Berikut adalah penuturan pegiat alam setengah abad. Rute pendakian Taman Nasional menjadi ajang berlatih sekaligus menularkan kegembiraan mendaki kepada teman-teman. Tulisan terbagi dalam tiga bagian.

Bagian kedua dari tiga tulisan mengenai berlatih kebugaran di gunung :

Mendaki 1.000 Meter

CIBODAS – Sesampai di Cibodas, kami langsung mendaftarkan diri untuk ke Air Panas di pos pendaftaran pendakian TNGGP (1250 meter). Air Panas berjarak hampir sejauh empat kilometer dari pos pendaftaran dan berada pada ketinggian 2.170 meter, yang berarti kami akan mendaki dengan elevasi hampir 1.000 meter.

berlatih_kebugaran_mendaki
Istirahat sejenak merasakan segarnya udara pegunungan menambah riang gembira

Kami mulai mendaki pukul 9.00 dan sekitar 20 menit kemudian kami sampai di Telaga Biru, sebuah telaga kecil yang kadang berwarna biru dan lain waktu bisa berwarna hijau. Dari sini kami terus berjalan menuju jembatan yang dibangun diatas Rawa Ganyonggong, yang apabila cuaca cerah, memberikan pemandangan terbuka ke arah puncak Panganrango.

Walaupun sudah tak terhitung berapa kali kami melewati jalur trek ini, tetap saja kami bisa menikmati pemandangan dan suasana hutan tropis hujan yang kaya akan berbagai vegetasi.

Tidak berapa lama melewati jembatan ini, kami sampai di Pos Panyangcangan (1.640 meter), yang merupakan pertigaan, kekanan turun menuju air terjun Cibeureum dan ke kiri naik mendaki menuju Air Panas dan puncak gunung Gede dan Pangrango.

Konon menurut cerita pada jaman dahulu, Pos Panyangcangan merupakan tempat para kesatria yang akan bertapa ke gunung Gede mengikat kudanya di sini, karena harus berjalan kaki naik yang mana kuda sudah tidak mungkin lagi mendaki tanjakan yang terjal.

Dalam perjalanan menuju pos ini, kami banyak berpapasan dengan kelompok anak-anak muda yang juga naik maupun yang sedang turun kembali, dan mereka selalu dengan sopan permisi kepada kami dengan sapaan Pak ataupun Om. Disatu sisi kami berasa tua, namun disisi lain bangga juga bahwa kami, yang nota bene seusia dengan orang tua mereka, masih berkeliaran disini naik gunung.

Di Pos Panyangcangan ini kami beristirahat sejenak dengan buka kompor dan menyedu teh/kopi panas ditemani crackers/biskuit dan coklat. Ternyata bagi Gina, ini adalah pengalaman pertamanya beraktivitas di alam bebas dengan mendaki gunung dan sejauh ini sudah terkagum-kagum dengan pemandangan dan suasana dalam hutan hujan di TNGGP ini.

Melihat papan tulisan “Air Panas 2,8 km”, Gina menghitung cepat bahwa kira-kira dibutuhkan lagi waktu sekitar tiga jam untuk sampai di Air Panas, karena dari Pos Pendaftaran ke Panyangcangan yang berjarak sekitar 1 km dia menghabiskan waktu hampir 1 jam.

Setelah rehat sejenak di pos Panyangcangan ini, kami melanjutkan pendakian menuju Air Panas, dengan jalur trek menanjak yang bervariasi. DIsepanjang jalan banyak sekali guguran bunga puspa yang jatuh dari pohon puspa (Schima wallichii). Setelah melewati 6 pos peristirahatan yang memakan waktu hampir 2,5 jam sejak kami meninggalkan Pos Panyangcangan, kami sampai di Air Panas. (radjani panjaitan)

Similar Posts