GARUT – Tabu rasanya menelepon pesan makanan cepat saji di gunung. Walau karena malas untuk keluar atau membuat makanan sendiri. Bahkan menjadi ganjil ke toilet duduk sambil baca linimasa dunia maya.

papandayan
Ilustrasi peta : courtesy everytrail.com

Sudah menjadi lumrah jika di gunung semua makanan di masak sendiri. Bahan makanan dibawa dari tempat terakhir berkendaraan. Atau ber-MCK secara sembunyi-sembunyi dibalik semak.  Lebih dulu menggali lubang untuk kemudian ditutup lagi setelah selesai agar satwa tidak dapat mengendus keberadaan benda asing yang dapat mengganggu mereka.

Poinnya adalah, keberadaan manusia harus tetap selaras dengan lingkungan alam. Tidak boleh terjadi manusia menguasai seperti yang terjadi di kota. Padahal perlahan kota mulai padat, perputaran uang sangat cepat. Manusia berduyun-duyun menuju kota dan seketika itu pula mereka terseret arus kesibukan. Maka sejak saat itu kebutuhan melepas penat makin tinggi. Pada akhir pekan mereka akan menyebar menjauh dari pusat keramaian kota. Dan salah satu tempat yang dituju adalah gunung.

Kenyamanan adalah hal yang disasar. Selain ketenangan dan keindahan. Sementara, kepadatan dan kenyamanan adalah dua hal yang tidak saling bertemu bahkan nyaris bertolak belakang. Area kemping yang padat tidak memungkinkan orang untuk membuang kotoran di tempat yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan. Biolog mengatakan bahwa kotoran manusia membutuhkan waktu untuk diurai oleh tanah. Maka perlahan manusia menyesuaikan diri. Pihak pengelola kawasan gunung sebagai pemegang otoritas harus memutar otak agar kebutuhan manusia akan kenyamanan dan menjaga alam tetap lestari merupakan dua hal yang jadi pegangan.

Peluang ini juga dilihat oleh masyarakat sekitar kaki gunung. Tidak heran jika sekarang, seperti gunung Gede-Pangrango, Semeru, hingga Rinjani banyak warga sekitar yang memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan. Namun, dari banyak gunung populer yang ada di Indonesia, rasanya predikat “gunung bintang lima” hanya pantas diberikan kepada Gunung Papandayan yang berada di Garut, Jawa Barat.

Papandayan mampu menjawab tantangan wisata dan konservasi sekaligus. Bahkan dapat tetap menawarkan keindahan khas gunung. Berbeda dari banyak gunung, Papandayan memiliki fasilitas toilet yang sangat terjaga kebersihannya. Tarifnya pun tergolong murah, hanya 2.000rupiah. Jika selama ini orang banyak mengeluhkan soal toilet yang jorok di gunung, maka komentar itu tidak akan didapati di Papandayan. Selain itu konstruksinya terbilang ramah lingkungan. Terbuat dari anyaman bambu yang oleh orang Jawa disebut gedheg. Ada pula yang terbuat dari lapisan seng ringan yang dapat dilepas dan dibawa turun jika tidak digunakan.

Memang belum sampai pesan telepon makanan cepat saji, tetapi Papandayan sudah menyediakan warung menyajikan cemilan ringan bahkan minuman hangat untuk pendaki. Jadi mendaki tanpa bahan untuk memasak, di warung tersedia kebutuhan itu. Tidak perlu khawatir akan merasa kurang khidmat berkemah di Papandayan. Letak warung di tengah camping ground. Artinya, rasa sunyi dan dingin khas gunung tetap dapar dirasakan.

Keindahan Papandayan terbilang lengkap. Dimulai dari kawah aktif yang menyemburkan belerang pada awal perjalanan, dan dua tempat favorit yang biasanya dibuat spot untuk mengabadikan moment. Hutan mati menawarkan keindahan tanah kapur putih yang memantulkan cahaya kepada batang-batang pohon hitam tanpa daun yang seperti tertancap begitu saja. Suasana akan menjadi lebih mati saat kabut turun menggantung di ujung-ujung batang pohon. Sementara Tegal Alun memanjakan mata dengan pemandangan padang edelweis yang luas dengan bau bunganya yang sangat khas. Dan kabar gembiranya, semua tempat tadi dapat dicapai dengan jarak tempuh yang relatif dekat.

Jika ada ungkapan bahwa sesuatu harus dimulai dari yang paling mudah, maka untuk kegiatan naik gunung tepat rasanya untuk mengatakan bahwa Papandayan-lah gunung yang cocok untuk memulai petualangan yang panjang kemudian hari. Kemudahan, keindahan, dan yang paling penting kebahagiaan akan didapatkan satu paket. Mengajak keluarga juga merupakan pilihan. Selain meningkatkan kesehatan dengan rjalan kaki, family time akan benar-benar terasa karena tidak adanya gangguan sinyal telepon seluler. Kemudian foto dengan keluarga adalah pilihan terbaik. (firman arif)

Similar Posts