masa pendidikan pencinta alam

JAKARTA – Saat bergiat di alam bebas, setidaknya ada dua bahaya yang mengintai para pegiatnya. Satu, bahaya yang berasal dari luar diri manusia, bahaya objektif. Kedua, bahaya yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, yakni bahaya subjektif. Alisar membagi dua bahaya ini untuk menekankan pentingnya pendidikan dasar pencinta alam. Pendidikan dasar yang dilakukan baik untuk regenerasi maupun untuk menjadikan anggota suatu kelompok sejatinya harus mengerti tentang bahaya ini. Oleh karenanya pendidikan dasar yang dilakukan adalah untuk menekan bahaya itu sekecil mungkin. Atau menjadikan para calon anggota akrab dengan bahaya. Sehingga secara garis besar ada tiga tujuan yang harus dicapai oleh peserta pendidikan dasar pencinta alam: pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Alisar yang berpengalaman menjadi Tim Tatib di Wanadri merasa bahwa sebenarnya tugas panitia dan pelatih yang lebih berat dibanding dengan para siswa. Sebab, tanggung jawabnya sangat besar, disamping kewenangan yang juga besar. Tanggung jawab itu meliputi tugas untuk memastikan bahwa semua materi dapat diserap dengan baik oleh siswa, dan yang tak kalah penting adalah memastikan keselamatan semua siswa. Pada akhirnya, keselamatan memang harus menjadi yang utama. Karena akan percuma semua materi, pengetahuan, dan keterampilan diberikan jika peserta tidak selamat.

Menyesuaikan Zaman, Menjawab Tantangan

Zaman terus bergerak maju membawa tantangan baru di dalamnya. Tak terkecuali untuk pendidikan dasar pencinta alam. Para terdahulu sudah menetapkan standar operasional prosedur dan ketetapan lain yang menjadi acuan bagi setiap panitia untuk menjalankan pendidikan. Sementara Ilmu Pengetahuan tentang petualangan juga terus berubah menandakan harus adanya perubahan dalam materi yang diberikan. Atas semua itu, tantangan di dalam pendidikan pencinta alam juga semakin berlipat ganda. Panitia harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Tetapi, justru bukan itu tantangan terbesar di dalam pendidikan pencinta alam. Alisar berpendapat bahwa tantangan terbesar di dalam pendidikan dasar pencinta alam, khususnya bagi organisasi Wanadri adalah regenerasi pelatih. Memastikan para pelatih terdahulu mentransfer seluruh ilmu dan keahlian yang dimiliki jauh lebih berat daripada menyesuaikan materi maupun metode. Sebab, peran pelatih sangat sentral di dalam pendidikan dasar. Materi dapat dipelajari di luar pendidikan dasar, apalagi saat ini informasi sudah berlimpah dengan internet yang pesat. Sementara ruh pendidikan dasar tidak bisa dipelajari di mana saja. Untuk menjaga ruh itu dibutuhkan keahlian. Dan tugas itu salah satunya ada pada peran pelatih.

Sementara, bagi organisasi pencinta alam yang memiliki latar belakang kampus, tantangan lainnya adalah masa kuliah dan ketatnya sistem kuliah. Semakin terbatasnya masa kuliah membuat ruang gerak organisasi pencinta alam juga menjadi terbatas. Hal itu juga berarti pada pendidikan dasar yang juga terbatas. Masa pendidikan dasar tidak bisa dilakukan dalam waktu yang lama. Oleh karenanya, organisasi pencinta alam berbasis kampus memiliki tantangan untuk membuat satu pendidikan dasar yang efektif dalam waktu yang sempit.

Dan bagi pencinta alam secara luas, tantangan masa depan yang harus dihadapi adalah keragaman metode yang digunakan dalam mendidik. Keragaman memang niscaya terjadi ketika dinamika di dalam organisasi pencinta alam juga beragam. Tetapi, ada satu hal yang harus menjadi catatan bagi para anggota pencinta alam yang hendak mengadakan pendidikan dasar, yaitu pemahaman. Kata paham tidak hanya sebatas paham materi keterampilan yang akan diajarkan, tetapi pemahaman menyeluruh tentang organisasi pencinta alam, pemahaman tentang kegiatan alam bebas dengan segala bahayanya, pemahaman tentang alam dengan segala tantangannya, serta pemahaman tentang manusia dengan segala keunikannya. Sehingga, cara-cara yang dilakukan tetap dalam koridor pendidikan, kemanusiaan, dan kehidupan.

Jika kata standarisasi terlalu terdengar muluk dan utopis serta mengkhianati dinamika yang unik antar organisasi, maka kata kesamaan pemahaman rasanya lebih tepat digunakan untuk menggambarkan solusi dari segala permasalahan pendidikan dasar pencinta alam. Kesamaan pemahaman yang menyeluruh akan membuat pendidikan dasar tidak kehilangan ruh sebagai tempat belajar dan menempa diri untuk memiliki pengetahuan, keterampilan, serta sikap sebagai seorang pencinta alam. Karenanya, ajang berkumpul dan berdiskusi seperti Gladian di masa lalu menjadi penting untuk menyamakan pemahaman. Ajang kumpul-kumpul itu juga sejatinya dapat digunakan sebagai ajang silaturahim dan menerobos sekat-sekat atas nama gengsi organisasi yang semakin tinggi hari-hari ini. (firman arif)

Foto utama: (dokumentasi Dedy Aloy)

Similar Posts