JAKARTA – Baru saja Februari lalu, Indonesia dinobatkan sebagai tempat menyelam terbaik di seluruh dunia oleh situs DIVE Magazine. Raja Ampat, Pulau Alor, dan Pulau Komodo jadi tiga teratas yang mengantarkan Indonesia mengungguli pesaing lainnya, termasuk Bahama dan Maladewa, dalam pemungutan suara secara online oleh situs ini. Sayangnya, awal Maret ini terumbu karang di salah satu lokasi menyelam utama di Raja Ampat harus rusak akibat terhantam kapal pesiar asal Inggris, MV Caledonian Sky.

Rusaknya terumbu karang seluas 13.532meter persegi ini bermula dari perjalanan Caledonian Sky menuju Bitung, Sulawesi Utara, pada 4 Maret 2017. Kapal ini sebelumnya mendapatkan izin untuk berlayar dari Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Laut Klas II A Jayapura di Papua pada 1 Maret 2017. Namun, di tengah perjalanan menuju Bitung, pukul 12.41 WIT, kapal kandas di perairan Selat Dampir, Raja Ampat. Tepatnya di titik koordinat 00o 30,992′ LS 130o 40,283′ BT.

Caledonian Sky adalah kapal dengan panjang 90,6meter dan lebar 15,3meter, serta berat 4.280ton. Menurut pernyataan kapten kapal, kapal kandas karena kapten kapal hanya memonitor GPS dan radar tanpa memperhitungkan pasang surutnya air laut serta kondisi alam perairan di sekitarnya. Kapal pun kandas di kedalaman yang lebih kurang hanya lima meter.

Noble Caledonia selaku operator segera memberikan tanggapannya terkait insiden Raja Ampat. “Kami bekerja sama dengan para ahli lokal untuk memahami bagaimana kami dapat membantu regenerasi terumbu karang. Kami menghargai hubungan kami di seluruh dunia dengan orang-orang lokal dan kami mohon maaf telah berdampak pada masyarakat setempat,” tulis pihak Noble Caledonia dalam situs resminya noble-caledonia.co.uk.

Menurut rilis, insiden ini adalah yang pertama kalinya dalam 25tahun pelayaran kapal-kapal milik Noble Caledonia. Selain meminta maaf dan berjanji mengganti rugi, perusahaan ini juga berencana mengirimkan tim ekspedisinya sendiri untuk membantu regenerasi terumbu karang.

terumbu karang raja ampat

Terumbu karang yang rusak akibat kejadian ini awalnya diperkirakan seluas 1.600meter persegi. Namun saat dilakukan peninjauan ulang di minggu kedua Maret, luas kerusakan mencapai 13.532meter persegi atau setara dengan 1,3hektar. Beberapa saat setelahnya, Ricardo Tapilatu selaku kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Perairan Pasifik Universitas Papua, turut mengeluarkan estimasi kompensasi yang harus dikeluarkan Noble Caledonia. Menurutnya kapal pesiar ini harus mengganti sebesar $800 hingga $1,200 atau setara dengan 11-15juta untuk tiap meter persegi. Estimasi tersebut salah satunya didasari pada jenis terumbu karang yang hancur dan waktu yang dibutuhkan untuk regenerasi.

Selain berbenah dari segi peraturan, segi lingkungan hidup maupun ekonomi juga perlu diutamakan dalam penyelesaian masalah Caledonian Sky. Terumbu karang bukan hanya menjadi daya tarik pariwisata Raja Ampat. Ekosistem pesisir kawasan ini mampu menyerap karbon hingga 10,5juta ton per tahun. Jika regenerasi terumbu karang membutuhkan waktu paling sedikit sepuluh tahun, bayangkan berapa banyak karbon yang terlepas langsung ke atmosfer selama proses regenerasi berlangsung.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga telah membentuk tim khusus untuk menangani penyelesaian kasus ini. Tim khusus terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Hukum dan HAM, Kejaksaan Agung, POLRI, dan Pemda. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan perihal tuntutan yang akan diajukan pemerintah Indonesia, baik terhadap operator Noble Caledonia maupun sang kapten kapal, Keith Michael Taylor.

Sejak munculnya insiden ini, pemerintah seperti berbenah kembali dengan sistem peraturan di kawasan perairan Indonesia. Mulai dari mempertegas aturan tentang batas labuh kapal yang akan memasuki kawasan konservasi perairan Indonesia hingga berapa berat maksimal kapal yang diperbolehkan masuk ke area perairan dangkal.

Baru dalam rilisnya, Kementerian Bidang Kemaritiman juga menyatakan harapannya agar setiap pelabuhan di Kawasan Konservasi di Indonesia menyiapkan boat pemandu kapal yang keluar masuk pelabuhan serta yang akan keluar masuk kawasan konservasi perairan (pilotage) serta jasa pemandu (guide). Ini menjadi penting sebagai pengamanan ganda setelah dibuatnya aturan tentang batasan dan berat maksimal kapal yang akan memasuki kawasan konservasi perairan.

Pun jika aturan sudah dibuat, masih belum ada kuasa menahan kapal dalam pelabuhan. Seperti yang terjadi saat Caledonian Sky diizinkan untuk melanjutkan pelayaran setelah terjadinya perusakan terumbu karang. Sebab, merujuk pada UU Nomor 17 Tahun 2008 pasal 222 tentang Pelayaran, Syahbandar hanya dapat menahan kapal di pelabuhan atas perintah tertulis dari pengadilan, baik karena kapal yang bersangkutan terkait perkara pidana ataupun perdata. Cepat tidaknya penyelesaian kasus sangat bergantung pada kegesitan pengambilan keputusan oleh pemerintah. (aulia rachmawati/berbagai sumber)

Similar Posts