pendakian aconcagua

JAKARTA – Conrad Anker tersesat di jalur pendakian. Ia berada lebih rendah daripada rencana jalur pencarian. Ia sedang dalam ekspedisi pencarian jasad George Mallory pada Mei 1999, atau 75 tahun setelah Mallory dan Irvine terakhir kali menghilang di balik awan menuju Everest, mimpi terliar manusia. Tak disangka justru rasa penasaran itulah yang menuntunnya melihat sebuah benda yang berbeda dengan salju bahkan batu di sekitarnya. Benda berwarna putih kontras. Itulah mayat yang membeku sekian tahun di lereng gunung. Anker meminta tim pencarian bergabung, segera dilihatnya sebuah tulisan dibalik kerah baju, di sana tertera dengan jelas sebuah nama, G. Mallory.

Adegan itu adalah nukilan dari pembuka film The Wildest Dream (2010), film semi-dokumenter yang menceritakan tentang pencarian jenazah George Mallory dan mimpinya mendaki Everest. Kadang mendaki gunung memang tidak untuk tujuan selfish demi pencapaian pribadi. Conrad Anker menunjukkan itu. Sudah belasan tahun berkarir di pendakian dan pemanjatan tanpa sekalipun mencapai Everest, justru ia merelakan diri mendaki Everest demi mengungkap misteri paling besar dalam pendakian yang belum pernah diungkap.

Dedi Satria mendaki serupa Conrad Anker. Tak pernah terbersit dalam dirinya menapak gunung-gunung tinggi. Hanya sebuah mimpi dan bayang-bayang berita mengenainya yang melekat. Tulisan-tulisan yang mengalir dari Norman Edwin dan Didiek Samsu yang dikenangnya hingga kini. Ia mengaku membaca kisah-kisah petualangan Norman dan Didiek, petualang Indonesia yang banyak berbagi lewat tulisan di masanya, sejak 30 tahunan silam. Termasuk berita kematian keduanya di Aconcagua tahun 1992 silam.

Dedi kemudian pergi mendaki gunung-gunung berpuluh tahun setelah kejadian Norman dan Didiek, bergabung dengan Mapala UI yang Norman dan Didiek menjadi bagian di dalamnya. Penghujung 2016 hingga awal 2017 ia bahkan memiliki kesempatan pergi ke Amerika Selatan, mendaki Aconcagua. Ini adalah pendakian pertamanya ke sana. Sekaligus menjadi yang ketiga dari tujuh puncak tertinggi di tiap benua, atau The Seven Summits yang dulu dipopulerkan Norman di Indonesia.

Segalanya memang berbeda di gunung tinggi, demikian keadaannya bagi Dedi yang manusia tropis. Di ketinggian lebih dari 4000meter segalanya menjadi lebih berat, terlebih mendaki Aconcagua yang terkenal karena anginnya yang kencang dan cuacanya yang tak bersahabat. Berjalan tak boleh cepat-cepat, harus perlahan agar tubuh menyesuaikan diri dengan ketinggian. Pun demikian halnya dengan minum yang harus rutin, 5 liter minimal per hari. Setiap pendaki sudah dijatah masing-masing, akan digeloggong jika jatah minum tak habis.

pendakian aconcagua
Plakat mengenang Norman Edwin dan Didiek Samsu di Aconcagua. (dok. pribadi)

Kesulitan Aconcagua nyatanya bukan hanya soal teknis pendakian. Masalah perizinan pun bisa menghambat. Dedi harus menahan deg-degan karena visanya tak kunjung turun. Baru 4 jam sebelum pesawatnya tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta, visanya keluar. Saat pendakian pun kesulitan non teknis bisa saja menghadang. Pemandu dari Amerika Selatan dikenal bisa sesuka hati tidak mengijinkan pendaki dari Asia Tenggara mencapai puncak.

Kesulitan-kesulitan itu tak membuat Dedi berhenti mendaki. Hari-hari pendakian terus dilalui dengan lancar. Dan di pendakian inilah ia bertemu dengan seseorang yang sekali lagi membuatnya berpikir tentang Aconcagua dengan cerita yang tertanam dalam pikirannya. Saat mendaki, ia bertemu dengan Sanchez, pria berusia 67tahun. Ia bukan sembarang orang, Sanchez menyimpan cerita yang diketahui persis oleh Dedi. Sanchez adalah orang yang bertemu dengan Norman dan Didiek saat keduanya berusaha untuk mengulang kembali upaya mencapai puncak Aconcagua. Sanchez pula yang memberikan saran bagi Norman dan Didiek untuk tidak melanjutkan perjalanan karena musim pendakian sudah berakhir. Artinya cuaca akan semakin menyulitkan manusia. Saran yang diabaikan oleh Norman dan Didiek, berakhir dengan kisah yang sama-sama kita tahu. Norman dan Didiek tak pernah kembali hidup-hidup dari Aconcagua.

Pertemuan dan cerita dengan Sanchez itu mendapat kesan khusus bagi Dedi Satria. Saat itu, ia tahu betul rasanya mendaki Aconcagua dan segala kesulitannya. Belum lagi cuaca yang bisa mencapai minus 37 derajat. Bagi Dedi, pendakian ini akhirnya bukan hanya untuk pencapaian pribadinya. Tetapi ia ingin berkunjung ke Aconcagua, untuk menjadi peziarah atas dua rekan yang tak sempat dikenalnya itu, dan kembali ke rumah dengan selamat.

Pada ketinggian 6380meter, nafas menjadi lebih susah. Jalannya semakin perlahan, pikirannya semakin banyak. Di Independencia inilah jazad Didiek Samsu ditemukan dahulu. Dedi terus mendaki puncak berketinggian 6960meter itu. Hingga di titik 6750meter atau tepat setelah tempat yang dikenal dengan nama La Cueva, sebuah cerukan mirip goa, Dedi mulai merasakan pusing. Di La Cueva itulah konon jazad Norman ditemukan. Dan kesulitan sekali lagi datang dari seorang pemandu yang menyuruhnya untuk turun. Pusing itu diabaikan Dedi, ia terus mendaki di belakang orang yang di sisa 200 meter itu terus meneriakinya supaya turun. 200meter terakhir itu menjadi ziarah pikiran bagi Dedi. Bayang-bayang mengenai peristiwa 1992, cerita-cerita dari saksi yang masih hidup, dan tulisan-tulisan yang dibacanya dulu semuanya bergiliran melintas di dalam pikirannya.

Toh akhirnya Dedi mencapai puncak juga, menuntaskan perjalanan dengan selamat. Pendakian yang sekaligus menjadi ziarah ini ia lengkapi dengan sejenak berkunjung ke tempat plakat peringatan Norman Edwin dan Didiek Samsu. Ia sempatkan mengenang, berdoa, dan mengingat kembali sosok yang dulu diakrabinya lewat tulisan. Tanpa disadari, Dedi berziarah 25 tahun setelah peristiwa gugurnya Norman dan Didiek itu lewat. Seperti Conrad Anker dan Dedi Satria, perjalanan ke gunung memang tidak melulu mengenai hasrat selfish yang menggebu. Berziarah adalah salah satunya. (fir)

Similar Posts