Jakarta – Dibalik kerinduan Sumatera Barat atas kunjungan Presiden Joko Widodo tersimpan salah paham. Masa mahasiswa Presiden ketujuh Indonesia diisi dengan bergabung ke Silvagama, organisasi pencinta alam di kampus Kehutanan Universitas Gajah Mada. Ia pernah mendaki Kerinci, dan ini yang bagi anggota masyarakat Sumatera Barat membanggakan.

Saat pemberangkatan tim pendakian yang membawa papan nama pada 15 Februari 2017 dari jalur yang baru dibuka di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. (istimewa)

Beberapa anggota masyarakat pun berinisiatif menyambut kedatangan ini dengan menempatkan papan nama Puncak Joko Widodo di gunung tertinggi Sumatera yang terletak di perbatasan Sumatera Barat dan Jambi. Sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, penempatan papan didukung oleh Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Irwan Afriadi ketika menghadiri pelepasan pendakian perdana Gunung Kerinci via Solok Selatan di daerah Bangun Rejo, Kamis, 15 Februari 2018. “Ini merupakan bentuk apresiasi kita kepada beliau (Jokowi). Pada waktu acara HPN beliau melakukan promosi yang sangat luar biasa di depan 26 Duta Besar Negara Luar, banyak Menteri, dan dihadiri oleh ratusan Media Lokal, Nasional dan Internasional,” ujar Irwan.

Merebaknya kabar ini menjadi upaya pergantian nama puncak Gunung Kerinci (3.805m). Dua hari sejak pendakian pun reaksi menolak muncul dari pegiat pendakian di Jambi.  Puncak Kerinci biasa disebut Puncak Indrapura yang berarti titik tertinggi Sumatera. Kerinci memang gunung api tertinggi di Indonesia. Titik tertinggi di Sumatera sekaligus tertinggi setelah puncak puncak 4.000m di kawasan Papua.

Menurut berbagai sumber dari Solok Selatan, upaya menempatkan papan nama berawal dari ide menuliskan pesan untuk Presiden Joko Widodo sebagai berikut: “Pak Jokowi dapat salam dari 3805, kapan ke sini lagi.” Perdebatan untuk memberikan kata-kata yang lebih sopan akhirnya menimbulkan kekisruhan pergantian nama puncak gunung. (ads/berbagai sumber)

FOTO UTAMA

Penempatan papan nama di Puncak Indrapura (3.805m), Gunung Kerinci menimbulkan kisruh karena masyarakat Jambi menolak “pergantian nama.” (istimewa)

Similar Posts