Bagian kedua dari dua tulisan Yoseph Wihartono mengenai perebutan prestasi menjadi pendaki musim dingin di K2. Gunung tertinggi kedua di bumi yang sampai hari ini belum berhasil dicapai puncak nya pada masa antara bulan 11 hingga bulan ketiga.

Drama Pendakian Winter

Pada ekspedisi K2 first winter ascent 2018 ini, drama ekspedisi ini terjadi ketika Denis Urubko keluar dari tim dan berambisi untuk menaklukan K2 sendirian sebagai first solo winter ascent K2, tentunya hal tersebut akan menjadi life time achievement baginya.

Sebelum ekspedisi ini dimulai, pada 27 Januari 2018 Urubko dan Adam Bielecki melakukan sebuah upaya rescue yang spektakular ketika terjadi kecelakaan di Nanga Parbat yang menimpa Tomasz Mackiewicz dari Polandia dan Elisabeth Revol dari Perancis. Urubko dan Bielecki dipanggil karena merekalah tim pendaki terdekat yang mampu mencapai basecamp Nanga Parbat dengan helikopter dalam waktu singkat. Revol berhasil diselamatkan, namun Mackiewicz tak ditemukan.

Denis Urubko adalah pendaki yang sangat hebat dan kemampuannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Beberapakali ia telah berhasil mencapai puncak 8000ers saat musim dingin dan telah 19 kali memuncaki 8000ers tanpa menggunakan oksigen. Pada 2006 ia juga memenangi Elbrus Speed Climbing.

Berawal Baik

Berdasarkan laporan dari Krzysztof Wielicki kepada situs Pendaki Himalaya Polandia setiap harinya, ia menyatakan bahwa sebenarnya ekspedisi ini dimulai dengan awal yang baik. Pada 19 Februari tim mampu mencapai ketinggian 7.200 mdpl, sudah setengah jalan menuju puncak dan telah melewati black pyramid, sebuah bagian teknikal di punggungan Abruzzi. Semua tampak lancar, tetapi mendadak dua hari kemudian suhu mencapai -80°F badai salju sekencang 200km/jam menyerbu dan memaksa seluruh anggota tim untuk turun kembali ke basecamp pada 22 Februari.

Pembangkangan Urubko

Krystof Wielicki pimpinan ekspedisi beda pendapat dengan pendakinya
Denis Urubko berpendapat Februari harus memuncak K2

Setelah badai mulai reda, tanggal 24 Februari tim mulai beranjak ke camp 1. Wielicki adalah pemimpin ekspedisi yang paling berpengalaman sehingga gaya kepemimpinannya cukup berhati-hati, hal tersebut nampaknya bertolak belakang dengan gaya eksekusi Urubko. Pada 25 Februari, Urubko mulai berselisih dengan anggota tim mengenai momen untuk summit attack. Ia brpendapat bahwa 28 Februari adalah batas akhir musim dingin, sementara anggota tim lainnya meyakini bahwa batas akhir musim dingin masih hingga pertengahan Maret. Perbedaan pendapat tersebut membuat Urubko geram dan memutus komunikasi dengan tim, lalu dengan nekat melakukan summit attack sendirian tanpa membawa alat komunikasi.

“What Denis has done is very selfish, Denis thinks it’s all about just him, but it’s not. He has put all of us in danger. If something goes wrong, of course we must try to rescue him,” ungkap Wielicki kepada Mark Jenkins, National Geographic, melalui telepon satelit.

Badai semakin menjadi-jadi, seluruh anggota tim yang berada di Camp 1 hingga 3 terpaksa kembali ke Basecamp. Urubko masih dalam perjalanan hingga di atas 7000mdpl, akan tetapi K2 tidak membiarkan dirinya ditaklukan dengan mudah pada musim dingin. Cuaca semakin buruk dan memaksa Urubko mengubur ambisinya untuk menciptakan sejarah. 26 Februari pagi Urubko membatalkan ambisinya dan akhirnya turun ke basecamp dan langsung meninggalkan timdengan kesan yang tidak mengenakan.

Badai Perusak Akhir

Awal Maret cuaca terlihat membaik, Wielicki mengirim dua anggota timnya (Adam Bielecki and Janusz Gołąb) untuk berangkat ke Camp 1 pada tanggal 4 Maret. Namun nahas, ketika Bielecki and Gołąb menuju Camp 1, semua fix rope rusak dan Camp 1 pun hancur akibat badai. Keesokan harinya Wielicki langsung membatalkan ekspedisi tersebut demi keselamatan seluruh anggota tim. Ramalan cuaca tidak memberikan mereka kesempatan lagi. Camp 2 dan 3 pun diperkirakan juga hancur. Akhir ekspedisi menandakan bahwa K2 tetaplah the last remaining dari serial winter ascent challange. [OCI]

FOTO UTAMA:

Rute pendakian Tim Polandia untuk musim winter 2018 di K2, Concordia, Pakistan. (dok. Nick Ryan, diolah Martin Gamache, NGM staff, sumber Wielicki)

 

Similar Posts