puncak pangrango

CIBODAS – Gunung Pangrango (3.019m)  sudah sejak masa penjajahan didaki. Catatan tertua oleh  Kuhl dan van Hasselt yang meneliti hingga ke puncak pada Agustus 1821. Mereka menemukan banyak jejak badak, bahkan menggunakan lintasan badak untuk memudahkan pendakian.

Diantara para peneliti yang pendaki Frans Wilhelm Junghuhn yang lebih dikenal hingga masa kini. Peneliti keturunan Jerman, mendaki Pangrango pada Maret 1839. Junghun menerbitkan buku perjalanannya di Jawa disertai ilustrasi yang dibuatnya. Di puncak Pangrango ia dan penduduk desa yang mengantarnya diabadikan sedang berbivak dan kawah Gunung Gede terlihat.

yunghuhn-gede-pangrango-drawing
Ilustrasi karya Frans Wilhelm Junghuhn (1809-1864) dalam buku yang diterbitkan mengenai perjalanannya di Jawa pada dengan judul Jerman, Java, seine Gestalt, Pflanzendecke, und sein innerer Bau (Pedalaman Jawa Dalam Cahaya dan Kegelapan) pada 1850 hingga 1854. (wikipedia)

Dari lukisan Junghuhn terkesan puncak Pangrango bukan hutan, hanya satu pohon tersisa. Lebih mungkin hutan yang menghalangi pemandangan dipangkas pengantarnya, untuk membangun bivak, kayu bakar dan memberi pemandangan. Pada akhir abad20, hingga awal abad baru kita ini, hutan di  Puncak Pangrango lebat. Rimbun menutup pemandangan ke arah Puncak Gede.

Namun pada 4 Agustus 2017 ternyata  pendaki kembali bisa menyaksikan pemandangan seperti yang dilihat Junghuhn. Rimbun hutan berselimut lumut telah terkuak. Para pendaki remaja bisa ber swa foto. Jika Kuhl harus mengikuti kuakan badak untuk memudahkan mencapai puncak Pangrango. Ini artinya hutan di Pangrango lebat. Melihat sekeliling puncak masa kini di mana pohon rata seakan berumur sama. Menjadi pertanyaan apakah terkuaknya rimbun hutan karena sengaja untuk memuaskan wisatawan gunung? (ads)

Foto utama: Pendaki remaja menyukai swafoto sebagaimana hampir seluruh masyarakat pengguna smartphone. Celah rimbun yang terkuak menjadi tempat idaman. (adiseno)

Similar Posts