CIBINONG – Bagi pemanjat tebing Jabodetabek, Kelapa Nunggal di Cibinong lekat dihati. Kelapa Nunggal sejak dulu lokasi latihan militer. Berada dekat dengan pabrik semen, akses ke lokasi pun mudah. Tebing bukit kapur di sana juga menggantung, beda dengan bukit Ciampea, salah satu lokasi panjat tebing warga Jabodetabek.

Climbing
Para sahabat almarhum Sumarno berkumpul kembali seperti dekade 90an ketika pembuatan jalur aktif di Kelapa Nunggal. (Erre Tasty)

Kelapa Nunggal sejak akhir dekade 80-an mulai digunakan untuk panjat tebing. Deden Depok yang memprakarsai pembuatan jalur di sana. Ia dan rekan-rekan panjat Jakarta kala itu bolak balik berlatih dan sekaligus membangun komunitas panjat.

Para pemanjat lama beberapa waktu lalu dikejutkan berita rekan mereka Sumarno meninggal. Tanpa sakit atau tanda lainnya, Sumarno meninggalkan istri dan dua putra. Bahkan rekan dekat almarhum merencanakan untuk anjangsana ke Krabi Thailand. Role model bagi panjat tebing dengan kawasan wisata yang memiliki ratusan jalur panjat.

Kejutan ini yang mendorong rekan-rekan almarhum Sumarno untuk memberi penghormatan terakhir dengan membuatkan jalur panjat baru di Kelapa Nunggal. Tempat Sumarno berlatih kala ia remaja. Putra Sumarno, Kelud, pun diundang dan menyaksikan Kamran Arlim, pembuat jalur asal Makassar yang aktif di Jakarta serta Jawa Barat kini.

Hingga jelang petang jalur baru selesai dibuat. Suatu monumen panjat tebing tuntas di Kelapa Nunggal yang selain sebagai penghormatan juga diharapkan mempererat persaudaraan antar pemanjat. (adiseno)

Foto utama:
Kamran Arlim memasang bor pengaman untuk rute sport climbing yang dedikasikan bagi almarhum Sumarno. (dok. Erre Tasty)

Similar Posts