Carstenz Indonesia

JAKARTA – Hari Kartini sudah lewat, tapi awan kelabu masih menghinggapi dunia Pendakian Indonesia. Erik Erlangga dikabarkan meninggal setelah mendaki Carstensz Pyramid (4.884 Meter) pada 16 April lalu. Hipotermia ditengarai menjadi penyebab Erik menghembuskan nafas terakhir. Erik dan belasan karyawan PT. Freeport Indonesia berencana merayakan Hari Kartini di Puncak tertinggi Indonesia. Namun sial tak dapat ditolak, cuaca buruk dan badai salju menghentikan langkahnya lima hari sebelum hari lahir Kartini tiba.

Carstensz Pyramid bukan gunung yang asing bagi Erik. Ia tercatat beberapa kali mendaki ke sana bersama karyawan Freeport lainnya. Tidak heran jika pada pendakian kali ini ia ditugaskan sebagai tim support peringatan hari Kartini bersama karyawan dan istri karyawan yang juga sebenarnya tidak asing dengan gunung ini.

Apa yang dikhawatirkan oleh setiap pendaki akhirnya kejadian juga. Cuaca kala itu sangat tidak tentu. Hujan salju disertai angin kencang menerpa mereka yang sedang antre turun dari puncak Pyramid. Menunggu pada kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang baik. Erik Erlangga terlihat melemah selepas tyrolean. Ia bahkan sempat istirahat lama di Teras Besar (4.600 meter).  Teman-teman Erik berinisiatif segera memberikan pertolongan saat berada di Lembah Kuning  (4.200 Meter). Sempat mengigau, kondisi Erik semakin lemah ketika ditenda. Akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir ketika hendak dibawa ke Tembagapura dari Bali Dump, Zebra Wall. Dokter mengatakan High Hypotermia menjadi penyebab kematiannya.

“Teman-teman Erik tetap melakukan pertolongan ketika Erik mengigau dan meronta dalam tenda. Setelah kondisinya melemah, kami melakukan evakuasi menuju Bali-Dump untuk selanjutnya ke rumah sakit di Tembagapura, namun nyawanya tidak tertolong.” Cerita Hayatdin, salah seorang karyawan Freeport yang mendapat cerita langsung dari teman-teman pendakian Erik.

Musibah ini mengingatkan kita di hari Kartini pada 1981. Kala itu, Hartono Basoeki (Pendaki dari Universitas Indonesia) gugur setelah menyelesaikan pendakian melewati rute baru sisi selatan Carstensz Pyramid. Ia mengalami patah tulang tangan ketika turun setelah ditugaskan mengambil bendera yang tertinggal 10 hari sebelumnya. Semalaman di dinding Carstensz Pyramid diterpa cuaca ekstrem membuat kondisinya semakin buruk hingga nyawanya tidak dapat tertolong. Cuaca adalah lawan abadi pendaki untuk mengenali batas diri selain dirinya sendiri. Karena alam tidak dapat dilawan, maka mengenali batas diri adalah hal paling bijak bagi setiap pendaki. (fir)

Similar Posts