Sukabumi – Riak air terdengar riuh berpacu dengan deru nafas. Tangan menggenggam erat dayung, dicelupkan masuk-keluar permukaan sungai, mencoba mengatur irama tim agar selaras.

Matahari tidak begitu panas, siang itu, tapi tetes demi tetes peluh terus mengalir di dahi menyatu dengan cipratan air sungai Citarik yang dingin menjadi bukti bahwa adrenalin yang terpacu juga membutuhkan energi yang tidak sedikit.

sama antar anggota dalam tim diperlukan dalam olahraga Arung Jeram (dok. Aisha Nadhira)

“Dayung mundur! Yang depan fokus!” terdengar suara Aditya, anggota tim selaku skipper memberi komando. Kami mulai mendayung mundur, memperlambat gerak perahu untuk memberi jeda sebelum memasuki jeram. Beberapa meter didepan terdapat jeram yang cukup besar. Terdengar suara gemuruh arus air yang bertabrakan. Kumpulan buih putih terlihat seolah menjulurkan lidahnya, menanti perahu kami datang dan siap menerkam.

Kuda kuda kami sudah mantap, perahu pun sudah diarahkan dengan lurus agar dapat melaju dengan mulus melewati si jeram yang menari-nari didepan. Alih-alih takut, saya justru semangat ketika melihat jeram didepan. Ada gemuruh adrenalin yang menggebu-gebu dari dalam diri saya, seolah ingin segera menabrakkan ujung perahu untuk menghadang ombak-ombak arus putih yang menantang didepan

Tak butuh waktu lama, derasnya arus sungai membawa kami menuju jeram hanya dalam beberapa detik saja. Perahu mulai meluncur dengan lihainya, mengikuti arus utama, melewati jeram, dengan tidak menghilangkan fokus barang sejenak pun, saya selaku pemegang peran sebagai pancung pada bagian depan, harus siap dan sigap untuk mengatur arah perahu. Begitu perahu mulai belok kearah kanan, saya mulai memancung perahu agar arah tetap lurus.

Bukan hal yang mudah membelokkan arah perahu diposisi melewati jeram besar. Dayung terasa berat, ditambah lagi batu batu besar yang menghadang di depan. Dibutuhkan tenaga yang maksimal untuk melawan arus air yang begitu deras. Begitu perahu sudah lurus, bukan pula berarti ada waktu untuk lengah . Kami yang berada di posisi depan harus kembali fokus untuk mengarahkan perahu menghindari pillow dan rock yang menghadang didepan.

“Maju kuat! Kita minggir dulu.” Aditya memberikan komando, kami mendayung dengan tempo cepat kearah pinggiran sungai untuk menambatkan anchor.

Olahraga arung jeram adalah olahraga dengan tingkat resiko bahaya yang  tinggi. Perhitungan mengenai resiko yang mungkin terjadi serta cara menanggulanginya harus sudah dipikirkan sebelum si perahu bertemu jeram.

Ketika terjatuh dari perahu, usahakan tetap tenang dan tidak panik agar tidak banyak energi yang terbuang sia-sia. Buat arah pandangan sesuai dengan arah arus air sehingga kita dapat melihat kondisi di sekitar. Jika arus terlalu deras, teknik renang defense bisa dipraktekkan. Renang defense menggunakan gaya punggung dengan arah badan sesuai dengan arah arus air, usahakan dayung berada diatas dada dan tidak berada didalam air karena akan menghambat pergerakan. Gunakan kaki untuk menghindari batu yang ada didepan. Ketika kondisi sudah memungkinkan untuk menepi, bisa dilanjutkan dengan renang offense ke pinggiran sungai.

Pentingnya pemahaman mengenai teknik dasar dalam self rescue serta prinsip prinsip dalam berkegiatan arung jeram akan menjadikan kegiatan arung jeram tidak hanya menyenangkan, tapi juga tetap mengutamakan keselamatan dan keamanan dalam berkegiatan.  Seperti kalimat Jo dalam buku Anything Worth Doing,  “Although you never controlled the river, you could control your ride.” (Azhari Shofiya)

foto utama : Anggota Mapala UI sedang melakukan pengarungan di sungai Citarik (dok. Salsabila Altje)

Similar Posts