zero waste

JAKARTA – Zero waste, solusi untuk masalah sampah di Taman Nasional. Dimulai dari para petualang pelancong ke alam. Bukan sekadar bawa keluar lagi segala sisa kegiatan, tetapi juga menjadikan tidak ada yang tersisa.

Tidak ada sisa? Bukan berarti puasa dan  tidak MCK. Sofyan Arif Fesa, salah seorang seven summiter Indonesia membagi pengalaman mendaki Vinson Massif di Antartika. Disana ia membawa kantung plastik khusus untuk kotoran manusia. Kantung yang dibawa balik keluar dari gunung dan diolah.

Praktiknya sulit memang, tetapi caranya ada. Dan jika belum ada, bisa direkayasa melalui akal dan keterampilan. Saat ini zero waste masih utopia tetapi sudah mulai dijalankan.

Prinsip zero waste, nyeleneh dari sesanti lingkungan hidup yang reduce, reuse dan recycle.  Masalahnya terutama pada recycle karena proses ini menghasilkan sampah. Jadinya  untuk zero waste:  reduce, refuse, reuse.

Bagi petualang alam, yang paling mendekati adalah prinsip speed is safety. Bergerak cepat dalam batas kemampuan kita akan mereduksi waktu di alam hingga paling tidak selama di sana tidak ada sampah yang dibuang. Contohnya para pelari setapak –trail runner. Cukup bawa air dan camilan sehat dan menempuh rute pendakian yang oleh pendaki reguler bisa sampai berkemah, cukup dalam hitungan beberapa jam.  Menahan diri buang air, asli tanpa sampah.

Bagi kita yang reguler, tidak ada keistimewaan, bisa mengutip dari reduce dulu.

zero waste
Gunung sampah hasil buangan sisa pendakian di salah satu gerbang Taman Nasional Gunung Merapi. (adiseno)

Kurangi waktu di alam hingga logistik pun akan kurang. Artinya melatih diri agar waktu tempuh kita lebih baik dari sebelumnya. Jika ini belum bisa,mungkin karena enggan latihan aerobik dan core training, malas jogging, bisa dengan mengurangi beban. Artinya memilah bawaan hingga yang paling esensial saja.

Kurangi menu makan yang dimasak ganti dengan makanan matang. Ini tanpa mengurangi jumlah kalori tentunya. Subsitusi beras dengan pisang atau roti. Mendaki satu malam artinya, makan siang, malam dan pagi. Tidak perlu bawa kompor dan panci, ganti yang hangat dengan termos. Mengejar kalori dengan telur rebus, sereal dan susu kemasan. Pilih waktu pendakian di musim kering, cukup bermalam dengan matras sleeping bag dan fly sheet. Lebih ringkas lagi sleeping bag dan bivy sack.

Jika sudah mengurangi, kurangi lagi rencana perjalanan kita dengan prinsip refuse.  Pilah terus dan tolak semua yang tidak esensial. Jika belum siap bertualang karena enggan meningkatkan kapasitas dan keterampilan, yah terpaksa menolak ajakan sampai bisa. Jika masih emosional karena sudah beli kompor Trangia yang keren dan mahal, koq nggak dibawa? Jangan berangkat dulu.

Sikap refuse ini juga bisa tidak ekstrem, seperti yang dilakukan oleh para operator wisata pendakian. Mereka mengumpulkan seluruh mie instan yang dibawa. Semua dibuang bungkusnya dan dimasukan dalam packsack.  Menolak kemasan sudah menjadi langkah mendekati zero waste. Kotak plastik berbagai jenis bisa digunakan untuk menyatukan bawaan yang kerap dikemas secara individual.

Sikap refuse ini yang mengantar kita pada reuse.  Pilah bawaan kita dengan semua yang bisa dipakai ulang. Yang tidak bisa dipakai ulang, tentu saja kotoran manusia, tetapi jika menyimak share  Sofyan Arif Fesa, masih bisa sampah itu di-reuse. Asal kita bawa ke tempat pengolahan kotoran untuk composting. (adiseno)

Foto utama: Tumpukan sampah di Desa Selo, gerbang  pendakian Gunung Merapi, yang tidak bisa dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir di Boyolali, karena Taman Nasional Merapi adalah kawasan bukan kabupaten Boyolali. (adiseno)

Similar Posts