mendaki Carstensz Pyramid

TEMBAGAPURA – Kala itu pukul 07.00 Waktu Indonesia Timur. Kami sudah mendaki selama dua jam lamanya semenjak meninggalkan kemah. Kali ini kami tiba di tempat setahun lalu memutuskan untuk kembali ke kemah karena esok harinya harus mendaki Carstensz Pyramid, tujuan utama pendakian. Tepat setelah tempat ini, setahun lalu saya berdua bersama Ridwan mencapai ujung lidah es abadi Khatulistiwa di Papua.

Perjalanan dengan rombongan besar memakan waktu lebih lama. Kami baru tiba di ujung lidah gletser pada pukul 08.30 WIT atau satu setengah jam dari tempat tadi. Pemandangannya masih identik. Es yang dingin dengan lapisan yang terus menetes di ujungnya. Tak lagi menyentuh bebatuan di ujungnya karena berbentuk ceruk atau goa yang mengantung. Air lelehan es mengalir ke bawah mengisi cekungan kecil hingga danau.

Kontras, begitu komentar orang-orang yang pernah ke tempat ini 30 tahunan lalu. Adi Seno, Ade Rahmat, Agung Sutiastoro, dan Dedy Aloy yang bisa melihat perbedaannya. Selain penuturan mereka, saya juga bisa membayangkan betapa jauhnya perbedaan ini dari koleksi foto dari perjalanan terdahulu. Kala itu es masih menyelimuti bebatuan hingga dekat Kemah Induk. Hanya 15 menit jalan sudah sampai di batas es abadi.

Tahun 1972 adalah kali pertama orang-orang sipil Indonesia menapak di pucuk gunung berselimut salju di Irian Jaya (nama Papua kala itu). Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam klub mendaki gunung Mapala UI. Bertahun kemudian kisahnya saya baca dan dengar langsung dari sang pelaku. Keberadaan es dan salju abadi jelas menjadi daya tarik. Sejak sekolah dasar dulu guru selalu menerangkan bahwa Indonesia harus bangga menjadi satu dari tiga tempat yang memiliki salju meskipun berada di Khatulistiwa.

46 tahun kemudian, setelah peristiwa bersejarah itu, atas dukungan dari PT. Freeport Indonesia dan Pertamina saya dan rekan-rekan kembali berkesempatan berkunjung. Tapi perbedaan inilah yang harus saya hadapi. Kini butuh lebih dari 3 jam lamanya berjalan dari Kemah Induk baru kami tiba di ujung lidah es. Saya mendaki sisa salju abadi khatulistiwa. Bahkan di awal bukanlah salju, tetapi es keras yang licin jika diinjak tanpa menggunakan alat bantu crampon.

Penyusutan es ini tak cuma saya jumpai dari semakin naiknya batas gletser, sepanjang perjalanan di atas gletser saya banyak menjumpai craverse atau celah-celah kecil maupun besar. Artinya, lapisan esnya sudah berkurang jauh saat ini.

Keadaan puncak tak jauh beda. Dulu, puncak yang saya tapaki ini seluruhnya tertutup salju bahkan menjulur hingga batuan ujung utara yang dibatasi tebing. Kini, ujung batas batu itu terlihat jelas sementara esnya sudah menjauh sekitar 500 meter. Sekalipun salju terus turun selama saya mendaki, itu tak membantu keberadaan salju yang sudah leleh dan meninggalkan batuan sedikit demi sedikit.

Tak Abadi

mendaki carstensz pyramidPerbincangan pagi itu terjadi tak sengaja, satu hari menjelang pemberangkatan pendakian. Di Mess Hall, tempat makan karyawan PT. Freeport Indonesia saya bertemu salah seorang dari Departemen Enviro yang juga suka naik gunung, Kakak Joshua saya menyapanya.

Sembari makan pagi dia bercerita mengenai pengamatan yang dilakukan. Katanya, menurut potret udara terakhir tahun 2016 yang ia buat, salju di antara Puncak Ngga Poeloe (dikenal juga dengan Puncak Jaya) dan Puncak Soemantri berkurang sebanyak 5 meter setiap tahunnya. Hal itu juga berdasarkan penelitian dari Ohio State University tahun 2010 yang menaruh alat khusus di antara kedua puncak untuk mengamati lapisan salju di kawasan tersebut.

Pengurangan ini diamini oleh pendaki yang sering ke sana. Fandhi Ahmad misalnya. Pendaki yang sudah lebih dari 10 kali ke kawasan itu menyatakan bahwa perbedaan dari bulan Oktober 2015 hingga Mei 2016 saja sudah sangat kentara. Kenaikan suhu muka bumi ditengarai menjadi penyebab penyusutan massif ini. Tak hanya di Indonesia, Kilimanjaro misalnya sebagai tempat lain di Khatulistiwa yang memiliki salju. Penyusutan itu juga terjadi di sana.

Cerita tentang keberadaan sebuah daerah yang tertutup salju di Indonesia yang berada di Khatulistiwa yang dulu selalu dibanggakan dan diajarkan di sekolah bukan tidak mungkin akan menjadi sebuah dongengan semata. Terutama jika kita masih bertahan dengan gaya hidup yang mengancam keberadaannya. Setiap tindakan kita pasti berkonsekuensi terhadap yang lain. Menurut Ilmuwan James Lovelock, alam selalu mempunyai mekanisme memulihkan dirinya sendiri atau swa-kendali sehingga ia akan selalu bertahan. Bagaimana dengan manusia, dapatkah bertahan?. (firman arif)

Similar Posts