ogun roads to everest

SEMBALUN – Kami masih muda ketika berkenalan. Saya baru mendaftar di Mapala Universitas Indonesia, Ogun dilantik menjadi Anggota Muda Wanadri. Ini lebih 30tahun lalu. Kami saling dikenalkan karena teman angkatan Ogun di Wanadri berasal dari SMA saya. Kawan-kawan SMA saya mimpi jadi anggota Wanadri,ingin seperti Iwan Abdurachman.

Ogun pun seperti kawan kawan saya, punya mimpi. Ketika baru dua dekade di bumi kita biasa hidup dengan mimpi. Mimpi yang masih terbawa ketika kita bangun berangkat kuliah, bolos kuliah untuk naik gunung.

Pertemuan pertama kami, Ogun dan saya, sudah tidak saya ingat. Pertemuan yang saya ingat, ketika saya memanggul ransel besar, tali hawser yang kaku dan terselempang di luar ransel. Menunggu bus, Ogun muncul dan dia cerita tentang rencananya mendaki ke Nepal. Saya iri, mimpi kami sama. Saya masih mimpi berlatih ke Ciampea di tebing kapur. Ogun sudah bangun dan mimpi ke gunung salju.

Kala itu rencananya ke Nepal mendaki Everest masih mimpi. Namun, ia terbangun di Uttar Pradesh, negara bagian India yang menyimpan gunung salju deret Himalaya. Disana ia sekolah di  Nehru Institute of Mountaineering.  Sekolah pendaki di Kota Uttarkashi itu mengantar Ogun terbangun di mimpinya mendaki ke Himalaya. Gunung yang dekat di sana Vasuki Parbat pun ia sambangi. Saya, ketika itu sudah kerja sebagai wartawan baru. Dapat kesempatan bergabung dengan Ogun dan kami bertemu di perkemahan teratas, di punggungan kecil penuh salju.

ogun roads to everest

Ogun selalu mimpi ke Everest. Sejak pertemuan kami di halte saya tahu. Mimpi Everest Ogun pernah berjalan ketika ia berkesempatan menjajalnya dari utara. Ia sendiri bergabung dengan tim internasional. Ia bangun sebelum ke puncak. Kedua kalinya Ogun menjalankan mimpinya ke Everest, saya ikut. Kami bergabung dengan tim Prabowo Subianto. Kami berupaya mengalahkan Malaysia menjadi pendaki Asia Tenggara pertama ke Everest. Usaha pak Prabowo yang kala itu Danjen Kopassus berhasil. Sayangnya bagi Ogun puncak Everest masih mimpi.

Sekitar empat tahun lalu kami bertemu. Ogun tidak sehat, matanya terbelalak. Saya tidak tahu dia sakit apa. Teman setenda saya ketika kami harus mendaki ke Island Peak pada musim dingin dalam rangka latihan pendakian ke Everest. Kami dekat, tetapi seperti persahabatan laki laki, perkara isi hati tidak mudah keluar. Ogun punya kebiasaan bercanda. Ia akan mengatakan tingkah lucu seseorang yang membuat kami tertawa, kemudian ia akan menutup jokes nya itu dengan, “hehehe….nakal banget.”

Ketika kata-kata pemungkasnya keluar, artinya tidak ada yang serius lagi. Saya baru tahu keseriusan gangguan di mata Ogun dari kawan-kawan di Wanadri. Ogun menderita kanker nasofaring. Sudah stadium 4 hingga ia perlu kemoterapi.

Di jalan dekat Pancoran saya berpapasan dengan Tinus, anggota Wanadri yang lebih muda. Ia baru pulang menemani Ogun yang dirawat. Mendengar kabar itu saya pun menjengguk. Muka kawan saya itu gelap, matanya di perban. Ia cerita penyakitnya, dan saya menunggu kata kata pamungkasnya untuk mencairkan suasana, “hehehe….nakal banget.” Petang itu di rumah sakit, Ogun tidak mengatakan yang saya ingin dengar,

Jejak kami saling berpapasan lagi akhir akhir ini. Saya sempat bersama Ogun bertugas sebagai asesor pemandu wisata gunung di Manado. Ketika itu Ogun jalannya lambat. Naik tangga pesawat, mirip mendaki lereng 6.000meter, tiap dua tiga langkah ia mengambil nafas dalam. Mengumpulkan tenaga untuk langkah selanjutnya.

Pekan lalu, akhir Februari 2017, kami sejalur setapak. Diminta Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia menjadi pelatih portir dan pemandu gunung di Taman Nasional Gunung Rinjani. Ogun akhir tahun lalu mendaki Semeru, Arjuno, dan Merbabu. Ia menutup tahun dengan kembali ke Semeru. Saya senang, Ogun sudah seperti dulu, ketika mendaki ia selalu di depan.

Ia menceritakan ketika menjalani kemoterapi yang berkali kali, ia mulai mimpi lagi Everest. Mimpi yang diceritakannya kepada istrinya disuruh simpan. Namun, Ogun sudah balik seperti puluhan tahun lalu yang saya kenal. Ia mimpi sambil berjalan. Pendakian pendakiannya di akhir tahun adalah langkahnya untuk bisa mendaki Everest. Bulan April mendatang ia akan ke Langtang Himal, kemudian Agustus mendaki ke Elbrus, Rusia. Semua gunung diatas 5.000meter. Ia berharap ketika ia mencapai usia 60tahun, setahun lagi, ia bisa mencapai Puncak Everest.

Ogun yakin pada Law of Attraction. Apa yang dipikirkan, diungkapkan, akan menarik semua kekuatan untuk membangunkan mimpi. Teman teman pun berdatangan untuk membantu. Ada yang menyiapkan design dan membuat kaos merchandise untuk pengumpulan dana. Bukan murah mendaki Everest.

Ia ingin menginspirasi bahwa penyandang kanker stadium empat masih bisa mewujudkan mimpinya. Terima kasih sobat, saya sudah lupa untuk mimpi sambil berjalan. Teman-teman, mari bermimpi dan kala bangun mari bertindak, bantu Ogun. 

Foto utama: Bersama Ogun (kanan), jalan jalan sore mendaki bukit melihat Lembah Sembalun dari bukit kecil di sisi selatan. (adiseno)

Similar Posts