Panjat tebing Indonesia

Oleh: Adiseno*

Dalam pembukaan anggaran dasar orisinal Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) tertera:  Bahwa dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa dimana kami berlindung, insan panjat tebing di Indonesia sepakat dan berketetapan hati, untuk membentuk dan mendirikan suatu organisasi dalam bentuk federasi kegiatan panjat tebing yang bersifat nasional dan berfungsi sebagai inisiator, regulator, fasilitator, koordinator, dan dinamisator setiap bentuk kegiatan panjat tebing diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mukadimah ini dijabarkan menjadi pasal-pasal yang mencakup domisili, tujuan, sifat dan fungsi.

Pada 21 April 2016 ini FPTI berulang tahun ke 28, setelah pada 1988 pemanjat yang berasal dari Jakarta Bandung, dan kota lainnya, mereka yang tergabung di Skyger, Mapala UI, Wanadri, Craggy dan  perhimpunan pecinta alam lainnya mendeklarasikan organisasi yang sekarang adalah induk olahraga panjat tebing di jajaran KONI.

Deklarasi dan pendirian serta legalitas yang didokumentasikan dalam Anggaran Dasar menjadikan FPTI ‘pemerintahan’ panjat tebing di Indonesia.

Jelang usia ke 28 pada Selasa (19/4) seorang pemanjat lomba terjatuh, lepas dari tali pengaman. Korban yang jatuh lebih dari 10meter, walau dirawat masih selamat.

FPTI mengawali pendiriannya dengan kiprah besar Lomba Panjat Dinding Nasional atau LPDN. FPTI memiliki peraturan pelaksanaan lomba. Prinsip peraturan pelaksanaan lomba yang diutamakan adalah keamanan. FPTI menyediakan tim teknis penyelenggara lomba dengan sedikitnya dua pemangku kepentingannya sudah ikut kursus penjurian dan pelaksana teknis lomba regional Asia. Penyelenggaraan lomba pun dapat bernaung di bawah bendera FPTI, dan sejak 28 tahun lalu FPTI berkembang hingga ke kabupaten, di mana Cianjur pun memiliki Pengurus Cabang FPTI.

Meniliki ini artinya FPTI telah menjalankan fungsinya sebagai inisiator, regulator, fasilitator, koordinator dan dinamisator. Namun kecelakaan pada Selasa dua hari sebelum ulang tahun FPTI adalah bagian dari “setiap  bentuk kegiatan panjat tebing di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Penyelenggara lomba pada sekolah menengah di kabupaten ditenggarai tidak dibawah pengawasan bidang lomba FPTI. Sesuai regulasi FPTI, maka induk olahraga panjat tebing ini bisa lepas tangan. Namun jika menyelami seluruh paragraf dalam pembukaan Anggaran Dasar  FPTI saat berdiri, marwah panjat tebing yang aman bagi seluruh rakyat Indonesia yang harusnya terbaca. Boleh jadi perlu ditambahkan fungsi FPTI sebagai edukator.

*Penulis adalah mantan Sekretaris Umum PP FPTI 2007-2011.

Similar Posts