PALANGKARAYA – Setelah 9 Maret ini baru puluhan tahun lagi gerhana matahari total akan mampir di bumi Nusantara. Tidak syak lagi, ratusan bahkan ribuan pemburu gerhana mencari posisinya masing-masing di seluruh Indonesia. Ada yang ke Palembang, Belitung, Palangkaraya hingga Ternate. Dari semua pilihan, ketika tiket pesawat sudah dibeli, diumumkan BMKG ramalan untuk pekan ini dihampir semua wilayah berawan. Padahal sebelumnya, badan yang selalu tengadah melihat langit itu menyatakan makin ke Timur makin cerah.

Gerhana matahari
Saat gerhana menjelang total, kendaraan yang melalui jalan layang Tumbang Nusa menyalakan lampu layaknya malam hari (adiseno)

Palangkaraya adalah daerah gambut. Bahkan di tengah kota terdapat tempat wisata bertema lahan basah. Setapak dari papan kayu seakan jembatan layang menuju tetirahan. Bukan cuma kayu, yang dari beton pun ada, seperti jembatan diatas lahan gambut sepanjang 10km, Tumbang Nusa.

Menyaksikan gerhana di Palangkaraya berarti menyerap suasana gambut. Beda dengan di Palembang yang khas dengan Musi dan Jembatan Ampera, atau Bangka Belitung dengan batuan andesit di tepi pantai. Masingmasing memiliki kekhasannya sendiri.

Di Palangkaraya Irm. Harijanto Suwarno, seorang rekan telah lama bekerja untuk dokumentasi Yayasan Kemitraan. Ia menganjurkan untuk masuk ke pedalaman di desa wisata di Pulang Pisau. Berada diantara masyarakat Daya Nganju, disekeliling gambut dan menyaksikan kebesaran alam. Menyingkap malam di siang hari, walau hanya semenit.

Namun, keterbatasan waktu kembali ke Jakarta membuat usul ini terbengkalai. Pilih terbaik kedua adalah jembatan Tumbang Nusa. “Itu dibuat terus bertambah dan bertambah,” ungkap mas Pudyo Suhartono, mengenai jalan layang diatas gambut. Jalan yang menuju ke Banjarmasin merupakan nadi utama Kalimantan Tengah. Jika tidak mau stroke tentu harus lancar, karenanya diatas lahan gambut dibuat jalan layang. Sekelilingnya terbuka hanya semak dan air cokelat merah rawa, selebihnya langit.

Akibat gerhana yang tidak rutin, kacamata pencegah retina cedera lupa terbawa. Keliling Palangkaraya bersama tuan rumah kami mas Pudio, pensiunan UPT Kementrian Kehutanan, kami nyaris dapat ketika seorang pegawai kafe menjanjikan dengan harga dua kali lipat. Namun sampai gerhana mulai kabar kacamata minus lensa.

Tidak kehabisan akal kami mencari film bekas. Menyambangi toko-toko kamera dan cuci cetak foto. Satu toko dekat pelabuhan sungai dengan murah hati menyerahkan beberapa rol film hitam putih. “Bawa saja mas,” ujar petugas sambil menyerahkannya dalam kantong plastik. Ketika kami jelaskan bahwa filmnya harus terekspos sinar dan di-develope, ia menatap tajam dan mengatakan sudah tidak ada lagi bahannya, sudah kering sejak kamera digital muncul.

Gerhana Matahari
Para pengamat gerhana di Tumbang Nusa, Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada 9 Maret 2016 mencoba mengintip posisi gerhana menggunakan lembar plastik sampah. (adiseno)

Maka, rawa gambut, pantulan matahari diatas air jadi pilihan untuk mengintip gerhana. Beruntung ketika di Tumbang Nusa, beberapa pemuda menghampiri. Yoseph, bekerja di PLTU Pulang Pisau. Ia dan teman-teman mengeluarkan plastik sampah merobeknya dalam strip panjang untuk dijadikan kacamata buatan. Murah hati, ia tawarkan untuk menggunting bagian sisa. Selamatlah mata dari derasnya intensitas cahaya matahari.

Hanya saja, BMKG yang kadang kala mengecewakan, kali ini malah akurat. Doa teman untuk melengserkan ramalan BMKG tidak manjur. Pagi subuh hujan deras mengguyur Palangkaraya. Perjalanan saat matahari samar mengudara, mengubah tutupan awan menjadi lapisan awan tinggi. Harapan melambung, tetapi tiba di Tumbang Nusa, awan merajalela kembali. Sampai jam 6.20 ketika gerhana mulai, awan masih gagah menjaga sang mentari. Hanya beberapa menit sebelum total, tersingkap bundar cahaya yang tertutup bulan.

Hasilnya, pemandangan gerhana total lengser oleh awan menjadi parsial. Rekaman gambar menunjukan tidak ada bedanya dari Tumbang Nusa dengan teman-teman lain yang di Jakarta. Begitulah nasib para pemburu, kadang dapat kadang tidak. (adiseno)

Similar Posts