Bandung – Pada 18 Juni 2008, pesawat kecil yang disebut trike mendapat di Merauke. Saleh Sudrajat, anggota Wanadri, pegawai, anggota regu penyelamat disambut di sisi pesawat dengan nomor registrasi PKS 205. Sayap pesawat berupa kain berwarna merah putih. Bendera Indonesia telah berkibar dari Sabang sampai Merauke sejak Mei. Memperingati 100tahun hari Kebangkitan Bangsa.
Kisah heroik satu dekade lalu diterbitkan penerbit baru Media Data Centre Wanadri (MDCW). Keberanian, ketekunan, kegigihan, dan kekompakan membalut kisah yang melibatkan panjangnya Indonesia, besarnya bangsa penghuni Kepulauan Nusantara.
“Buku ini inspiratif, petunjuk pelaksanaan ekspedisi dan juga dokumentasi,” demikian disimpulkan Tendy Somantri, mantan wartawan senior harian terkemuka Jawa Barat, Pikiran Rakyat. Tendy membacanya untuk acara bedah buku. Ia memahami kompleksitas ekspedisi yang melibatkan para pendukung lapangan, perencanaan dorongan logistik. Bukan sekadar pesawat take off dan landing di sederatan bandar udara. Angan-angannya mengantisipasi buku teknis yang rumit. Ia malah menyatakan bukunya dibaca seperti novel, plot dan tokoh diuraikan dengan runut menggunakan kaidah New Journalism, melaporkan fakta dengan nuansa seakan pembaca berada di sana.
Gaya penulisan oleh Dyan Nuranindya ini juga dijuluki jurnalisme sastrawi Gaya ini membuat Tendy membandingkan karya non fiksi ini seperti film cerita. Dyan adalah sutradara, bahkan disandingkan dengan Clint Eastwood yang menyutradarai Invictus. Kisah Nelson Mandela yang mempersatukan negara dan bangsa Afrika Selatan yang harus berubah dari apartheid menjadi demokrasi sejati. Mandela memanfaatkan tim rugby dengan kaptennya yang kulit putih untuk maju menjadi juara dengan dukungan seluruh Afrika Selatan dari berbagai ras, politik dan gender.
Ekspedisi Trike sama menjalin persatuan Indonesia, diusung sendiri oleh Saleh Sudrajat, dikelola oleh Yemo Wakulu, ketua ekspedisi. Bukan saja untuk Wanadri, melainkan lebih luas untuk Indonesia. Saleh disandingkan dengan kapten tim rugby Afrika Selatan, sedangkan Yemo si pengendali setara dengan Nelson Mandela.
Irwanto yang lebih akrab dipanggil Item, mewakili penerbit MDCW. Ia menyatakan bahwa buku Menggapai Angkasa Nusantara menjadi terbitan perdana. Kisah Seven Summit Wanadri yang sudah lebih dulu disiapkan malah belum terbit.

Dian dan Vina penulis dan sinematografer dokumenter Ekspedisi Trike 2008 yang melintasi Nusantara dari Sabang sampai Merauke (dok Wanadri/Sarbini)

Sebagai dokumentasi, walau melalui satu dekade, buku ini tidak kadaluwarsa. Laporan teknis, perencanaan logistik yang melibatkan puluhan personil mendistribusikan bahan bakar minyak pesawat, dilampirkan di buku. Bagi mengkaji ekspedisi, mereka yang ingin memulai mewujudkan mimpinya menjadi petualangan, bisa memanfaatkan buku ini.
Inspirasi datang dari tokoh Yemo, Saleh dan karakter yang bertebaran dalam buku setebal 367 halaman dicetak sofa copy dengan ukuran 15X23cm.Bahkan salah satunya Rovina Mahulete menjadi inspirasi dalam inspirasi. Kala itu Rovina masih mahasiswi dan anggota yang jauh lebih yunior dari Yemo dan Saleh. Mahasiswi jurusan sinematografi dokumenter ini menjadikan rekamannya sebagai proyek akhir kuliahnya. Bahkan setahun setelah ekspedisi, karya dokumenter panjang ini yang susah payah dicarikan dana untuk post production berhasil meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia 2009. (adiseno)

FOTO UTAMA: Saat bedah buku Menggapai Angkasa Nusantara kisah non fiksi ekspedisi Saleh Sudrajat satu dekade lalu, pelaku utama kapten pilot Trike pada 24 Januari lalu berulang tahun. (dok Wanadri/Sarbini)

Similar Posts