zero waste

JAKARTA – Sudah terdengar larangan membawa air kemasan ke taman nasional. Sampah di taman nasional yang masuk kabupaten Boyolali, Mei ini kesulitan. Sampah yang dibawa keluar para petualang tertumpuk di gerbang. Tidak bisa lagi dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) karena pengelola tidak bisa menerima sampah bukan dari wilayah kabupatennya. Taman Nasional Merapi Merbabu masuk ke ‘pusat’ jadi tidak bisa dianggap wilayah Boyolali, sekalipun pendaki yang membawa turun adalah warga Desa Selo misalnya.

Taman Nasional Gunung Rinjani tergunjing oleh unggahan media sosial yang mengeluhkan kotoran manusia di sepanjang pendakian Rinjani. Si pengunggah, Matt Leggett sampai bersumpah tidak akan lagi mendaki Rinjani. Kabar ini beredar di grup Whatsapp Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia. Masalah yang juga dirasakan para pendaki di Gede Pangrango, di Semeru. Semuanya taman nasional.

Penanggulangan yang dilakukan para pendaki adalah secara berkala melakukan bersih gunung. Bahkan ada kelompok pencinta alam yang berupaya membangun tempat sampah di jalur dan lokasi perkemahan. Semua tidak menanggulangi masalah.

Ada beberapa taman nasional yang jalur pendakiannnya ‘bersih’. Jalur Ginza, di Alp Utara, rantai pegunungan Jepang di pulau Honshu, relatif bersih kotoran. Semua tertumpuk di toilet pondok pendakian. Jalur Marangu yang dikenal dengan ‘whiskey route’ yang nyamannya di Kilimanjaro. Toilet tersedia di pondok dan di jalur. Begitu pula Kinabalu di Malaysia.

Bukan berarti toilet dan fasilitas pondok pendaki tidak pernah ada. Ada, tetapi  tidak bertahan. Mulai dari masa penjajah di Kandang Badak, Gunung Gede Pangrango, sampai masa Republik di Lembah Suryakencana dan Lembah Mandalawangi hanya bertahan beberapa tahun saja. Sementara di Kilimanjaro, Kinabalu dan di Kita Arupusu, Alp Utara Jepang di Jalur Ginza sampai sekarang masih melayani kotoran pendaki.

taman nasional gunung rinjani
Taman Nasional Gunung Merapi dari Desa Selo, Boyolali. Keindahan yang menyimpan rincian kerumitan sampah yang tidak terlihat dari jarak jauh, namun dari dekat keindahan ini hilang menjadi sisa kotoran manusia petualangan. (adiseno)

Taman Nasional Merapi Merbabu, memilik program untuk memberdayakan masyarakat desa di gerbang gunung dengan bio gas. Melatih masyarakat untuk mengolah kotoran sapi menjadi gas metan untuk masak. Sekarang sudah jalan.

Di pondok pendaki Gunung Bugaboo, Canadian Rockies, tersedia toilet kering. Jumblung yang secara berkala ditaburi serbuk gergaji. Fungsinya untuk mempercepat pembusukan. Bisa juga menggunakan lumut gunung, seperti yang banyak di Lembah Mandalawangi. Atau  menggunakan coconut coir, sabut kelapa.

Di Kanada setelah toilet penuh yang dialasi oleh plastik heavy duty, kotoran manusia diangkat keluar. Begitu juga di basecamp Everest. Kotoran manusia ditampung di tong plastik bertutup. Semua diangkut keluar taman nasional oleh helikopter. Biaya di Everest, Taman Nasional Sagarmatha ditanggung oleh para pendaki dan wisatawan trekking. Diambil dari kutipan lingkungan hidup ketika membeli ijin trekking ke kawasan Khumbu.

Banyak cara yang bisa di-copy paste. Dan lebih banyak lagi yang bisa dilakukan negara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Taman Nasional. (adiseno)

Foto utama: Tumpukan sampah di Desa Selo, gerbang  pendakian Gunung Merapi, yang tidak bisa dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir di Boyolali, karena Taman Nasional Merapi adalah kawasan bukan kabupaten Boyolali. (adiseno)

Similar Posts