Bandung – Bagi para pemuda Bandung kawasan utara pada dekade 60an merupakan arena petualangan. Jalan menuju Lembang, Tangkuban Perahu, atau Maribaya masih lengang dan rimbun. Sungai penyetor Citarum seperti Cikapundung masih deras dan bersih. Rumah batu hanya disekitar jalan raya ke Lembang. Selebihnya kampung dengan alam asri.
“Bagi kami menyusur Cikapundung sudah seperti petualangan,”tutur Yudi Suyudiman yang akrab dipanggil Kacus. Kami jalan di sisinya, tetapi Usol malah lompat lompat diatas batu. “Dia memang dari muda sudah gagah, berani dan terampil,” begitu Kacus menggambarkan yang sesungguhnya dinamai Saleh Sudrajat, kawannya dari SMP yang hari itu berulang tahun ke 66.
Kacus, menceritakan masa lalunya bersama Usol untuk mengantar acara bedah buku Menggapai Angkasa Nusantara. Buku yang mengisahkan keberhasilan Saleh Sudrajat menerbangkan pesawat trike PKS 205 dari Sabang sampai Merauke. Ekspedisi satu dekade lalu menjadi epik heroik karena Usol bukan penerbang, ia belajar sesaat sebelum ekspedisi yang berlangsung satu bulan dari pertengahan Mei hingga 18 Juni 2008 ketika ia mendarat di Merauke.
“Lompat dari batu ke batu, gagah pisan,” lanjut Kacus memudahkan kita membayangkan sosok yang kala remaja sudah tinggi besar seperti masa dewasanya. “ Kalau jatuh, dia langsung loncat lagi naik dan lompat lompat lagi dari batu ke batu,”Kacus langsung mengimbuhkan bahwa begitulah Usol sahabatnya. Berani, tidak mudah menyerah.” Makin jatuh makin gagah dia.”
Tekat kuat Saleh Sudrajat bagi Kacus sudah tampak dari masa remaja. Mereka sudah mimpi untuk jadi petualang. Jarak tempuh jalan kaki ke kawasan bukit bukit Bandung utara membutuhkan bermalam. Mereka pun mampir ke rumah anggota senior Wanadri, sekadar berteduh dan berharap disuguhi makan. “Begitu kami masa itu tidak punya uang ya jalan,” kisah Kacus dan,” selalu kami diberi makan.”
Begitu kuat semangat petualangan hingga mereka menjuluki kelompoknya Wanakli. “Kami ketika itu merasa tidak kalah dari Wanadri,”ungkap Kacus. Saat lulus SMA, Usol mendaftarkan diri masuk Wanadri. Sementara Kacus tidak seberani Usol yang menunda masuk sekolah demi Pendidikan Dasar Wanadri yang harus dijalani satu bulan penuh. Kacus pun masuk Wanadri, dalam angkatan sesudah Usol.
Jangan bayangkan Usol dan Kacus yang main bersama berasal dari satu rukun tetangga, atau satu bangku sekolah di Bandung. Kacus di SMP 5 sedangkan Usol SMP 9. Saat SMA Usol masuk SMA 2. “Memang Usol mudah bergaul, kawannya dari mana-mana,” jelas Kacus.
Usol menyarikan ide terbang Sabang Merauke ketika ia ikut dalam regu penyelamat akibat gempa di Jogya dan lainnya. Ia merasakan sulitnya mendata saat bencana. Dalam anganya menggunakan pesawat ringan akan memudahkan pemantau akses dan akibat bencana. Pesawat dengan lintas landas pendek adalah trike, terbang layang bermesin.
Ketika ia mulai mengutarakan idenya, banyak temannya skeptis. Bahkan teman-teman alumni SMA2 tidak paham mengenai trike. Mereka heran melihat pesawat itu saat ekspedisi mampir di Husein Sastranegara, ternyata Usol tidak dalam kokpit. “Seperti naik motor di udara,” ujar seorang kawan angkatan Usol.

Yudi Suyudiman akrab dipanggil Kacus merayakan bedah buku ekspedisi Saleh Sudrajat dengan membuka karakter sahabatnya. (dok. Wanadri/Luly)

Kacus yang mengenal kawannya punya tekat kuat dan tidak bisa dilarang sebetulnya skeptis juga. Tetapi karena mengenal karakter sobatnya ia mendukung.
“Dia itu nggak kekurangan, tetapi nggak kaya,” jelas Kacus. Ketika masuk masa pensiun yang pesangon digunakan untuk membayar pesawat trike. Masih kurang dan dapat bantuan. Selain harus beli pesawat untuk bisa berekspedisi, Usol pun sebulan menempuh pelatihan pilot di kawasan pantai dan berbukit agar segera bisa berlatih di medan yang akan disusurinya dari Aceh hingga Papua.
Jalur lingkar api dalam dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua dipilih untuk penerbangan Sabang Merauke. Para pakar penerbangan menjelaskan bahwa alur ke Papua tidak melalui jalur itu. Jalur itu hanya dipakai waktu Perang Dunia II, sekarang penerbangan melalui Makassar. Tekat kuat Usol lah yang membuatnya bertahan dan akhrinya berhasil melalui jalur Flores, Kisar, Dobo dan ke Papua mendarat di Timika.
Usol baru paham sampai batin kenapa para penerbang militer tidak menganjurkan jalur Dobo Timika. Hanya tekat kuat dan pantang menyerah yang membawa Usol mendarat. Angin dan hujan menyebabkan pesawat trike tidak terkendali ketika menyeberangi laut Arafura. Saat rekaman GPS (Global Positioning Satellite) diunduh terlihat alur terbang seperti benang kusut.
“Usol sudah pasrah,” begitu Kacus mengenang penuturan Usol. Namun tekat kuat dan pantang menyerah yang membawa Saleh Sudrajat mendarat. Mencapai bumi Papua dan lanjut mendarat di Merauke. Menuntaskan ekspedisi memperingati 100tahun Kebangkitan Nasional.
Begitulah Kacus menyimpulkan sahabatnya. (adiseno)

Foto Utama: Juni 2008 ketika Saleh Sudrajat singgah di Larantuka dalam Ekspedisi Trike melintas Sabang Merauke. (adiseno)

Similar Posts