festival semeru

Wujud Syukur Masyarakat Tengger

RANU PANI – Warga berkumpul memenuhi rumah Pak Bambang, Dukun Desa Ranu Pani, Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu (26/11) pagi. Hari itu, warga Desa Ranu Pani tengah bersiap untuk mengikuti acara Festival Semeru 2016. Acara yang baru pertama kali diadakan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Tengger kepada Tuhan, sekaligus untuk melestarikan kebudayaan Tengger.

“Acara ini merupakan murni inisiatif warga Desa Ranu Pani sebagai ungkapan syukur, sekaligus mengundang orang luar untuk datang ke Desa kami,” ujar Andi, salah seorang panitia penyelenggara.

Acara ini dihadiri oleh Pejabat Kabupaten Lumajang, termasuk Bupati Lumajang dan juga pemerintah Kecamatan yang menaiki kuda di barisan depan dalam arak-arakan. Warga lain mengikuti di belakangnya. Tampak pula warga yang membawa Tumpeng untuk diperlombakan dalam acara. Mereka dibagi berdasarkan RT untuk membuat satu tumpeng yang diperlombakan. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan semangat gotong-royong sesama warga.

festival semeru
(Dok. Yoni Astuti)

Di belakang arak-arakan, puluhan siswa SD menari kuda lumping dan bantengan, diikuti pula oleh rombongan penari dewasa yang juga menari kuda lumping. Kedua tarian tersebut adalah tarian khas Tengger yang digemari oleh pemuda. Di tengah perjalanan, sempat ada kejadian seorang penari mengalami kesurupan. Masyarakat Tengger percaya bahwa di saat penyelenggaraan hajatan semacam ini, leluhur akan datang dan ikut merayakan.

Arak-arakan dilanjutkan hingga lapangan Ranu Pani. Sesaat kemudian mata acara berlanjut dengan pemanjatan doa untuk keselamatan dan masuk pada acara makan tumpeng bersama atau yang disebut dengan Barikan. Keesokan harinya, acara Festival Semeru 2016 dilanjutkan dengan lomba membersihkan Danau Ranu Pani dari tumbuhan Salvinia (Salvinia Molesta) yang memenuhi danau. Rasa syukur yang juga dibalut dengan kepedulian terhadap lingkungan. (Rani Lukitasari/fir)

Foto utama: Dok. Yoni Astuti

Similar Posts