Jakarta – Sudah lelah mendaki, tubuh tidak merasa lapar? Waspada Acute Mountain Sickness!

Kegiatan mendaki gunung adalah hal yang cukup populer untuk orang Indonesia. Bergiat di alam bebas menjadi tantangan yang menyenangkan untuk dilakukan. Sayangnya, ilmu bergiat di alam belum banyak dikuasai. Masih banyak pendaki gunung yang hanya bermodal hasrat tanpa mengindahkan resiko yang terjadi.

Acute Mountain Sickness (AMS) adalah salah satu altitude illness (Penyakit Ketinggian) yang umum terjadi. AMS dibagi menjadi tiga kategori, yakni ringan, sedang, dan akut.

Gunung-gunung Indonesia yang memiliki ketinggian 3.000-an meter, memiliki resiko terjadinya AMS ringan. Gejala dan tanda mulai terlihat beberapa jam sampai satu  hari setelah sampai di ketinggian. Hilangnya nafsu makan, sakit kepala, lelah, mual dan muntah, sesak nafas, dan tidur terganggu adalah gejala umum orang terkena AMS.

 

Berjalan dengan ritme konstan dan tidak terburu-buru dapat mencegah AMS (Acute Mountain Sickness)

Jika gejala tersebut sudah muncul, segeralah turun ke tempat yang lebih rendah untuk melakukan penyesuaian (aklimatisasi).

Daya tahan tubuh berbeda-beda antar orang. Untuk menghindari AMS, berjalanlah dengan ritme normal dan konstan tanpa harus terburu-buru.  Selain sekaligus proses aklimatisasi, berjalan pelan namun konstan juga membantu tubuh menyesuaikan dengan pergerakan agar otot tidak terkejut.

AMS juga didukung oleh kelelahan dan kurangnya asupan cairan tubuh. Biasakan untuk tetap mengkonsumsi air putih meski tidak terasa haus untuk mencegah dehidrasi. Tentukan waktu istirahat selama perjalanan dan patuhi jam-jam istirahat tubuh agar tubuh tidak kelelahan.  (sho)

Foto utama : Dokumentasi bkp Mapala UI 16

Similar Posts