Jakarta – Aristides Katoppo dikalangan pencinta alam senior dikenal luas. Ia berada di lokasi saat musibah wafatnya Soe Hok Gie, pendiri Mapala Universitas Indonesia. Ia juga salah satu pendiri Walhi, organisasi masyarakat untuk lingkungan hidup. Aristides Katoppo juga dikenal wartawan senior tokoh koran Sinar Harapan.

Maret lalu TIdes, begitu ia dipanggil semua kenalannya-termasuk anak menantunya, berulang tahun ke-80. Emil Salim, Meutia Hatta, Marie Elka Pangestu, Rudi Badil dan banyak kawannya menuliskan dalam kesan yang dirangkum Eka Budianta, dalam buku Tides Masih Mengembara.

Senin (16/4) lalu di Auditorium Perpustakaan Nasional, buku Tides Masih Mengembara diluncurkan. Bersamaan perayaan ulang tahun. Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto memberi sambutan. Ia mengagumi Tides kala masih mahasiswa doktoral di Berkeley, karena wartawan ini menerbitkan isi surat Kennedy kepada pemerintah Indonesia saat akan menyerbu Irian Barat. Laporan itu dibaca Emil di New York Times.

Saat Emil Salim ditunjuk sebagai menteri lingkungan ia sempat bertanya ke Soeharto karena merasa tidak punya kapasitas dalam urusan ekologi. Soeharto, seperti dijelaskan Emil Salim, menyatakan dirinya juga tidak dipersiapkan menjadi Presiden, tokh  ia menjalaninya.

Saat Emil Salim, mulai berkantor di Bina Graha, tidak ada telepon, tidak ada sekretaris, ia sendirian. Tiba-tiba pintu ruangnya diketuk. Ternyata Tides masuk dan mereka ngobrol mengenai lingkungan hidup dan lainnya. “Saya mulai mengerti bahwa pekerjaan negara tidak selalu dilakukan pemerintah, tetapi masyarakat juga melakukan tugas negara,” ujar Emil mengenang. Ia mengaku mengerti pertama mengenai Masyarakat Madani dari Tides.

Cover Buku Tides Masih Mengembara. Kumpulan kesan kesan sahabat Aristides Katoppo, wartawan, pencinta alam, penggerak masyarakat Madani.

Eka Budianta yang berkisah paling seru. Ia ingat ketika bersama Tides ke Lampung saat gajah gajah mengganas. Teman-teman semua mengamankan diri dengan menaiki menara, Tides malah jalan mendekati gajah liar. Tides mau memotret , sayang filmnya habis, sementara gajah malah menerjang ke arahnya. Eka bercerita bahwa Tides memegang kamera kosongnya di tangan kiri dan tangan kananya mengarahkan telapak ke gajah yang menyerang. Ajaib, gajah berbalik meninggalkan  Tides.

Tides menjelaskan ketika ia masih enam tahun di Tomohon, Sulawesi Utara, rumah orang tuanya luluh lantak di bom saat perang. Seluruh perabot hancur, dan Tides kecil bertugas mengambil daun pisang dari jenis pohon yang “kate”. “Daunnya tidak mudah robek,”jelas Tides. Ia menceritakan setiap kali berjalan ke hutan ia berjumpa dengan berbagai satwa. “Macam macam ular saya lihat ada yang hitam, putih, belang dan ada cobra,” tuturnya. Ia menjelaskan ketika cobra berdiri bahkan lebih tinggi dari dirinya.

“Kalau kita polos, hati bersih, tidak takut, tidak niat jahat, alam pasti tahu,” jelas Tides. Ia pun menyampaikan terima kasihnya kepada semua kawan-kawan yang hadir dan mengingatkan untuk selalu mendengar dengan mata, melihat dengan hati. “Hati nurani yang kita pakai untuk mendengar alam,” tutupnya. (ads)

Foto Utama:

Tides bersama para pengulas buku saat menyampaikan pesannya untuk menjaga nurani (dok. Iwan Hignanto)

Similar Posts