menuju puncak jaya

LEMBAH DANAU-DANAU –  Setiap gunung ada daya tariknya. Paling tidak buat awam, di lerengnya sejuk. Tidak sedikit kawasan wisata, peristirahatan, tempat bermalam berada di gunung. Ketertarikan ke puncak adalah jika ia tertinggi di satu wilayah. Puncak Jaya di khatulistiwa, menarik karena salju nya yang bukan endemis tropis.

Hanya ada tiga puncak gunung bersalju di kawasan khatulistiwa. Satu di Afrika, Kilimanjaro, kedua di Amerika Selatan, Cayambe, Chimborazo dan beberapa lalnnya, di Andes Ekuador. Ketiga adalah puncak Jaya yang oleh pendaki pertamanya A H Colijn disebut Ngga Poeloe.

Colijn menuliskan laporannya berjudul: menuju puncak salju abadi Belanda Tropis. Tekannya pada salju yang bisa turun di ketinggian gunung walau di daerah tanpa musim dingin. Salju itu terus ada karena berada di ketinggian, sama seperti medan salju es di gunung tinggi. Sayang sekali judul buku Colijn bukan ramalan yang tepat. Global Warming sudah mengubah wajah salju abadi di khatulistiwa.  

Naar de eeuwige sneuw, niet meer. Begitu pantasnya pendakian ke Puncak Jaya saat ini. Bukan lagi menuju salju abadi khatulistiwa karena sudah menipis sekali. 30tahun lalu, 1986 rombongan pendaki Mapala Universitas Indonesia, berusaha membuat jalur baru di dinding utara Carstensz Pyramid. Mereka gagal. Sebagai hiburan para pendaki ini ke Puncak Jaya, tertinggi kedua di kawasan Pegunungan Sudirman.

menuju puncak jaya
Mencapai bibir glasier pada pendakian 2016 membutuhkan dua jam dari kemah induk, yang sama dengan yang digunakan pada 1986. Pada waktu lalu, mencapai glasier hanya seperempat jam saja. (adiseno/outdoorcafeindonesia)

Juli 2016, tiga diantara anggota tim 30 tahun lalu kembali ke Puncak Jaya. Ade Rahmat, Dedi Alloy dan Adiseno. Pada saat pendakian ke Jaya, Dedi Alloy tidak ikut. Ia menyimpan tenaga untuk mendaki Carstensz Pyramid yang sudah tiga kali sebelumnya didatangi tanpa menjejakan kaki di puncak tertinggi antara Pegunung Himalaya dan Pegunung Andes, di kawasan Pasifik.

Membandingkan pendakian yang jeda 30tahun mudah sekali melihat susutnya salju khatulistiwa. Tahun 1986 hanya lima belas menit untuk berjalan mencapai bibir glasier. Sekarang ini membutuhkan dua jam mendaki celah tebing mencapai lidah glasier.

Pada masa lalu, di lidah glasier terdapat danau danau kecil dan lubang crevase. Jalan satu dua jam mendaki sudah tinggal lapangan salju atau snow field. Crevase jarang ditemui, terus hingga gundukan puncak. Tebing batu, dinding utara Puncak Jaya, sudah tersingkap namun dibawah dataran salju yang memang tertinggi. Jadi masih sama seperti foto-foto AH Colijn mengenai puncak Ngga Poeloe, Puncak Jaya adalah padang salju. Sedangkan sekarang ini, pada salju tertinggi, berjarak sekitar 200 meter dari singkapan batu pucuk Dinding Utara Puncak Jaya. Pucuknya berada lebih tinggi dari padang salju.

Kawasan salju yang susut, walau tidak diukur secara rinci dengan teodolit misalnya, bisa dikira-kira jauh lebih besar dari salju “abadi” yang tersisa. Artinya, jika  cuaca dan iklim tetap bertahan, dalam 30tahun, eeuwige sneuw-nya Colijn sudah tidak ada. (adiseno)

Foto utama: Mendaki ke Puncak Jaya pada Juli 2016 sampai jelang puncak masih terdapat patahan es salju yang disebut crevase yang tidak ada pada pendakian 30 tahun lalu. (adiseno/outdoorcafeindonesia)

Similar Posts