Jakarta – “Naik gunung cuma butuh niat yang lurus dan uang yang cukup.” Celetuk seorang pemuda disebelah saya, disusul oleh gelak tawa beberapa temannya yang sedang asik mengunyah kacang kulit. Ransel berukuran jumbo dengan beberapa perintilan yang menggantung di bagian luar, sepertinya mereka memang akan mendaki gunung.

Niat adalah dasar, dan uang tentu saja sebagai penunjang. Tapi latihan dan pengetahuan, itulah yang menjadi roda gerak sebuah perjalanan pendakian. Kegiatan mendaki adalah kegiatan penuh resiko. Siapa saja yang ingin berurusan dengan hal yang memiliki resiko, harus memiliki modal yang cukup.

Niat untuk melakukan pendakian menjadi titik awal dari sebuah perjalanan. Perlu diketahui, perjalanan yang berhasil bukan hanya ditandai dengan keberhasilan mencapai puncak, atau keberhasilan untuk kembali kerumah. Keberhasilan perjalanan ditandai dengan bagaimana kita menikmati momen selama perjalanan berlangsung.

Perjalanan dapat dinikmati ketika tubuh masih memiliki energi untuk menikmati indahnya pemandangan, meski disuguhi oleh trek yang curam dan tanjakan yang tak selesai. Tubuh memiliki kapasitas, karenanya harus dibiasakan untuk melakukan aktivitas berat agar kapasitas kekuatannya semakin meningkat. Jika sudah terbiasa, tubuh tidak akan terganggu dengan curamnya medan atau beratnya beban ransel.

Pengetahuan tak kalah penting. Bobotnya sama dengan latihan, tanpa pengetahuan, resiko mendaki gunung menjadi berkali-kali lipat lebih berbahaya.

Pengetahuan mengenai medan yang akan dilalui penting untuk mencegah resiko tersesat (dok. Bkp 16 Mapala UI)

Pengetahuan umum pendakian terkait jalur yang akan dilewati, cuaca yang akan dihadapi, resiko-resiko penyakit yang mungkin terjadi, serta penanganan kasus yang tidak dihendaki adalah lingkup pengetahuan secara umum. Pengetahuan terkait manajemen tak kalah penting. Konsumsi, komunikasi, rencana pergerakan tim, peralatan, belum lagi kemampuan survival jika tak sengaja tersesat. Navigasi untuk menentukan arah. Menentukan tempat yang aman untuk sheltering, wah luas sekali lingkup dari pengetahuan.

Naik gunung memang menyenangkan. Tapi bukan berarti bisa dilakukan tanpa persiapan. Seorang bijak pernah berkata, saat kita gagal merencanakan sebuah perjalanan, maka artinya kita merencanakan sebuah kegagalan. Kalimat itu yang menjadi beban setiap kali seorang pendaki (yang memang mengerti akan pentingnya sebuah persiapan, tentunya) hendak memenuhi panggilan hasratnya untuk mendaki gunung. (sho)

 

Similar Posts