puncak carstensz pyramid

TEMBAGAPURA – Tangis Dedy Aloy (53) pecah. Sesaat setelah ia tiba di ujung batuan sebuah daratan. Sebuah plakat bertuliskan 4884 m ia tepuk-tepuk beberapa kali. Ini adalah kali pertama ia tiba di Puncak Carstensz Pyramid yang merupakan puncak tertinggi di lempeng Australasia, tapi bukan usahanya yang pertama. Sejak mahasiswa dulu, ia sudah berusaha untuk ke tempat ini. Tidak hanya sekali, tiga kali ia gagal. Kegagalan berturut-turut itu membekas di dalam dirinya. Terbukti ketika sudah tiba di igir-igir menjelang puncak, ia mencoba kembali mengingat bagaimana peristiwa-peristiwa itu. Saya bisa melihat langsung dari matanya. Penuh harap. Dan ia berhasil mewujudkannya.

Saya yang sejak dari bawah tebing Carstensz Pyramid berjalan di belakangnya terus memperhatikan. Dalam setiap helaan nafas, usaha menambah ketinggian dibantu alat, hingga permintaan tolongnya untuk mengambilkan botol minum dalam ransel. Saya memperhatikan bagaimana usahanya mencapai gunung impiannya. Ada rasa lelah di sana, juga keinginan yang selalu melebihi rasa lelah tadi.

Rekan perjalanan kami yang lain, Fandhi Ahmad, yang berada di depan terus memberikan arahan tali mana yang sebaiknya dipakai. Tali di dinding Carstensz memang harus dipastikan baik sebelum dipakai. Dia yang sudah berpengalaman 9 kali menjejak puncak Carstensz Pyramid tentu sangat dibutuhkan pengalaman dan keberadaannya. Rasa aman adalah efek keberadaannya.

puncak Carstensz PyramidPerjalanan ini kami membawa misi, yaitu memasang plakat baru untuk mengenang Alm. Hartono Basoeki, rekan kami yang gugur tahun 1981 lalu. Tak banyak yang dapat saya tahu tentangnya. Hanya berdasar beberapa orang yang kenal dan akrab. Ia berperawakan kurus, seperti saya, menurut Paido Panggabean. Kala mendaki Carstensz Pyramid dulu ia masih muda. Keberaniannya besar. Apalagi mendaki Carstensz dari sisi selatan, jalur yang belum pernah dicoba didaki orang lain. Sayang ia tak sempat merasakan ucapan selamat dan menceritakan kisahnya kepada generasi masa kini seperti saya. Ia gugur kala itu.

Misi lain tentu mengantarkan Dedy Aloy menuliskan namanya sebagai salah satu orang yang berhasil mencapai puncak idaman ini. Kesempatan yang dinanti Aloy tiba setelah terakhir kali tahun 1991 ia mencoba mendaki Carstensz Pyramid ini. Waktu yang cukup lama untuk tetap memelihara sebuah impian. Tak percuma teman-teman yang mendapat dukungan dari PT. Freeport Indonesia dan Pertamina kembali mengajaknya mendaki. Ia mampu membuktikannya. Usia bukan halangan untuk mencapai impian.

Kali Kedua Kami Berdua

Setiap pendakian memang memiliki ceritanya sendiri. Meskipun gunung yang didaki sama, dengan teman yang sama. Selalu ada cerita yang menarik. Tak ada yang lebih menarik daripada cerita Dedy Aloy yang akhirnya berhasil mencapai puncak. Pencapaian kesepuluh Fandhi Ahmad juga terasa terlalu mudah untuk diceritakan. Ia memang sudah teruji jempolan naik Carstensz.

Secara pribadi, saya sendiri senang dengan perjalanan ini. Bagi seorang pendaki, yang lebih pemula terutama, tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding berjalan di belakang pendaki yang sudah kaya pengalaman. Pendaki gunung bukan pembelajar dibalik meja sembari berpikir membayangkan sebuah hal. Proses pembelajarannya terletak pada setiap perjalanan yang dilakukan. Maka taka ada yang lebih baik daripada belajar langsung kepada mereka yang sudah berpengalaman baik. Di perjalanan ini saya berada di belakang dua pendaki yang sudah sangat kaya pengalaman. Saya beruntung memiliki kesempatan ini. Tentu ada optimism untuk dapat mereguk ilmu sebanyak mungkin dari mereka.

Pencapaian ini adalah yang kedua untuk saya setelah baru berpengalaman tahun lalu mendaki Carstensz Pyramid. Kali kedua saya memiliki kenangan berada di tempat tertinggi negeri sendiri. Tapi tak hanya saya, perjalanan kali ini adalah kali kedua untuk mengenang sahabat kami Hartono Basoeki melalui sebuah plakat. Pertama ketika dulu plakatnya dibawa oleh Adi Seno, Norman Edwin, Ahmad Rizali, Dondy Rahardjo dan Yadi Sugandi pada tahun 1984.

Jadi, perjalanan ini adalah kali kedua kami berdua. Untuk saya yang kenangannya akan terus saya simpan rapi dalam diri sendiri, untuk Hartono yang abadi di pucuk negeri bagi kami. (firman arif)

Similar Posts