JAKARTA – Bagi Bima Saskuandra yang jelang setengah abad nama Alpina akrab. “Saya masih punya sleeping bag dari tahun 1993,” ujarnya. Ketika ia berkemah dan jumpa pemuda pendaki, mereka kerap bertanya tentang kantong tidurnya yang ekstra tebal. Bima yang juga ketua bidang organisasi Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) , kerap menjawab dengan canda, “ini lebih tua dari kamu.”

Merek Alpina memang dikenal luas para pecinta alam era 90an, dari abad lalu. Pendaki masa kini yang kalau kelahiran era 90, artinya sudah berusia seperempat abad, tidak banyak kenal. Tetapi ayah, paman, dan mereka-mereka yang berusia 40-an tahun kenal Alpina.

Fiona Callaghan (kiri) didampingi Hendricus Mutter pegiat petualangan terkemuka Indonesia dan Pithe salah seorang pengusung kembalinya Alpina. (adiseno)
Fiona Callaghan (kiri) didampingi Hendricus Mutter pegiat petualangan terkemuka Indonesia dan Pithe salah seorang pengusung kembalinya Alpina. (adiseno)

Kala itu, Alpina satu dari dua merek produsen ransel dan jaket untuk para pecinta alam. Hampir semua menggunakannya kala itu. Tidak sulit berada di puncak gunung Jawa dan menemukan logo berbentuk gunung dengan warna merah putih biru.

Lewat Indofest 2016 di Istora Jakarta, Alpina muncul lagi. Pojok kecil di sudut utara Istora, lambang legendaris terpampang. Harus  diakui produksinya masih berera baheula, beda dengan produk multi bahan yang kerap diterbitkan produsen era abad 21. Namun tidak kalah dalam menghentikan arus pengunjung, mulai dari yang akrab dengan Alpina, sampai yang muda seperti Fiona Callaghan.

Fiona yang masih muda,  presenter kegiatan outdoor sedang mempersiapkan perjalanan bersama kelompok media MNC ke Indonesia Timur. Ia pun menyempatkan menengok Alpina, yang menurutnya samar-samar ia kenal. “Kalau mau mengangkat lagi mungkin Alpina harus terlibat dalam event,” ujar Fiona kepada Pithe salah seorang pengusung resureksi Alpina. (adiseno)

Similar Posts