pendakian kilimanjaro

Oleh: Hayatdin

KATHMANDU – Lukla, Nepal nama kota yang tidak asing bagi para pendaki dari seluruh dunia. Destinasi kota-kota Nepal menjadi titik tolak dan pertemuan para pendaki mereka datang menuju satu titik yaitu Everest atau Base Camp Everest di ketinggian 5.380mdpl (meter diatas permukaan laut). Dari Lukla sebuah kota di ketinggian 2.805m berbagai pesawat kecil berpenumpang 15-20 orang silih berganti mengantar pelancong yang sebagian adalah para pendaki. Kota Lukla berpenduduk asli Nepal keturunan india dan Tibet seolah kota yang tidak pernah sepi. Berbagai toko menjual berbagai perlengkapan pendakian dengan berbagai merk terkenal. Demikian juga hotel yang menyediakan berbagai fasilitas penginapan buat para pendaki.

lukla
Lukla di ketinggian 2850mdpl. (dok. Hayatdin)

Mari kita tinggalkan Lukla kemudian kita berjalan Solukhumbu di ketinggian 2.850m dengan waktu tempuh sekitar enam jam berjalan kaki. Gunung-gunung berselimut salju seolah mengiringi di setiap sudut mata memandang. Nafas terengah-engah makin terdengar nyaring seiring makin tinggi nya tanah yang kami injak. Langkah kaki terus di paksa agar bisa sampai tepat waktu. Sesekali terpaksa kami harus menghentikan langkah karena terjebak dengan kerumunan yak pembawa barang.

Akhirnya Phakding didepan mata kami mampir di salah satu lodge. Wah inilah kelebihannya kami tidak dibolehkan membuka tenda, tapi disediakan kamar bagai penginapan hotel. Jika mau  buka tenda pun tidak apa, tapi siapa yg mau tidur di tenda dengan suhu dingin dibawah sepuluh derajad, hmmm mending di kamar pakai sleping bag dan blanket alias selimut.

Pagi masih diselimuti kabut tebal udara dingin masih melekat dalam ruangan. Gopal guide kami yang asli Nsudah berteriak “zom-zom“, yang artinya “cepat-cepat.”  Jalan menanjak dan berbatu serta di kiri kami sungai berwarna biru yang berasal dari lelehan salju membuat mata menjadi segar. Jembatan gantung dengan penuh bendera warna warni nampak di kejauhan mengingatkan kami pada pedalaman Papua.

Jembatan gantung dua tingkat ini menjadi scene dalam film Everest, kisah pendakian si Rob yang membawanya ke summit namun harus di bayar mahal dengan kematiannya tujuh orang pendaki.

Selepas Phakding, perjalanan berikutnya adalah Namche Bazaar, kota kecil diatas ketinggian 3.440mdpl. Perjalanan menuju kesana disuguhi tanjakan dan pemandangan yang menawan puncak Amadablam dan Tree Sisters sangat jelas dan diselimuti salju diam membisu seolah memperhatikan langkah-langkah kami.

tenzing norgay
Patung Tenzing Norgay dan Everest di kejauhan. (dok. Hayatdin)

Kami sampai di tempat ini menjelang ashar atau pukul lima belasan waktu nepal. Seruput teh jahe mampu menghilangkan lelah seharian berjalan. Disini pun kami sudah disediakan kamar tidur. Tanpa membuang waktu kami langsung ngamar setelah makan malam. Suhu udara membuat tidur kami tidak begitu nyenyak. Di kota ini kami beraklimatisasi dengan berjalan turun naik ke museum Everest dan tugu Tenzing, sherpa pertama menaklukan Everest, serta ke pemukiman asli Nepal. Sungguh dengan tidak disangka kami bisa bertemu legendaris pendaki Everest Reinhold Messner, pendaki pertama tanpa oksigen di ketinggian 8.848meter .

Esoknya kami berjalan untuk menggapai Dengboche di 4.360meter. Di desa persinggahan ini kami bermalam semalam sebelum lanjut ke Duglha di ketinggian 4.600meter. Di Duglha kami tertahan badai salju dua malam. Angin disertai salju membuat gelap suasana di luar jalanan tidak terlihat. Tinggi salju hampir sedengkul orang dewasa. Temperatur di luar hampir minus sepuluh derajat. Sekawanan yak yang baru tiba mengangkat bahan bakar nampak memutih di seluruh tubuhnya dengan salju. Alhamdulillah keesokan harinya cuaca sungguh bersahabat setelah malam hari angin bagaikan suara kereta api.

Tanpa membuang waktu pagi-pagi guide kami kembali berseru “zom-zom“. Perjalanan menuju Gorakshep 5.150 meter dpl. Sisa-sisa salju akibat badai sehari sebelumnya membuat kami kepayahan berjalan. Nafas terasa berat dan kepala pun sedikit berat tanda ketinggian mulai menyerang namun dengan mengatur ritme semuanya bisa teratasi. Di pertengahan trek ini kami menjumpai tugu-tugu memoriam yang terbuat dari susunan batu. Tugu-tugu batu itu adalah memuat nama-nama para pendaki yang gugur di Everest antara lain Rob Hall, Scott Fisher, dan lain sebagainya.

In memoriam di jalur Gorakshep 5.150mdpl. (dok. Hayatdin)
In memoriam di jalur Gorakshep 5.150mdpl. (dok. Hayatdin)

Setiba di Gorakshep hampir jam dua belas siang waktu Nepal. Kami istirahat dengan memesan ginger tea . Di dalam lodge sudah ramai para pendaki rata-rata dari benua Eropah dan Amerika serta dari Australia.  Ginger tea kemudian spagheti tuntas kami lahap. Tubuh kembali terasa segar dan hangat kami pun bersiap menuju Everest Base Camp.

Kurang lebih dua jam dengan kondisi jalan berkelok serta dua tiga tanjakan. Trek ini mirip jalur pintu angin base camp Danau-danau di Pegunungan Jayawijaya.

Everest Base Camp kelihatan agak dibawah sehingga kami harus menuruninya dengan hati-hati di sela-sela batu-batu besar dan tajam. Pemandangan di sini lebih di dominasi oleh Khumbu Ice Fall-nya dengan sisi sebelah timur selatan bayangan Everest yang terus mengepul bak cerobong pabrik gagah sekaligus  ‘menyeramkan’. Disisi Khumbu glasier tenda-tenda berwarna kuning dengan bendera suatu negara nampak dari kejauhan sepertinya ada ekspedisi. Ditempat kami berfoto dan melampiaskan kegembiraan, Everest seolah-olah melambai-lambai serta memanggil untuk menapakinya. Hmmm.. ∆

Foto utama: Everest Base Camp, 5364mdpl. (dokumentasi Hayatdin)

Similar Posts