itu, sebelum mendaki gunung, persiapan yang saya lakukan harus benar-benar serius. Seperti saat mendaki ke Pangrango sehari sebelum mayat itu ditemukan, saya dan teman-teman membawa Peta Topografi AMS keluaran 1953 yang sudah digunakan sejak dulu lengkap dengan kompas, protaktor, hingga peluit dan tali-talian untuk mengantisipasi keadaan darurat. Semua itu saya lakukan karena kesadaran bahwa gunung adalah tempat yang berbahaya. Tidak ada benar atau salah, yang ada hanya alam liar dengan segala kemungkinannya. Seperti dikutip pendaki legendaris Reinhold Messner dalam bukunya.

Jalur pendakian hanya soal legalitas, tapi sebenarnya tidak ada seorang pun yang berhak melarang orang untuk mendaki gunung. Sejalan dengan itu, segala resiko harus disadari dan mungkin saja bisa menimpa kita kapan saja. Soal korban yang harus dibawa turun, itu soal lain. hal itu adalah soal bagaimana kita ingin menggunakan kebebasan untuk menolong orang lain.

Pada akhirnya, tetap kepentingan alam lah yang harus diutamakan. Saya pun sadar saat mendaki lewat jalur Ilegal, justru karena agar saya dengan mudah mengontrol diri saya dari perilaku yang tidak bersahabat dengan alam. Sampah yang tertinggal akan dengan mudah dikenali karena hanya saya yang lewat sana. Saat saya alpa akan hal tersebut, pada saat mendaki melewati jalur yang sama, saya mungkin akan menemukan sampah yang sama masih tergeletak  di sana dan hal itu pertanda bahwa saya harus membawanya kembali turun ke bawah. (rif)

Foto utama: Puncak Gunung Pangarango terlihat dari kawah Gunung Gede (dokumentasi Dedy Aloy)

Similar Posts