Jakarta – Ferry Saputra sudah tahunan mengelola Buniayu wisata goa teknis di kawasan Sukabumi. Musibah hilangnya 12remaja Thailand di Gua Tham Luang telah menjadi perhatian para pegiat atau cavers, spelunker. Menurut Ferry dari Taman Wisata Goa Buniayu, sulit sekali bagi penyitas untuk bisa membantu pencarinya  karena goa itu seperti labirin. “Jadi survivor goa biasanya menunggu,” jelas Ferry melalui komunikasi telepon saat dihubungi outdoor cafe Indonesia (OCI) Jumat (29/6) petang.

Sudah satu minggu sejak Sabtu lalu ketika 12 remaja pesepakbola dengan perlengkapan seadanya terjebak di dalam goa akibat banjir. Mereka hanya berbekal senter LED yang dapat bertahan berhari-hari sinarnya. Juga dikabarkan mereka membawa bekal makan, menurut satu rekannya yang tidak ikut masuk setelah pulang berlatih sepakbola.

“Boleh dikatakan ngga ada teknik survival di dalam goa,” jelas Ferry.  Ia menekankan pada persiapan perjalanan/bekal harus sematang mungkin. Ia juga menekankan para penelusur goa tidak memaksakan ego untuk melanjutkan perjalanan dalam persiapan yang tidak matang.

Bagi Ferry dalam kondisi di mana diperkirakan para remaja bertahan dalam ruangan, sulit bagi mereka untuk mencari jalan keluar sendiri. Bahkan beraksi memberikan bantuan kepada pencarinya juga tidak mudah. “Jalur evakuasi dalam goa biasa nya hanya lubang masuk dan lubang keluar,” jelas Ferry. Menurutnya yang bisa melakukan pencarian jalur keluar baru hanya dilakukan oleh caver karena perlengkapan dan teknik yang harus dimiliki.

Dalam kegiatan penelusuran goa jumlah minimum lima penelusur. Asumsi jika satu celaka akan di temani dua penelusur dan dua lainnya  minta pertolongan. Ferry pun menekankan pentingnya lampu karena merupakan alat bertahan hidup dalam kegelapan goa. (ads)

Foto Utama:

Ferry Saputra (tengah berbaju kuning) saat memberikan informasi mengenai wisata goa di Buniayu, Sukabumi. (danipictures.Wordpress.com)

Similar Posts