JAKARTA – Wisata Petualangan sudah masuk arus utama pariwisata Indonesia. Kementerian Pariwisata telah menetapkan prioritas pengembangan wisata petualangan. Diantaranya  hiking dan treking di Krakatau, Bromo Tengger Semeru, Rinjani, Bali, Ijen dan Komodo. Namun pemandu pendakian masih belum memiliki akreditasi selain dari pengakuan komunitas atau perusahaan yang mempekerjakan.

Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia yang nampaknya paling berhak memberikan kriteria dan syarat pemandu pendakian gunung baru berdiri Maret 2016. Walau demikian, Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sudah memiliki Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk Pemandu Wisata Pendakian Gunung.

Pemandu Treking _01
Hendricus Mutter (50) pemandu pendaki Indonesia yang bekerja di Carstensz Pyramid, memasak di kawasan Dolomite Alp Italia.

SKKNI Pemandu Gunung disusun bersama Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) sejak tiga tahun lalu. Beberapa asesor sudah pula dicetak BNSP, diantaranya Hendricus Mutter, Steven Liwe dan Gunawan Achmad atau Ogun. Ketiganya adalah pemandu yang biasa membawa tamu asing ke Carstensz Pyramid dan pendaki kaliber internasional.

Ada tiga unsur kompetensi dalam pemanduan gunung. Kompetensi umum, kemudian kompetensi fungsional atau kompetensi inti, dan terakhir kompetensi pendukung.

Kompetensi umum adalah unsur hospitality dalam kepemanduan wisata. Didalamnya terdapat unsur kerja sama dengan wisatawan dan kolega, menangani konflik, unsur K3 (kesehatan, keselamatan dan keamanan), serta tata cara kerja dalam berbagai lingkungan sosial.

Kompetensi inti merupakan teknik pendakian dengan mengutamakan keberhasilan dan keselamatan wisatawan. Terdiri dari 11 unsur. Diantaranya persiapan pendakian terbagi dalam tiga unsur: dokumen, logistik dan itinerary. Bagian selanjutnya adalah teknik pendakian yang terdiri dari tiga unsur, yakni menangani wisatawan, teknik pendakian dan komunikasi untuk petunjuk pendakian. Bagian ketiga adalah contigency dalam pendakian yang juga memiliki tiga unsur. Pertama kegiatan interpretasi mengingat banyak faktor di pendakian dapat mengubah pelaksanaan rencana pendakian, kemudian orientasi medan dan cuaca, dan ketiga penangan bahaya di gunung. Bagian akhir terdiri dari dua unsur yang menyangkut komunikasi pada pendakian, yakni penyampaian pesan dan laporan pendakian.

Kompetensi pendukung adalah kemampuan bekerja di usaha wisata. Mencakup lima unsur komunikasi, administrasi, komputerisasi, dan bahasa asing. (adiseno)

Similar Posts