Kathmandu – Kapten Siddarth Tapa, pilot helikopter mengungkapkan mengenai lone line rescue.

Penyimaknya para pemandu gunung di pertemuan Federasi Asosiasi Pemandu Gunung Dunia – International Federation Mountain Guides Association (IFMGA) akhir November lalu. Bagi pemirsa acara televisi pendidikan kabel, Everest Rescue, Tapa mungkin dikenal.

Upayanya diliput dokumenter ini. Ia biasa berpasangan dengan Tshering Pande Bothe yang tugasnya bergantung di luar. Siddarth Tapa menjelaskan bahwa tidak mudah bagi helikopter untuk bisa mendarat diketinggian diatas 6.000m. Permukaan salju yang tidak rata, oksigen tipis tekanan rendah, angin kencang, suhu rendah.

Ini semua faktor yang membuat upaya pendaratan untuk mengangkut korban kecelakaan pendakian tidak memungkinkan. Di Pegunungan Alpen, Eropa Barat, kesulitan ini sudah ada solusinya. Meminjam upaya helikopter dalam mengangkut perbekalan dengan menggantung di bawah pesawat. Meniru aksi penyelamatan yang sudah jadi kelaziman di Coast Guard Amerika Serikat. Penyelamat digantung dengan tali panjang di bawah helikopter.

Kapten Siddarth Tapa dan Tshering Pande Bothe, kru penyelamatan long line rescue di Himalaya. (adiseno)

Penyelamatan yang disebut long line rescue, sekarang sudah lazim di kawasan Himalaya. Namun ini berawal dari musibah. Tomaz Humar pendaki terkemuka Slovenia. Sudah mendaki 1.500 puncak dunia, dan meraih penghargaan tertinggi pendakian Piolet D’Or untuk pendakian Ama Dablam tahun 1996.

Humar dikenal luas setelah mendaki solo dinding selatan Dhaulagiri (8.167m). November 2009, Tomaz Humar mengalami kecelakaan dalam pendakian persiapan di Lantang Lirung (7.227m). Ia berlatih untuk menjajal rute Hornbein di Everest. Tomaz Humar terjatuh berada diketinggian 6.300m dan berhasil mengontak pendukungnya di kemah induk dengan telepon satelit.

Pada tahun 2005 Humar pernah terjebak di Nanga Parbat, Pakistan pada ketinggian 6.000m. Setelah enam hari berlindung di gua es buatan ia berhasil diselamatkan kru helikopter tentara Pakistan. Sayang pada 2009 upaya penyelamatan tidak bisa dilakukan bahkan oleh pilot paling berpengalaman di Nepal, Sabin Basnyat dari Fishtail Air.

Basnyat tidak memiliki pengalaman terbang penyelamatan di ketinggian. Ia pun mengontak Air Zermatt, di Swiss yang memiliki pengalaman. Dua hari setelah kontak telepon satelit dari Tomaz Humar, pilot heli Swiss, Robi Andenmatten dan regu penyelamat long line, Simon Anthamatten dan Bruno Jelk tiba di Kathmandu. Mereka langsung diterbangkan Basnyat ke Lantang Lirung. Akhirnya Tomaz berhasil diturunkan, namun ia sudah tewas.

“Pengalaman buruk ini yang mendorong kami belajar ke Swiss,” ungkat Siddarth Tapa. Ia bersama beberapa anggota regu penyelamat, termasuk Tshering Pande Bothe akhirnya berhasil membentuk tim operasi penyelamatan ketinggian dengan teknik long line rescue. (adiseno)

foto utama : Tshering Pande Bothe penyelamat Nepal dengan teknik long line rescue bergantung di kawasan Kallat Pathar, Khumbu dekat puncak Everest. (dok.Manuel Bauer)

Similar Posts