puncak Carstensz Pyramid

Bagi sebagian, mendaki Carstenz Pyramid adalah perjalanan mengenang sahabat.  Sebuah ritual ‘melayat’. Perjalanan anggota Mapala UI menuju Puncak Carstenz pada Juli 2016 ini pun menjadi momen untuk memasang kembali plakat Hartono Basuki, kawan yang tutup usia seusai mendaki Casrtensz pada 1981. Tulisan ini dibuat Redaksi Outdoorcafeindonesia.com untuk Kompas.com

Oleh: Adiseno

LEMBAH DANAU-DANAU – Bagi pendaki, ketika meniti bahaya, ada tali yang dipegang oleh rekan seperjalanan. Itu ikatan persahabatan yang kerap tak lekang diterjang masa. Begitulah makna pelakat peringatan gugurnya Hartono Basuki di pendakian Carstensz Pyramid pada  April 1981. Plakat yang terpasang pada tahun 1984, kemudian hilang, dan Kamis 21 Juli 2016, pukul 1 siang waktu Papua, replikanya terpasang ulang.

Hartono Basuki, Norman Edwin keduanya sudah tiada. Mereka pada 1981 mendaki sisi selatan Carstenszy Pyramid bersama Ita Budhi, Karina Arifin dan Hendiarto. Pada 10 April kelima anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) berhasil menjejakan kaki di puncak. Hari-hari pendakian di jalur baru meninggalkan lelah dan luka. Saat turun ke sisi utara di Lembah Kuning, walau disambut rekan yang menunggu, petaka Mapala UI tertinggal di lereng tebing.

Tono dan Hendi kembali ke atas hendak membawa pulang yang bagi Mapala UI pusaka. Bendera yang berkibar sepuluh tahun sebelumnya di Puncak Ngga Poloe atau Puncak Sukarno yang sekarang disebut Puncak Jaya. Tono saat turun tali, terpleset dan mengalami luka. Malam itu ia bertahan ditemani rekannya, tetapi malam itu, beberapa hari setelah keberhasilan mencapai puncak Tono gugur.

Ketika berada di Puncak Carstensz Pyramid, sebagaimana dituturkan Norman Edwin dalam tulisannya, mereka melihat peninggalan pendahulunya berserakan di puncak. Ada pecahan botol, di bawah batu puncak ada bendera Olimpiade Muenchen 1972 yang diduga ditinggalkan pendaki Jerman. Ada kaleng rokok State Express, di mana senior mereka di Mapala UI, Hendry Walandauw menorehkan namanya. Norman dan kawan-kawan pun meninggalkan kaleng Nivea, dengan menorehkan nama mereka.

Gugurnya Tono menimbulkan niat di Mapala UI untuk memasang plakat peringatan. Ide ini baru terealisir pada 1984 ketika Norman Edwin, Dondy Rahardjo, Achmad Rizali, Adiseno, dan Yadi Sugandi melawat ke Carstensz Pyramid. Kala itu plakat sekaligus menandai puncak Carstensz karena peninggalan para pendaki pendahulu kerap hilang tertiup angin. Menggunakan hand dril, alat manual pemasang baut di tebing, selama hampir satu jam tiga lubang dari empat yang direncanakan berhasil dibuat. Plakat pun terpasang dan sejak itu menandai titik puncak bagi penerus pendakian gunung tertinggi di Australasia.

Tahun-tahun berlalu. Sembilan tahun setelah pemasangan ketika anggota tim pemasang sempat kembali ke Carstensz plakat peringatan gugurnya sahabat masih menandai akhirnya pendakian. Namun ketika 21 tahun setelah pemasangan, kembali anggota pemasang plakat ke Carstensz Pyramid, plakat sudah hilang.

Kabar ini sudah beberapa tahun beredar di Mapala UI. Pada Juli 2016 ini, sekelompok anggota Mapala UI dengan didukung oleh PT Freeport Indonesia dan Pertamina, mendapatkan ijin mendaki ke kawasan Taman Nasional Lorentz di mana Carstensz Pyramid berada. Seregu pendaki dipersiapkan dengan peralatan bor listrik. Replika plakat peringatan gugurnya Tono pun disiapkan.

Pendakian Carstensz Pyramid Mapala UI
Fandhi Ahmad (kiri) dan Dedy Aloy (kanan) seusai memasang plakat mengenang Hartono Basuki (Dok. Dedy Aloy)

Akhirnya pada Kamis subuh 21 Juli 2016, Fandhi Ahmad, Firman Arif dan Dedi Alloy berangkat dari Lembah Danau-danau. Mereka menelusuri jalur normal, meniti tali pengaman yang terpasang. Fandi Ahmad sudah puluhan kali mendaki ke Carstensz Pyramid sebagai pemandu. Terakhir, Mei lalu. Firman Arif tahun2015 mencapai Carstensz Pyramid, ia bertugas membopong bor listrik. Dedi Alloy adalah rekan pendakian Norman Edwin. Ia bersama Norman adalah pendaki Indonesia pertama ke puncak Denali, tertinggi di Amerika Utara dan  puncak Elbrus, tertinggi di Eropa. Tiga kali sebelumnya Dedi pernah menjajal menggapai puncak Carstensz, ketiga kalinya ia gagal. Kini adalah kesempatannya keempatnya.

Saat lepas siang hari, Fandhi Ahmad, Firman dan Dedi berhasil mencapai puncak Carstensz. Mereka pun memasang plakat peringatan sahabat mereka yang gugur disebelah tempat yang lama. Bersanding bersama plakat-plakat lain yang sudah terpasang lebih dahulu, walau sebetulnya kemudian setelah hilangnya plakat orisinal.

Memang tanda persahabatan bisa saja lekang oleh angin dan badai yang menerjang puncak Carstensz. Tetapi semangat persahabatan harus bertahan lebih lama. Lintas generasi, karena ketiga pendaki Mapala UI ini berasal dari tiga generasi yang berbeda. Perbedaan sepuluh tahun diantara yang masing-masing tiga serangkai ini.

Similar Posts